MAKALAH
MIKROBIOLOGI
Mikroskop, Bakteri, Kapang dan Khamir
Disusun Oleh :
Aura Siti Rahmawati
Kelas :
X Analis Kimia 1
SMK NEGERI 7 BANDUNG
MIKROSKOP
A.
PENGERTIAN MIKROSKOP
Mikroskop adalah alat
bantu yang digunakan untuk melihat dan mengamati benda-benda yang berukuran
sangat kecil yang tidak mampu dilihat dengan mata telanjang. Kata Mikroskop
berasal dari bahasa latin, yaitu “mikro” yang berarti kecil dan kata “scopein”
yang berarti melihat. Benda kecil dilihat dengan cara memperbesar ukuran
bayangan benda tersebut hinga berkali-kali lipat. Bayangan benda dapat
dibesarkan 40 kali, 100 kali, 400 kali, bahkan 1000 kali, dan perbesaran yang
mampu dijangkau semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi . Ilmu
yang mempelajari objek-objek berukuran sangat kecil dengan menggunakan
mikroskop disebut Mikroskopi. Mikroskop ditemukan oleh Anthony Van Leewenhoek,
penemuan ini sangat membantu peneliti dan ilmuan untuk mengamati objek mikroskopis.
B. FUNGSI
MIKROSKOP
Mikroskop
memiliki fungsi sebagai berikut :
- Fungsi utamanya adalah untuk melihat dan
mengamati objek dengan ukuran sangat kecil yang tidak bisa dilihat dengan
mata telanjang
- Fungsi lainnya dari mikroskop tetap akan berakar
pada fugsi utamanya, bedanya beberapa jenis mikroskop dibuat untuk fungsi
yang lebih detail, contohnya ada jenis mikroskop yang dibuat hanya untuk
mengamati satu jenis objek mikroskopis saja.
Intinya Fungsi mikroskop tetap untuk
mengamati objek dengan ukuran sangat kecil (mikroskopis) yang tidak mampu
dilihat dengan mata telanjang.
C. BAGIAN
BAGIAN MIKROSKOP
Agar dapat
menggunakan mikroskop kita harus mengetahui bagian-bagiannya terlebih dahulu,
untuk itu silahkan sahabat menyimak penjelasan kami tentang bagian-bagian
mikroskop ini.
Bagian
Mikroskop terbagi menjadi bagian Optik dan bagian Mekanik (Non-Optik)
Bagian-Bagian Optik
- Lensa Okuler, yaitu lensa yang terdapat di bagian ujung atas
tabung pada gambar, pengamat melihat objek melalui lensa ini. Lensa okuler
berfungsi untuk memperbesar kembali bayangan dari lensa objektif. Lensa
okuler biasanya memiliki perbesaran 6, 10, atau 12 kali.
- Lensa Objektif, yaitu lensa yang dekat dengan objek. Biasanya
terdapat 3 lensa objektif pada mikroskop, yaitu dengan perbesaran 10, 40,
atau 100 kali. Saat menggunakan lensa objektif pengamat harus mengoleskan
minyak emersi ke bagian objek, minyak emersi ini berfungsi sebagai pelumas
dan untuk memperjelas bayangan benda, karena saat perbesaran 100 kali,
letak lensa dengan objek yang diamati sangat dekat, bahkan kadang
bersentuhan.
- Kondensor, yaitu bagian yang dapat diputar naik turun yang
berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan
memusatkannya ke objek.
- Diafragma, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur
banyak sedikitnya cahaya yang masuk dan mengenai preparat.
- Cermin, yaitu
bagian yang berfungsi untuk menerima dan mengarahkan cahaya yang diterima.
Cermin mengarahkan cahaya dengan cara memantulkan cahaya tersebut.
Bagian-Bagian
Mekanik (Non-Optik)
- Revolver, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur
perbesaran lensa objektif yang diinginkan.
- Tabung Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk menghubungkan
lensa objekti dan lensa okuler mikroskop.
- Lengan Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat
pengamat memegang mikroskop.
- Meja Benda, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat
menempatkan objek yang akan diamati, pada meja benda terdapat penjepit
objek, yang menjaga objek tetap ditempat yang diinginkan.
- Makrometer (pemutar kasar), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau
menurunkan tabung secara cepat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari
gambaran objek yang diinginkan.
- Mikrometer (pemutar halus), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau
menurunkan tabung secara lambat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan
dari gambaran objek yang diinginkan.
- Kaki Mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi sebagai penyagga yang
menjaga mikroskop tetap pada tempat yang diinginkan, dan juga untuk tempat
memegang mikroskop saat mikroskop hendak dipindahkan.
D.
MACAM-MACAM MIKROSKOP
Secara Umum
berdasarkan sumber energi yang dimanfaatkan terdapat dua jenis mikroskop,
yaitu:
1. Mikroskop
Cahaya
Sesuai
dengan namanya, Mikroskop cahaya adalah jenis mikroskop yang memanfaatkan
cahaya sebagai sumber energi agar dapat memperbesar bayangan objek. Mikroskop
cahaya menggunakan lensa untuk memusatkan cahaya pada objek yang akan diamati.
Biasanya sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan Mikroskop cahaya untuk alat
belajar. Sumber cahaya yang dimanfaatkan bisa berasal dari cahaya matahari,
bisa juga berasal dari cahaya lampu. Biasanya mikroskop cahaya memiliki tiga
lensa objektif dengan masing-masing pembesaran lemah (4 atau 10 kali), sedang
(40 kali), kuat (100kali), dan lensa okuler pembesaran 10 kali. Jadi kebanyak
mikroskop cahaya memiliki pembesaran maksimum 1000 kali dari ukuran sebenarnya.
Mikroskop
cahaya ada yang hanya memiliki satu lensa okuler (monokuler) adapula yang
memiliki dua lensa okuler (binokuler). Mikroskop yang memiliki satu lensa
okuler umumnya hanya mampu melihat panjang dan lebar objek, sedangkan yang
memiliki dua lensa okuler bisa melihat objek secara 3 dimensi, yaitu panjang,
lebar, dan tinggi objek. Mikroskop Binokuler juga dikenal dengan nama Mikroskop
Stereo.
|
|
Mikroskop
Binokuler VS Monokuler
|
2. Mikroskop
Elektron
Mikroskop
Elektron adalah jenis mikroskop yang memanfaatkan elektron sebagai sumber
energi untuk memperbesar bayangan objek. Mikroskop Elektron menggunakan magnet
sebagai pengganti lensa, yang berguna untuk memusatkan sumber energi ke objek
yang akan diamati. Mikroskop Elektron mampu memperbesar objek hingga satu juta
kali ukuran objek sebenarnya, dan seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya,
kemampuan memperbesar objek ini akan terus berkembang seiring kemajuan
teknologi.
Ada dua
jenis mikroskop elektron, yaitu Mikroskop Transmisi Elektron (TEM) yang
cara kerja dengan menembuskan elektron terhadap objek, dan gambaran objek
terlihat pada layar.
Kemudian ada
Mikroskop Elektron Scanning yang dapat menampilkan gambaran 3 dimensi
dari objek dengan memberikan gambaran permukaan, jaringan, dan struktur objek
yang diamati.
Cara penggunaan Mikroskop
1. Letakkan mikroskop di atas meja, untuk memindahkan
mikroskop gunakan cara yang benar yaitu tangan kiri memegang lengan mikroskop
dan tangan kanan menopang kaki (dasar) mikroskop.
2. Putar revolver sehingga lensa obyektif dengan
perbesaran lemah berada pada posisinya satu poros dengan lensa okuler yang
ditandai bunyi klik pada revolver.
3. Mengatur cermin dan diafragma untuk melihat kekuatan
cahaya masuk, hingga dari lensa okuler tampak terang berbentuk bulat (lapang
pandang).
4. Tempatkan preparat pada meja benda tepat pada lubang
preparat dan jepit dengan penjepit obyek/benda!
5. Aturlah fokus untuk memperjelas gambar obyek dengan
cara memutar pemutar kasar, sambil dilihat dari lensa okuler. Untuk mempertajam
putarlah pemutar halus !
6. Apabila bayangan obyek sudah ditemukan, maka untuk
memperbesar gantilah lensa obyektif dengan ukuran dari 10 X,40 X atau 100 X,
dengan cara memutar revolver hingga bunyi klik
7. Apabila telah selesai menggunakan, bersihkan
mikroskop dan simpan pada tempat yang tidak lembab
1.
Bakteri
Bakteri adalah organisme uniselluler
dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik
(mikroskopis).
a.
Ciri-ciri
Bakteri
Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :
1. Organisme multiselluler
2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )
3. Umumnya tidak memiliki klorofil
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya
memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
6. Hidup bebas atau parasit
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau
gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan
b.
Struktur
Bakteri
Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:
1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula
penyimpanan
2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.
Struktur
dasar sel bakteri
struktur-bakteri1
Struktur dasar bakteri :
1. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan
polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram
positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila
peptidoglikannya tipis).
2. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas
lapisan fosfolipid dan protein.
3. Sitoplasma adalah cairan sel.
4. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein
dan RNA.
5. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang
dibutuhkan.
Granula
c.
Struktur
tambahan bakteri :
1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis
bakteri tertentu, bila
lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan
lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.
2. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang
menonjol dari dinding sel.
3. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang
menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek,
kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat
pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih
pendek daripada pilus.
4. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan
mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.
Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.
5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.
6. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram
positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi
kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan
ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan
endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia.
Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri
baru.
d.
Bentuk
Bakteri
Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan
spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut
kokobasil.
Berbagai macam bentuk bakteri :
1. Bakteri Kokus :
Kokus
a. Monokokus
yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal
b. Diplokokus
yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan
c. Tetrakokus yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat.
d. Sarkina yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus
e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan membentuk
rantai.
f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti
buah anggur
2. Bakteri Basil :
basil
a. Monobasil
yaitu berupa sel bakteri basil tunggal
b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan
c.
Streptobasil yaitu
beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai
3.
Bakteri Spirilia :
Spirilia
a. Spiral
yaitu bentuk sel bergelombang
b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti
sekrup
c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti
tanda baca koma
e.
Anatomi Bakteri
Bakteri tersusun
atas dinding sel dan isi sel. Disebelah luar dinding sel terdapat selubung atau
kapsul. Di dalam sel bakteri tidak terdapat membrane dalam (endomembran) dan
organel bermembran seperti kloroplas dan mitkondria. Struktur tubuh bakteri
dari lapisan luar hingga bagian dalam sel yaitu flagela, dinding sel, membrane
sel, mesosom, lembaran fotosintetik, sitoplasma, DNA, plasmid, ribosom, dan
endospora.
a.
Flagela
Flagela
terdapat salah satu ujung, pada kedua ujung atau pada perukaan sel. Fungsinya
untuk bergerak. Berdasar letak dan jumlahnya, tipe flagella dapat dibedakan
menjadi montrik, amfitrik, lofotrik, dan peritrik. Flagela terbuat dari protein
yang disebut flagelin. Flagella berbetuk seperti pembuka sumbat botol.
Fungsinya adalah untuk bergerak. Flagella berputar seperti baling-baling untuk
menggerakkan bakteri. Flagela melekat pada membrane sel.
b.
Dinding sel
Dinding sel
tersusun atas peptidoglikan yakni polisakarida yang berikatan dengan protein.
Dengan adanya dinding sel ini, tubuh bakteri memiliki bentuk yang tetap. Fungsi
dinding sel adalah untuk melindungi sel.


Di sebelah luar
dinding sel terdapat kapsul. Tidak semua sel bakteri memiliki kapsul. Hanya
bakteri patogen yang berkapsul. Kapsul berfungsi untuk mempertahankan diri dari
antibodi yang dihasilkan selinang. Kapsul juga berfungdi untuk melindungi sel
dari kekeringan. Kapsul bakteri tersusun atas persenyawaan antara protein dan
glikogen yaitu glikoprotein.
c. Membrane sel
Membrane
sel tersusun atas molekul lemak dan protein, seperti halnya membran sel
organisme yang lain. Membrane sel bersifat semipermiable dan berfungsi mengatur
keluar masuknya zat keluar atau ke dalam sel.
d. Mesosom
Pada
tempat tertentu terjadi penonjolan membran sel kearah dalam atau ke sitoplasma.
Tonjolan membrane ini berguna untuk menyediakan energi atau pabrik energi
bakteri. Organ sel (organel) ini disebut mesosom. Selain itu mesosom berfungsi
juga sebagai pusat pembentukan dinding sel baru diantara kedua sel anak pada
proses pembelahan.
e. Lembar fotosintetik
Khusus
pada bakteri berfotosintesis, terdapat pelipatan membrane sel kearah
sitoplasma. Membran yang berlipat-lipat tersebut berisi klorofil,dikenal
sebagai lembar fotosintetik (tilakoid). Lembar fotosintetik berfungsi untuk
fotosintesis contohnya pada bakteri ungu. Bakteri lain yang tidak
berfotosintesis tidak memiliki lipatan demikian.
f. Sitoplasma
Sitoplasma
adalah cairan yang berada di dalam sel (cytos = sel, plasma= cairan).
Sitoplasma tersusun atas koloid yang mengandung berbagai molekul organik
seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral, ribosom, DNA, dan enzim-enzim.
Sitoplasma merupakan tempat berlangsungya reaksi-reaksi metabolism.
g. DNA
Asam
deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, disingkat DNA) atau asam inti,
merupakan materi genetic bakteri yang terdapat di dalam sitoplasma. Bentuk DNA
bakteri seperti kalung yang tidak berujung pangkal. Bentuk demikian dikenal
sebagai DNA sirkuler. DNA tersusun atas dua utas polinukleotida berpilin. DNA merupakan
zat pengontrol sintesis protein bakteri, dan merupakanzat pembawa sifat atau
gen. DNA ini dikenal pula sebagai kromosom bakteri. DNA bakteri tidak tersebar
di dalam sitoplasma, melainkan terdapat pada daerah tertentu yang disebut
daerah inti. Materi genetik inilah yang dikenal sebagai inti bakteri.
h. Plasmid
Selain
memiliki DNA kromosom, bakteri juga memiliki DNA nonkromosom. DNA nokromosom
bentuknya juga sirkuler dan terletak di luar DNA kromosom. DNA nonkromosom
sirkuler ini dikenal sebagai plasmid. Ukuran plasmid sekitar 1/1000 kali DNA
kromosom. Plasmid mengandung gen-gen tertentu misalnya gen kebal antibiotik,
gen patogen. Seperti halnya DNA yang lain, plasmid mampu melakukan replikasi
dan membentuk kopi dirinya dalam jumlah banyak. Dalam sel bakteri dapat
terbentuk 10-20 plasmid.
i. Ribosom
Ribosom
merupakan organel yang berfungsi dalam sintesis protein atau sebagai pabrik
protein. Bentuknya berupa butir-butir kecil dan tidak diselubungi membran.
Ribosom tersusun atas protein dan RNA. Di dalam sel bakteri Escherichia
coli terkandung 15.000 ribosom, atau kira-kira ¼ masa sel bakteri
tersebut. Ini menunjukkan bahwa ribosom memiliki fungsi yang penting bagi
bakteri.
j. Endospora
Bakteri ada yang
dapat membentuk endospora, pembentukan endospora merupakan cara bakteri
mengatasi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Endospora tahan terhadap
panas sehingga tidak mati oleh proses memasak biasa. Spora mati di atas suhu
120 C. jika kondisi telah membaik, endospora dapat tumbuh menjadi bakteri
seperti sedia kala.
f.
Alat Gerak
Bakteri
Alat gerak pada bakteri berupa flagellum atau bulu cambuk adalah struktur
berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Flagellum
memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang menguntungkan dan
menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi kehidupannya.
Flagellum memiliki jumlah yang berbeda-beda pada bakteri dan letak yang
berbeda-beda pula yaitu
1.Monotrik:bila hanya berjumlah satu
2. Lofotrik : bila banyak flagellum
disatu sisi
3. Amfitrik : bila banyak flagellum
dikedua ujung
4. Peritrik : bila tersebar diseluruh
permukaan sel bakteri
g. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri
Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan ukuran
populasi.
Faktor–faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk
pertumbuhan optimum adalah :
1. Suhu
2. Derajat keasaman atau pH
3. Konsentrasi garam
4. Sumber nutrisi
5. Zat-zat sisa metabolisme
6. Zat kimia
Hal tersebut diatas bervariasi menurut spesies bakterinya.
h. Cara Perkembangbiakan bakteri:
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual
(vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri
adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.
Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan
bakteri lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.
Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1. Transformasi adalah pemindahan
sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel
bakteri yang lainnya.
transformasi
2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel
bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage
(virus bakteri).
Transduksi
3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara
langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara
dua sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.
Konjugasi
i.
Cara bakteri memperoleh
makanannya
Bakteri
dapat hidup di berbagai habitat sesuai dengan cara hidupnya. Ada yang hidup di
dalam tubuh organisme lainnya (hewan, tumbuhan, manusia), di air tawar, air
laut, tanah, sampah-sampah, pada sisa-sisa organisme yang sudah mati, dan pada
bahan-bahan makanan. Pada umumnya, bakteri akan tumbuh subur pada lingkungan
yang cenderung basah dan lembap, pada suhu sekitar 25°C — 37°C. Beberapa jenis
bakteri mampu hidup di lingkungan dengan kondisi yang sangat ekstrem, misalnya
terlalu asam, basa, panas, dingin, asin, manis, ada oksigen, maupun tidak ada
oksigen.
Bakteri Autotrof dan Bakteri
Heterotrof
1.
Bakteri Autotrof
Bakteri
autotrof (auto = sendiri, trophein = makanan) adalah bakteri yang dapat membuat
makanan sendiri dan senyawa anorganik. Untuk membuat makanannya, bakteri
memerlukan energi. Berdasarkan asal sumber energi yang digunakan untuk menyusun
makanan, bakteri dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri fotoautotrof dan bakteri
kemoautotrof.
a. Bakteri fotoautotrof
Bakteri
fotoautotrof (foton = cahaya, auto = sendiri, trophein = makanan) adalah
bakteri yang dapat membuat makanannya sendiri dengan menggunakan energi yang
berasal dan cahaya matahari atau melalui proses fotosintesis. Bakteri
fotoautotrof memiliki pigmen-pigmen fotosintetik, antara lain pigmen hijau yang
disebut bakterioklorofil (bakterioviridin), pigmen ungu, pigmen kuning
(karoten), dan pigmen merah yang disebut bakteriopurpurin. Contoh bakteri
fotoautotrof, antara lain Rhodopseudomonas dan Rhodospirillum (berwarna
kemerahan dan tidak menghasilkan belerang), Thiocystis dan Thiospirillum
(berwarna ungu kemerahan dan menghasilkan belerang), Chlorobium (berwarna
hijau, berfotosintesis bila ada hidrogen sulfida, dan menghasilkan belerang).
b. Bakteri kemoautotrof
Bakteri
kemoautotrof (chemo = kimia, auto = sendiri, trophein = makanan) adalah bakteri
yang dapat membuat makanannya sendiri dengan menggunakan energi kimia. Energi
kimia berasal dan reaksi oksidasi senyawa anorganik, misalnya amonia (NH3),
nitrit (HNO2), belerang (S), dan FeCO3. Contoh bakteri kemoautotrof, antara
lain Thiobacillus ferrooxidans, Cladothrix dan Leptothrix ochracea
(mengoksidasi ion besi), Nitrosomonas dan Nitrosococcus (mengoksidasi amonia),
Nitrobacter (mengoksidasi nitrit), Methanomonas (mengoksidasi metana),
Hydrogenomonas (mengoksidasi gas hidrogen), dan Thiobacillus thiooxidans
(mengoksidasi belerang).
Bakteri
yang mengoksidasi amonia (Nitrosomonas, Nitrosococcus) dan nitrit (Nitrobacter)
disebut bakteri nitrifikasi. Selain bakteri yang telah disebutkan di atas, ada
lagi satu golongan bakteri yang termasuk bakteri kemoautotrof, yaitu golongan
bakteri denitrifikasi. Bakteri denitrifikasi adalah bakteri yang mereduksi
senyawa nitrat menjadi nitrit dan nitrit menjadi amonia. Senyawa nitrit dan
amonia merupakan racun bagi tanaman. Proses denitrifikasi dapat terjadi bila
sirkulasi udara di dalam tanah kurang lancar. Golongan bakteri denitrifikasi
antara lain dari genus Pseudomonas, Microccus, Beggiatoa, dan Bacillus.
2.
Bakteri Heterotrof
Bakteri
heterotrof (hetero = yang lain, trophein = makanan) adalah bakteri yang
mendapatkan makanan berupa senyawa organik dan organisme lainnya. Bakteri
heterotrof dapat hidup secara saproba (pengurai), parasit, dan simbiosis
mutualisme.
a. Bakteri saproba (pengurai)
Bakteri
saproba adalah bakteri yang memperoleh makanan dengan cara menguraikan
organisme yang sudah mati atau bahan organik lainnya. Bakteri saproba merupakan
organisme pengurai (dekomposer) bangkai, tumbuhan yang sudah mati, dan sampah.
Bakteri saproba ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan bagi
manusia. Contoh bakteri saproba antara lain Escherichia coli (pengurai
sisa-sisa makanan di usus besar), Cellvibrio dan Cellfacicula (pengurai
selulosa di dalam tanah), Alcaligenes (saproba di dalam usus besar vertebrata
dan dapat menyebabkan kekentalan serta menimbulkan benang-benang pada susu), Beggiatoa
alba (banyak terdapat pada tanah yang tergenang air), Clostridium botulinum
(saproba pada makanan yang basi atau makanan kaleng dan menghasilkan racun),
Leucothrix (saproba di air laut yang mengandung sisa-sisa zar organik dan
ganggang), Aerobacter aerogenes (saproba di dalam usus besar vertebrata), dan
Lactobacillus casei (digunakan dalam pembuaran keju).
b. Bakteri parasit
Bakteri
parasit adalah bakteri yang mendapatkan makanan dari tubuh organisme lain yang
dirumpanginya. Bakteri parasit pada umumnya bersifat patogen (menimbulkan
penyakit) bagi tubuh inang. Beberapa bakteri patogen bersifat oportunis,
artinya bakteri tersebut hidup di dalam tubuh inang dan dapat menyebabkan
penyakit ketika sistem pertahanan tubuh inang melemah akibat berbagai faktor.
Conroh bakteri parasit, antara lain Corynebacterium diphtheriae (menyebabkan
penyakit difteri), Bordetella pertussis (penyebab batuk rejan), Francisella
tularensis (menyebabkan penyakit tularemia pada hewan dan dapat menular pada
manusia), Mycobacterium leprae (penyebab penyakin lepra), Mycobacterium
tuberculosis (penyebab TBC), Mycobacterium bovis (parasit pada lembu),
Chlamydia trachomatis (penyebab keburaan), dan Mycobacterium avium (parasin
pada unggas).
j.
Respirasi
Bakteri
Berdasarkan sumber O2 (respirasinya)
untuk merombak makanannya agar memperoleh energinya dibedakan :
a. Bakteri
aerob : bacteri
yang menggunakan O2 bebas untuk untuk respirasinya
contoh : Nitrosomonas, Nitrobacter, Nitrosococcus.
-
Bakteri Nitrifikasi
Melakukan
proses nitrifikasi, yaitu mengoksidasi amoniak menjadi nitrat. Nitrosomonas dan
Nitrosococcus (bakteri nitrit) adalah bakteri yang mengoksidasi ammonia (NH3).
Prosesnya sebagai berikut

Nitrobacter (bakteri nitrat) adalah bakteri yang mengoksidasi ion nitrit
(HNO2). Proses adalah sebagai berikut.
-
Bakteri Denitrifikasi
Bakteri ini berlawanan dengan
bakteri nitrifier. Bakteri ini mereduksi nitrat menjadi gas nitrogen:
Contoh, Pseudomonas auregenusa
b. Bakteri anaerob : bacteri
yang tidak dapat menggunakan O2 bebas untuk respirasinya. Energi diperoleh dari
proses perombakan senyawa organic yang tanpa menggunakan oksigen yang disebut
fermentasi. Bakteri anaerob dibedakan menjadi anaerob obligat dan anaerob
fakultatif.
-
Bakteri anaerob obligat, hanya dapat hidup jika tidak ada oksigen. Oksigen
merupakan racun bagi bacteri anaerob obligat. Contohnya adalah Microccocus
denitrificans, Clostridium botulinum, dan Clostridium tetani.
-
Bakteri anaerob fakultatif, dapat hidup jika ada oksigen maupun tidak ada
oksigen. Contohnya Escherichia coli dan Lactobacillus.
k.
Peranan
Bakteri
Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan maupun
yang merugikan.
a. Bakteri
yang menguntungkan adalah sebagai berikut :
1. Pembusukan (penguraian sisa-sisa
mahluk hidup contohnya Escherichia colie).
2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya Acetobacter pada
pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt,
Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco dan Lactobacillus casei pada
pembuatan keju yoghurt.
3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu
Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman
kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.
4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan dalam
proses nitrifikasi menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.
5. Penghasil antibiotik contohnya adalah Bacillus polymyxa (penghasil
antibiotik polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, Bacillus
subtilis penghasil antibioti untuk pengobatan infeksi bakteri gram
positif,Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan
bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus
penghasil antibiotik terasiklin untuk berbagai bakteri.
6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium
acetobutylicum
7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga
menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya methanobacterium
8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam
bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang
disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.
b.
Bakteri yang merugikan sebagai berikut :
1. Pembusukan makanan
contohnya Clostridium botulinum
2. Penyebab penyakit pada manusia contohnya Mycobacterium tuberculosis (
penyebab penyakit TBC ), Vibrio cholerae ( penyebab kolera atau muntaber ),
Clostridium tetani (penyebab penyakit tetanus ) dan Mycobacterium leprae
(penyebab penyakit lepra )
3. Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis (penyebab penyakit
antraks pada sapi )
4. Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya Pseudomonas solanacearum
(penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terung dan tembakau) serta
Agrobacterium tumafaciens (penyebab tumor pada tumbuhan).
l.
Mengamati
Morfologi Koloni Bakteri
a.
Pertumbuhan pada Cawan Petri
Ciri-ciri yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :
·
Ukuran; pinpoint/punctiform (titik)
Small (kecil)
Moderate (sedang)
Large (besar)
· Pigmentasi : mikroorganisme
kromogenik sering memproduksi pigmen intraseluler, beberapa jenis lain
memproduksi pigmen ekstraseluler yang dapat terlarut dalam media
· Karakteristik optik : diamati
berdasarkan jumlah cahaya yang melewati koloni.
Opaque (tidak dapat ditembus cahaya), Translucent
(dapat ditembus cahaya sebagian), Transparant (bening)
Bentuk :
Circular
Irregular
Spindle
Filamentous
Rhizoid
Flat
Raised
Convex
Umbonate
· Permukaan :
Halus mengkilap
Kasar
Berkerut
Kering seperti bubuk
· Margins :
Lobate
Undulate
Serrate
Felamentous
Curled
b. Pertumbuhan
pada Agak Miring
Ciri-ciri koloni diperoleh dengan
menggoreskan jarum inokulum tegak dan lurus
Ciri koloni berdasarkan bentuk:
c. Pertumbuhan
pada Agak Tegak
Cara penanaman adalah dengan
menusukkan jarum inokulum needle ke dalam media agar tegak.
Ciri-ciri koloni berdasar bentuk :
Ciri koloni berdasar kebutuhan O2
:
d. Pertumbuhan
pada Media Cair
Pola pertumbuhan berdasarkan
kebutuhan O2
m.
Mengamati Morfologi Bakteri
Sel bakteri
dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100×10
yang ditambah minyak imersi. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel
bakteri sulit terlihat. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri
dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat
mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya
ditingkatkan.
Zat warna
yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang
berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif.
Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna
memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan
negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. Contoh zat warna asam
antara lain Crystal Violet, Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin,
Malachite Green dll. Sedangkan zat warna basa antara lain Eosin, Congo
Red dll.
n.
Pewarnaan
Tujuan pewarnaan terhadap mikroorganisme ialah untuk :
1. Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, maupun
fungi.
2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad
3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam
jasad.
4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga
sifat-sifat fisik dan kimia dapat diketahui.
a.
Macam-Macam Pewarnaan
Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan
sebagai berikut :
1. Pewarnaan sederhana
Menggunakan satu
macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk
sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan.
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya)
dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel
bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah
bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat
basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk
pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan
positif). Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan
dalam bahan pelarut. Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk
melihat morfologi bakteri secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak
digunakan adalah biru metilen (30-60 detik), ungu kristal (10 detik) dan
fukhsin-karbol (5 detik).
2. Pewarnaan differensial dibagi
pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam
- Pewarnaan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna
seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai berikut:
a.
Pewarnaan
Gram
Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat
bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan
oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa
dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti
Mycoplasma sp Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari
genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia.
Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat
lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya sehingga menyebabkan dinding sel
tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel
bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti pewarnaan
sederhana atau Gram.
Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :
- Zat
warna utama (violet kristal)
- Mordan
(larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna
utama.
- Pencuci
/ peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang
digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.
- Zat
warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali
sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.
Bakteri
Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada
metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil
ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak.
Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan
setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna
merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua
tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.
Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu
1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna
ungu.
2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah
pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding
sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran
zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol
memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal
yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50mm) sedangkan bakteri negative
lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).
Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting
untuk membantu determinasi suatu bakteri. Beberapa perbedaan sifat yang dapat
dijumpai antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu:
Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:
- Struktur
dinding selnya tipis, sekitar 10 – 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.
- Dinding
selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan terdapat
didalam
- lapisan
kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit ± 10% dari berat kering, tidak
mengandung asam tekoat.
- Kurang
rentan terhadap senyawa penisilin.
- Pertumbuhannya
tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal violet.
- Komposisi
nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.
- Tidak
resisten terhadap gangguan fisik.
- Resistensi
terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat
- Peka
terhadap streptomisin
- Toksin
yang dibentuk Endotoksin
Ciri-ciri
bakteri gram positif yaitu:
- Struktur
dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau monolayer.
- Dinding
selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada yang
sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat
ringan. Mengandung asam tekoat.
- Bersifat
lebih rentan terhadap penisilin.
- Pertumbuhan
dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.
- Komposisi
nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.
- Lebih
resisten terhadap gangguan fisik.
- Resistensi
terhadap alkali (1% KOH) larut
- Tidak
peka terhadap streptomisin
- Toksin
yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
b.
Pewarnaan
Tahan Asam
Pewarnaan ini
ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi
sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus
misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna
dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun
seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam
(BTA).Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri
penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis . Ada beberapa
cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak adalah cara menurut
Ziehl-Neelsen.
Bakteri Tahan Asam (pink) dan bakteri Tidak Tahan Asam (biru)
3. Pewarnaan khusus untuk melihat struktur
tertentu : pewarnaan flagel, pewarnaan spora, pewarnaan kapsul.
a.
Pewarnaan
Spora
Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan
biasa, diperlukan teknik pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan
spora yang paling banyak digunakan.
Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. Untuk pewarnaan
endspores, perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau bisa
masuk ke dalam spora , seperti halnya pada pewarnaan Basil Tahan Asam
dimana cat carbol fuschsin harus dipanaskan untuk bisa
menembus lapisan lilin asam mycolic dari Mycobacterium .
Skema prosedur pengecatan Spora Schaeffer Fulton
Spora kuman mempunyai dinding yang tebal sehingga diperlukan
pemanasan agar pori-pori membesar zat warna fuchsin dapat masuk, dengan
pencucian pori-pori kembali mengecil menyebabkan zat warna fuchsin tidak dapat
dilepas walaupun dilunturkan dengan asam alkohol, sedangkan pada badan bakteri
warna fuchsin dilepaskan dan mengambil warna biru dari methylen blue.
b.
Pewarnaan
flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat
yang tidak stabil, sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan
flagel.
c.
Pewarnaan
kapsul
Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu
larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada
kapsul, karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Garam
tembaga juga memberi warna pada latar belakang. Yang berwana biru gelap.
o.
Mengamati motilitas
1. Pengamatan Langsung
Cara Kerja :
· Teteskan biakan bakteri motil
seperti Bacillus atau E.coli ke object glass (sebaiknya
dari biakan cair). Jika digunakan biakan padat maka ulas dengan jarum inokulum
lalu ditambah akuades satu tetes, ratakan.
· Tutup dengan cover glass
· Amati menggunakan mikroskop dengan
perbesaran maksimak. Bakteri akan tampak transparan dan pola pergerakannya
tidak beraturan. Hati-hati jangan salah membedakan antara sel yang bergerak
sendiri karena flagel atau bergerak terkena aliran air.
2.Pengamatan tidak langsung
· Tanam biakan pada media NA tegak
atau Media Motilitas dengan cara tusuk (Stab inoculation) sedalam + 5
mm.
· Inkubasi pada suhu 370 C
selama 1x 24 jam
· Hasil positif (motil) jika bakteri
tumbuh pada seluruh permukaan media, hasil negatif menunjukan bakteri hanya
tumbuh pada daerah tusukan saja
Bakteri motil akan bermigrasi ke
seluruh permukaan agar dan bekas tusukan
2. Kapang
a.
Pengertian
Kapang
Kapang
(Inggris: mold) merupakan anggota regnum Fungi ("Kerajaan"
Jamur) yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau
terlalu lama tidak diolah. Sebagian besar kapang merupakan anggota dari kelas
Ascomycetes.
Kapang
adalah mikroorganisme yang termasuk dalam anggota Kingdom Fungi yang membentuk
hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga
anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota,
dan Basidiomycota.
b.
Hifa dan Miselium
Kapang
merupakan kelompok fungi yang mempunyai filamen (miselium) dan pertumbuhannya
pada makanan mudah dilihat dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti
kapas, warnanya putih hingga berbagai warna (bila spora sudah tumbuh) tergantung
spesies.
Kapang
terdiri dari suatu thallus (thalli) yang tersusun dari filamen bercabang yang
disebut hifa (hyphae). Kumpulan hifa disebut miselium (mycelia).
Hifa mungkin
tumbuh di bawah permukaan yaitu terendam di dalam substrat/ makanan, atau pertumbuhannya
mungkin muncul di atas permukaan substrat/ makanan. Pertumbuhan atau perpanjangan
hifa dimulai degan pembelahan inti, yaitu dapat dimulai dari bagian tengah yang
disebut pertumbuhan interkalar, atau dari bagian ujung hifa yang disebut pertumbuhan
apical.
Hifa dapat
dibedakan atas dua macam yaitu; (1) hifa vegatatif atu hifa tumbuh, dan (2)
hifa fertil yang membentuk bagian reproduksi. Pada kebanyakan kapang, hifa fertil
tumbuh di atas permukan, tetapi pada beberapa kapang mungkin terendam. Penyerapan
nutrien terjadi pada permukaan miselium.
Hifa
dikelilingi oleh dinding sel tegar yang terdiri dari polisakarida. Kandungan
tertinggi dalam dinding sel pada kebanyakan kapang adalah selulosa, tetapi pada
beberapa kapang dinding selnya terutama terdiri dari khitin. Hifa mungkin
membentuk kum-pulan miselium yang padat dan keras dengan dinding sel tebal.
Struktur ini disebut sklerotium (jamak = akterotia) yang bersifat tahan
terhadap pemanasan dan keadaan kering. Oleh karena itu, perlu mendapat
perhatian khusus dalam pengolahan pangan. Kapang dapat dibedakan atas dua
kelompok berdasarkan struktur hifanya, yaitu;
(1) hifa
tidak bersekat atau nonseptal, dan (2) hifa tersekat atau septat yang membagi
hifa dalam mangan-mangan, di mana setiap mangan mempunyai satu atau lebih inti
sel (nukleus). Dinding penyekat yang disebut septum (jamak = septat) tidak
tertutup rapat sehingga sitoplasma masih bebas bergerak dari satu ruangan ke
ruangan lainnya. Kapang yang tergolong septat terutama termasuk dalam kelas
Ascomycetes.
Bentuk hifa
nonseptat dan septat
Pada kapang
nonseptat inti sel tersebar di sepanjang hifa.
Hifa pada
pada kebanyakan kapang biasanya terang, tetapi pada beberapa kapangagak keruh
dan gelap. Secara mikroskopik, hifa terlihat tidak berwarna dan transparan,
tetapi kumpulan hifa secara makroskopik mungkin berwarna. Struktur miselia
mungkin spesifik untuk beberapa jenis kapang sehingga dapat digunakan untuk
identifikasi. Bentuk-bentuk spesifik tersebut misalnya rhizold (holdfast) pada
Rhizopus dan Absidia, foot celi pada Aspergillus percabangan
bentuk Y.
pada Geotrichum, dan sebagainya.
c.
Morfologi Kapang
Setiap hifa
lebarnya 5 sampai 10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya
berdiameter 1 μm. Di sepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Ada tiga
macam morfologi hifa :
1. Aseptat
atau senosit. Hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat atau septum
2. Septat
dengan sel-sel uninukleat. Sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-sel
berisi nukleus dan sitoplasma dari satu ruang ke ruang yang lain. Sungguhpun
setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu membran
sebagaimana halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu biasanya dinamakan sel.
3. Septat
dengan sel-sel multinukleat. Septum membagi hifa menjadi sel-sel dengan lebih
dari satu nukleus dalam setiap ruang.
d.
Identifikasi Kapang
Identifikasi
kapang biasanya dilakukan dengan melihat morfologi terutama secara mikroskopik.
Sifat-sifat yang digunakan untuk identifikasi kapang adalah :
1. Hifa
berseptat atau non septat
2. Miselium
terang atau keruh
3. Miselium
berwarna atau tidak berwarna
4.
Memproduksi atau tidak memproduksi spora seksual dan jenis sporanya yaitu
oospora, zigospora atau askospora
5. Jenis
spora seksual : sporangiospora, konidia atau arhospora (oidia)
6. Ciri
kepala pembawa spora :
a.
Sporangium : ukuran, warna, bentuk dan lokasi
b.
Kepala spora pembawa konidia : tunggal, berantai, pertunasan atau kumpulan
(massa), bentuk dan rangkaian sterigmata atau fialides.
7.
Penampakan sporangiofora atau konidiofora: sederhana atau bercabang, jika
bercabang bentuk percabangan, ukuran dan
bentuk kolumela pada ujung sporangiofora, konidiofora tunggal atau bergerombol.
8.
Penampakan mikroskopik spora aseksual, terutama konidia : bentuk, ukuran,
warna, halus atau kasar, satu, dua atau banyak sel.
9. Adanya
struktur atau spora spesifik : stolon, rhizoid, “foot cell”(sel kaki),
apofisis,
khlamidospora, sklerotia dan sebagainya.
e.
Ciri-Ciri Kapang
Ciri-ciri
Kapang adalah sebagai berikut:
1. Bersifat multiseluler
2. Mempunyai hifa
3. Mempunyai miselium
4. Mempunyai inti sel
5. Memproduksi spora
6. Tidak mempunyai klorofil
7. Reproduksi seksual dan aseksual
f.
Sistem
Reproduksi Kapang
Dikenal dua
macam sitem reproduksi pada kapang yaitu;(1) reproduksi aseksual dan (2)
reproduksi seksual. Secara aseksual, kapang dapat tumbuh dari sepotong
miselium, tetapi cara ini jarang terjadi dan yang paling umum terjadi adalah
pertumbuhan dari spora aseksual. Reproduksi seksual dimulai dari spora seksual,
dan kapang yang mempunyai spora seksual disebut kapang sempurna (perfect mold),
yaitu terdiri dari:
1. Oomycetes dan Zygomycetes
(nonseptat)
2. Ascomycetes dan Basidiomycetes
(septat)
a. Spora
Aseksual :
1. Konidiospora atau konidia, yaitu spora yang dibentuk di ujung atau
di sisi suatu hifa. Konidia kecil dan bersel satu disebut disebut mikrokonidia.
Sedangkan konidia besar dan banyak
disebut makrokonidia.
2. Sporangiospora,
Spora bersel satu, terbentuk di dalam kantung spora yang disebut sporangium di
ujung hifa khusus yang disebut sporangiofora.
3.
Oidium atau arthrospora, spora bersel satu ini terjadi karena segmentasi
pada ujung-ujung hifa. Sel-sel tersebut selanjutnya membulat dan akhirnya
melepaskan diri sebagai spora.
4.
Klamidospora, spora ini berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap
keadaan yang buruk yang terbentuk pada
sel-sel hifa vegetatif.
5. Blastospora, terbentuk dari tunas pada miselium yang kemudian
tumbuh menjadi spora. Juga terjadi pada pertunasan sel-sel khamir. Perkembangbiakan
secara generatif atau seksual dilakukan dengan
isogamet atau heterogamet . Pada
beberapa spesies perbedaan morfologi antara jenis kelamin belum nampak sehingga
semua disebut isogamet. Tapi pada beberapa spesies mempunyai perbedaan
gamet besar dan kecil sehingga disebut mikrogamet (sel kelamin jantan) dan makrogamet (sel kelamin betina).
b. Spora seksual :
1. Askospora,
Spora bersel satu terbentuk di dalam kantung yang disebut dengan askus.
Biasanya terdapat 8 askospora di dalam setiap askus.
2. Basidiospora, Spora bersel satu terbentuk gada yang dinamakan
basidium.
3. Zigospora, Spora besar dan berdinding tebal yang terbentuk apabila
ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi dinamakan gametangia.
4. Oospora, Spora terbentuk di dalam struktur betina khusus yang
disebut oogonium. Pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan di anteridium
menghasilkan oospora.
g.
Sifat-Sifat Kapang
Sifat fisiologi kapang:
Sifat-sifat fisiologi kapang antara
lain :
1. Kebutuhan air
Kebanyakan
kapang membutuhkan air (aw) minimal untuk pertumbuhan lebih rendah
dibandinghkan denang khamir dan bakteri. Kadar air bahan pangan kurang dari 14
– 15 %, misalnya pada beras dan
serealia, dapat menghambat atau memperlambat pertumbuhan kebanyakan khamir.
2. Kebutuhan oksigen dan pH
Semua kapang
bersifat aerobic, artinya membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya. Kebanyakan kapang dapat
tumbuh baik pada pH yang luas, yaitu 2,0-8.5, tetapi biasanya pertumbuhannya
akan baik pada kondisi asam atau pH rendah.
3. Suhu pertumbuhan
Kebanyakkan
kapang bersifat mesofilik, yaitu tumbuh baik pada suhu kamar. Suhu optimum
pertumbuhan uantuk kebanyakan kapang adalah sekitar 25 – 30°C, tetapi beberapa dapat tumbuh pada suhu
35 - 37°C atau lebih tinggi, misalnya Aspergillus. Beberapa kapang bersifat spikrotrofik, yaitu dapat tumbuh
baik pada suhu lemari es, dan beberapa bahkan masik dapat tumbuh lambat pada
suhu dibawah suhu pembekuan, misalnya pada suhu -5 sampai -10°C. Beberapa
kapang juga bersifat termofilik, yaitu dapat tumbuh pada suhu tinggi.
4. Makanan
Pada umumnya
kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana sampai
yang kompleks. Kebanyakan kapang mampu memproduksi enzim hidrolitik, misalnya
amilase, pektidase, proteinase dan lipase. Maka dari itu kapang mampu tumbuh
pada bahan yang mengandung pati,pektin,protein atau lipid.
5. Komponen penghambat
Beberapa
kapang mengeluarkan komponen yang dapat menghambat organisme lain. Komponen ini
disebut antibiotic, misalnya penisilin yang diproduksi oleh Penicillium
chrysogenum, diproduksi oleh Aspergillus clavatus. Sebaliknya, beberapa
komponen lain bersifat mikostatik atau
fungistatik, yaitu menghambat pertumbuhan kapang, misalnya asam sorbat,
propionat dan asetat, atau bersifat fungisidal yaitu membunuh kapang.
Pertumbuhan kapang bisanya berjalan lambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan bakteri dan khamir. Oleh karena itu, jika
kondisi pertumbuhan memungkinkan semua mikroorganisme untuk tumbuh, kapang
biasanya kalah dalam kompetensi dengan khamir dan bakteri. Tetapi sekali kapang dapat mulai
tumbuh, pertumbuhan yang ditandai dengan
pembentukan miselium dapat berlangsung dengan cepat.
Fungi yang
tidak mempunyai spora seksual tetapi hanya mempunyai spora aseksual disebut
fungi tidak sempurna (fungi imperfecti) yang biasanya mempunyai hifa septat,
misalnya yang termasuk Deuteromycetes.
h. Jenis-Jenis Kapang
Beberapa
jenis kapang yang sering digunakan dalam pengolahan pangan adalah sebagaii
berikut :
- Rhizopus
Rhizopus
sering diebut kapang roti karena sering tumbuh dan menyebabkan kerusakan pada
roti. Selain itu kapang ini juga tumbuh pada sayuran, dan buah-buahan. Spesies
rhizopus yang umum ditemukan pada roti yaitu rhizopus stoloniferdan Rhizopus
nigricans. Selain merusak makanan sebagian Rhizopus diguakan untuk beberapa
makanan fermentasi tradisional seperti, Rhizopus oligosporus dan Rhzopus orizae
yang digunakan dalam pembuatan berbagai macam tempedan oncom hitam.
Ciri-ciri Rhizopus adalah:
a. Hifa nonseptat,
b. Mempunyai stolon dan rhizoid yang wananya
gelap jik sudah tua,
c. Sporangiopora tumbuh pada noda dimana terbentuk
juga rhizoid,
d. Sporangia biasanya besar dan berwarna hitam,
e. Kolumela agak bulat dan apofisisberbentuk
seerti cangkir,
f. Tidak mempunyai sporangiola,
g. Pertumbuhannya cepat, membentuk miselium
seperti kapas,
h. Pertumbuhannya seksual dengan membentuk Zigospora,
i. Kapang bersifat heterotalik, dimana repoduksi
seksual membutuhkan dua talus yang berbeda.
- Aspergillus
Kapang ini
mampu tumbuh baik pada substrat dengan konsentrasi gula dan garam tinggi.
Aspergillus orizae digunakan dalam fermentasi makanan tahap pertama dalam
pembuatan kecap dan tauco. Konidia kelompok ini berwarna kuning sampai hiju,
atau mungkin membentuk sklerotia.
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Koloni berkelompok
b. Konidiofora septet atau nonseptat
c. Konidiopora membengkak membentuk vesikel pada
ujungnya,
d. Sterigmata atau fialida biasanya sederhana,
berwarna atau tidak berwarna,
e. Beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 37
derajat celcius atau lebih,
f. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau,
coklat atau hitam.
- Penicillum
Penicillium
menyebabkan kerusakan pada bahan sayuran,buah-buahan, dan serelia. Selain itu
digunkan untuk industri,misalkan memproduksi antibiotic penisilin yang
diproduksi oleh Penicillium notatum dan Penicillium chysogenum. Kegunaan lain
untuk pematangan keju, misalnya keju camembert oleh Penicillium camemberti yang
konidianya berwarna abu-abu dll.
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Hifa septet, miselium bercabang biasanya
berwarna,
b. Konidiopore septet dan muncul bercabang atu
tidak bercabang,
c. Kepla
yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigma atau fialidamuncul
dalam kelompok,
d. Konodia membentuk rantai karena muncul satu
persatu dari sterigmata
e. Konidia
waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiry-biruan atau
kecokltan.
Penggunaan kapang dalam fermentasi
makanan
Produk
|
Bahan dasar
|
Kapang
|
Tempe
Oncom merah
Oncom hitam
Kecap
Tauoco
Koji
Ragi tape
Keju Biru
Keju camenberi
|
Kedelai
Ampas tahu(tempe
gembus Bungkil kelapa
(tempe bongkrek)
Bungkil kacang merah
Ampas tahu
Kedelai
Kedelai
Beras
Tepung beras
Susu
Susu
|
Rhizopus oligosporus atau
R, oryzae
Neorospora sitophile
R.Oligosporus
R.oryzae
Aspergillus oryzae
A.Oryzae
A.oryzae
Rhizopus
Aspargillus
Khamir
Penicillium roqueforti
P. camenberi
|
|
|
|
i.
Mengamati
morfologi koloni kapang
Cara kerja :
· Tanam/pindahkan biakan kapang
dengan jarum inokulum needle yang diletakan di tenganh-tengah cawan
petri.
· Inkubasi selam beberapa hari.
· Amati pertumbuhan koloni
(miselium) yang menyebar.
a.
Mengamati
sel morfologi kapang dengan metode Slide
Culture (Microculture)
Teknik ini bertujuan untuk mengamati
sel kapang dengan menumbuhkan spora pada object glass yang ditetesi
media pertumbuhan. Pengamatan struktur spora dan miselium dapat juga dilakukan
dengan preparat ulas seperti yang telah diuraikan di depan. Namun seringkali
miselium atau susunan spora menjadi pecah atau terputus sehingga penampakan di
mikroskop dapat membingungkan. Dengan teknik ini, spora dan miselium tumbuh
langsung pada slide sehingga dapat mengatasi masalah tersebut.
Metode
Heinrich’s, cara kerja :
· Siapkan object glass, cover
glass, tissue basah yang dimasukkan dalam cawan dan sterilkan dengan
autoclave.
· Setelah selesai sterilisasi
berikan lilin (parafin-petrolatum) steril pada sebelah kiri dan kanan
tempat yang akan ditutup cover glass (aseptis).
· Tutup dengan cover glass.
· Teteskan suspensi spora jamur
dalam media cair pada media cover glass yang tidak diberi lilin. Berikan
sampai setengah luasan cover glass. Tekan cover galss secara media
merata.
· Inkubasi pada suhu kamar selama
3×24 jam.
· Ambil preparat dan amati di bawah
mikroskop.
Metode
Riddel, cara kerja :
· Persiapan sama seperti di atas
· Setelah semua steril, potong media
Saboraud Dextrose Agar steril berbentuk kubus dan letakkan di atas object
glass.
· Inokulasikan spora jamur pada
bagian atau potongan agar.
· Tutup potongan agar dengan cover
glass.
· Inkubasi pada suhu kamar selama
3×24 jam.
· Ambil preparat dan diamati di
bawah mikroskop.
Prosedur
yang lebih sederhana, cara kerja :
· Sterilkan cawan petri yang berisi
kapas yang di atasnya terdapat object glass dan cover glass.
· Siapkan media PDA dan dijaga
supaya tetap cair.
· Teteskan media PDA pada object
glass secara aseptis lalu tunggu memadat (teteskan jangan terlalu banyak).
· Belah media yang memadat dengan
jarum inokulum yang berujung L.
· Ulaskan spora jamur yang akan
diamati pada belahan tersebut.
· Tutup dengan cover glass
tepat di atas media dan tekan hingga merata.
· Inkubasi selama 2×24 jam.
· Amati pertumbuhan miselium dan
spora pada object glass dengan perbesaran sedang.
3.Khamir
a.
Pengertian Khamir
Khamir adalah mikroorganisme eukariot yang
diklasifikasikan dalam Kingdom Fungi, dengan 1.500 species yang telah dapat
dideskripsikan (diperkirakan 1% dari seluruh spesies fungi). Khamir merupakan
mikroorganisme uniselular, meskipun beberapa spesies dapat menjadi multiseluler
melalui pembentukan benang dari sel-sel budding tersambung yang dikenal
sebagai hifa semu(pseudohyphae), seperti yang terlihat pada sebagian
besar kapang. Ukuran kapang bervariasi tergantung spesies, umumnya memiliki diameter
3–4 µm,namun beberapa jenis khamir dapat mencapai ukuran lebih 40 µm.
Sebagian besar khamir bereproduksi secara aseksual dengan mitosis, dan dengan
pembelahan sel asimetris yang disebut budding.
b.
Morfologi
Khamir
Sifat-sifat
morfologi khamir dapat diketahui secara mikroskopis meliputi bentuk dan ukuran
sel, sifat reproduksi, sifat cultural, serta struktur sel. Sel khamir memiliki
ukuran panjang 1-5 µm, sampai 20-50 µm; lebar : 1-10 µm. Khamir tidak mempunyai
flagella sehingga tidak dapat melakukan gerakan aktif.
Seperti
bakteri, sel-sel khamir mempunyai lapisan dinding luar yang terdiri dari
polisakarida kompleks dan di bawahnya terletak membran sel. Sitoplasma
mengandung suatu inti yang bebas (discreate nucleus) dan bagian yang
berisi sejumlah besar cairan yang disebut vakuola.
Bentuk sel khamir :
1.
Bulat,
contoh: Saccharomyces
2.
Oval,
contoh: Saccharomyces
3.
Silinder
4.
Ogival,
contoh: Candida
5.
Triangular,
contoh: Trigonopsis
6.
Botol
7.
Apikulat,
contoh: Hanseniaspora
8.
Pseudomiselium,
contoh: Candida
Bentuk dan ukuran sel khamir dapat dipengaruhi oleh umur sel dan kondisi lingkungan
selama pertumbuhan. Proses ontogeny merupakan proses perkembangan individu sel
(sel muda mungkin berbeda dengan sel tua). Contoh khamir bentuk apikulat
(lemon) berasal dari bentuk bulat.
Morfologi sel khamir dapat diamati
menggunakan beberapa cara:
1. Pengamatan langsung dengan mikroskop biasa
2. Pengamatan dengan mikroskop biasa setelah diwarnai
dengan pewarna tertentu(untuk melihat lokasi komponen tertentu dalam sel)
3. Pengamatan dengan mikroskop elektron terhadap dinding
sel yang telah dipisahkan dari selnya
4. Pengamatan dengan mikroskopik elektron terhadap irisan
tipis sel khamir
Contoh
pewarna: Anilin (struktur sel terlihat)
Besi
hematoksilin (nucleus)
Natural red
(granula methakhromatik)
c.
Ciri-ciri Khamir :
1.
Pertumbuhan dan Perkembangbiakan
2.
Kisaran Aw
Batas aktivitas air khamir
terendah untuk pertumbuhan berkisar antara 0,88-0,94. Selain itu banyak kamir
yang bersifat osmofilik yakni dapat tumbuh pada medium dengan aktivitas air
relative rendah, yaitu 0,62-0,65.
3.
Kisaran Suhu dan pH
Kisaran suhu untuk pertumbuhan
kebanyakan khamir pada umumnya hampir sama dengan kapang, yaitu suhu optimum 25
– 30 derajat celcius dan suhu maksimum 34 – 47 derajat celcius, tetapi beberapa
khamir dapat tumbuh pada suhu 0 derajat celcius. Kebanyakan khamir lebih cepat
tumbuh pada pH 4,0 - 4,5 dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada medium alkali,
kecuali jika telah beradaptasi.
4.
Kebutuhan Khamir
Khamir bersifat aerob yaitu
mutlak memerlukan oksigen. Kecuali khamir yang bersifat fermentatif yang hidup
dalam keadaan anaerob yaitu tidak memerlukan oksigen bebas. Nutrisi yang
diperlukan khamir untuk pertumbuhan yaitu nitrogen dalam bentuk sederhana atau
kompleks misalnya dalam bentuk ammonia dan urea atau asam amino dan
polipeptida. Khamir tidak berperan dalam penyakit yang ditularkan melalui
makanan.
5.
Resistensi Khamir terhadap Panas
Askospora (spora) khamir dapat
dibunuh pada suhu 5 - 10oC lebih besar dari sel vegetatifnya.
Sebagian besar askospora khamir terbunuh pada suhu 60oC selama 10 –
15 menit. Ada juga yang resisten pada keadaan tersebut tetapi pada umumnya
tidak dapat hidup pada suhu 100oC. Sel khamir vegetatif terbunuh
pada suhu 50oC - 58oC dalam waktu 10 – 15 menit. Spora
mempunyai sel vegetatif khamir pada suhu terbunuh pada proses pasteurisasi pada
suhu 62,8oC dalam waktu 30 menit atau pada suhu 71,7oC
dalam waktu 15 detik.
d.Struktur Khamir
1. Kapsul
Yaitu komponen ekstraseluler yang berlendir, yang menutupi bagian
luar didnding sel dan terdiri dari polisakarida.
2.
Dinding sel
Terdiri dari:
1. Glukan khamir
2. Mannan kamir
3. Ptotein
4. Khitin
5. Lipid
3.
Membran sitooplasma
Terletak disebelah dalam didnding sel. Membran ini memegang
peranan penting dalam transport makanan ke dalam sel
4.
Nukleus (inti sel)
Dikelilingi oleh membran inti berlapis ganda. Kumpulan kromosom
yang disebut kromatin akan terbagi dua jika sel khamir mengalami pembelahan
5.
Vakaola
Adalah kantung dari suatu cairan yang lebih bening dan lebih encer
dibandingkan dengan sitoplasma
6.
Mitokondria
Merupakan struktur yang penting dalam aktivitas pernafasan khamir
7.
Globula lipid
Kebanyakan khamir mengandung sedikit lipid dalam bentuk globula
yang dapat dilihat di bawah mikroskop dengan pewarnaan merah sudan atau hitam
sudan.
8.
Sitoplasma
Mengandiung berbagai komponen yaitu glikogen khamir yang merupakan
bentuk penyimpanan karbohidrat, asam ribonukleat dan protein. Asam ribonukleat
dan protein terdapat dalam granula yang mengandung RNA yaitu ribosom.
e. Sistem
Reproduksi Khamir
Reproduksi dengan cara pertunasan, pembelahan,
pembelahan tunas dan pembentukan spora aseksual dinamakan reproduksi
vegetatif sedangkan pembentukan spora seksual disebut
dengan reproduksi seksual.
Pertunasan
Sel
Pertunasan merupakan cara reproduksi paling umum
dilakukan oleh khamir. Proses pertunasan dimulai melalui suatu saluran yang
terbentuk dari vakuola di dekat nukleus menuju dinding sel yang terdekat dengan
vakuola. Karena adanya penipisan dinding sel, maka protoplasma akan menonjol
keluar kemudian membesar dan terisi komponen-komponen nukleus dan sitoplasma
dari inangnya melalui saluran yang terbentu tersebut. Tunas terus tumbuh dan
membentuk dinding sel baru dan juka ukuran tunas sudah hampir sama besar dengan
inangnya, komponen inti akan terpisah menjadi dua.
Pembelahan
Sel
Pembelahan sel atau pembelahan
binner, mula-mula sel khamir membengkak atau memanjang, kemudian nukleus
terbagi menjadi dua dan terbentuk septa atau dinding penyekat tanpa mengubah
dinding sel. Setelah nukleus terbagi menjadi dua, septa terbagi menjadi dua
dinding dan kedua sel melepaskan diri satu sama lain.
Pembelahan
Tunas
Reproduksi vegetatif dengan
cara membelah tunas, yakni gabungan antara pertunasan dengan pembelahan.
Mula-mula terbentuk tunas, tetapi tempat melekatnya tunas pada induk sel
relatif besar, kemudian terbentuk septa yang memisahkan tunas dari induknya.
Pembentukan
Spora Aseksual
Terjadi melalui pembentukan
spora dibedakan atas beberapa macam yaitu: 1) Blastospora membentuk kumpulan
tunas menempel pada sel yang memanjang, 2) Balliospora, tumbuh pada ujung sel
yang meruncing satu demi satu dilepaskan dengan tekanan, 3) Khlamidospora,
bentuk spora istirahat yang mempunyai dinding sel tebal.
Pembentukan
Spora Seksual
Spora seksual terdiri dari
basidiospora dan askospora. Khamir dibedakan atas dua kelompok berdasarkan
jumlah kromosom di dalam inti sel yakni 1) khamir diploid dan 2) khamir
haploid. Inti sel pada khamir diploid terbentuk dari pengabungan inti dua sel
haploid atau dua askospora, karena itu mengandung kromoson 2n.
f.Sifat
Fisiologi Khamir
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan khamir, diantaranya:
1. Kandungan makanan dalam subtract
2. pH
3. Suhu
4. Oksigen
5. Komponen penghambat yaitu pada suhu optimum 25-30 derajat celsuiu dan
Suhu maksimum 35-37 derajat celsius
Khamir mempunyai kisaran pH
pertumbuhan 1.5-8.5. Namun kebanyakan khamir lebih cocok tumbuh pada kondisi
asam, yaitu pada pH 4-4.5, sehingga kerusakan oleh khamir lebih mungkin terjadi
pada produk-produk asam. Kebanyakan khamir dapat hidup pada aw>0.80.
Beberapa khamir dapt tumbuh nol derajat celsius, pH yang disukai adalah 4-4,5
dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada keadaan alkali. Khamir tumbuh baik pada
keadaan aerobik, tetapi bersifat fermentatif dapat tumbuh secara anaerobik
meskipun lambat.
Khamir hanya sedikit resisten terhadap pemanasan, dimana kebanyakan khamir
dapat terbunuh pada suhu 77oC. Oleh karena itu, khamir dapat dengan
mudah dibunuh dengan suhu pasteurisasi. Jika makanan kaleng busuk karena
pertumbuhan khamir, maka dapat diduga pemanasan makanan tersebut tidak cukup
atau kaleng telah bocor. Pada umumnya kebusukan karena khamir disertai dengan
pembentukan alkohol dan gas CO2 yang menyebabkan kaleng menjadi
kembung. Khamir dapat membusukkan buah kaleng, jam dan jelly serta dapat
menggembungkan kaleng karena produksi CO2. Seperti halnya kapang,
khamir yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan pemanasan tidak menyebabkan
penyakit pada manusia.
g.Klasifikasi dan Identifikasi Khamir
Khamir
diklasifikasikan ada tiga kelas, yaitu:
1. Kelas
Ascomycetes (khamir sejati), dimana spora tumbuh dalam askis.
2. Kelas Basidiomycetes
membentuk spora pada basidium.
3. Kelas Deuteromycetes,
yaitu khamir yang tidak memproduksi spora seksual dan tergolong juga Fungi
Imperfecti.
Dasar
klasifikasi dan identifikasi adalah:
1.
Ada tidaknya
pembentukkan askospora
2.
Jika terjadi
pembentukkan askospora, maka bagaimana bentuk, ukuran, dan warna sel vegetatif
3.
Bagaiman
cara reproduksi aseksual (bertunas, membelah, gabungan antara bertunas dan
membelah, atau membentuk arthospora (oidia)
4.
Ada tidaknya
pembentuk miseium atau pseudomycelin
5.
Bagaimana
sifat-sifat fisiologinya, meliputi oksidatif, fermetatif atau keduanya,
bersifat lipolisis, adanya urease, pembentuk asam dan senyawa-senyawa yang
menyerupai pati
h.Peranan Khamir
Ada beberapa macam khamir yang dapat merusak makanan seperti Zygosaccharomyces
karena dapat tumbuh pada kosentrasi gula tinggi yang bersifat osmofilik jadi
menyebabkan kerusakan pada madu, sirup, kecap dan anggur. Khamir film melakukan
oksidasi asam organik sehingga makanan menjadi berkurang sifat keasamannya.
Akibatnya organisme yang kurang tahan asam dapat tumbuh pada makanan tersebut
dan menyebabkan kerusakan pada makanan.
Pemanfaatan
Spesies
khamir yang paling umum digunakan dalam industri makanan adalah S.
cerevisiae, misalnya dalam pembuatan roti dan produksi minuman beralkohol
(bir dan anggur). Selain digunakan dalam industri makanan manusia, S. cerevisiae juga bisa dimanfaatkan sebagai
probiotik makanan ternak. Berikut akan dijelaskan peranan khamir S.
cerevisiae dalam berbagai hal :
a)
Pembuatan Roti
b) Produksi Bir
c) Pembuatan Anggur
d)
Probiotik Makanan Ternak
h. Mengamati
morfologi koloni yeast
· Tanam biakan yeast (dapat
berupa Sacharomyces cereviceae atau Candida albicans) pada PDA
dengan cara streak quadrant.
· Inkubasi selama 2×24 jam.
· Setelah didapatkan koloni tunggal,
pengamatan ciri-ciri morfologi koloni hampir sama dengan ciri morfologi
bakteri.
i.Mengamati
Morfologi Sel Yeast
Yeast merupakan fungi mikroskopik uniseluler, tidak
membentuk hifa (beberapa spesies dapat membentuk pseudohifa). Bentuk selnya
bervariasi dapat berbentuk bulat, bulat telur, bulat memanjang dengan ukuran
1-9×20 μm. Beberapa spesies yeast memiliki sifat dimorfisme yaitu bentuk sel
tunggal dan bentuk hifa atau pseudohifa. Pseudohifa adalah hifa yeast yang
terbentuk dari rangkaian sel hasil pembelahan aseksual secara budding, tetapi
tidak melepaskan diri dari induk. Morfologi internal sel mudah dilihat dan
terdiri dari inti dan organel seperti mitkondria, grannula lemak dan glikogen.
a.Melihat bentuk sel Yeast
Cara Kerja :
· Tumbuhkan Sacharomyces
cereviceae pada glukosa cair selama 24 jam.
· Ulaskan suspensi biakan pada
object glass lalu teteskan Methilene Blue hingga rata (jangan
difiksasi).
· Tutup preparat dengan cover
glass.
· Amati dengan perbesaran 40×10 atau
100×10.
b. Melihat bentuk spora sel Yeast
Cara kerja :
· Buat preparat ulas dari biakan
yeast pada Goodkowa Agar yang berumur 10 hari.
· Fiksasi dengan api bunsen.
· Warnai dengan cara Shager dan
Fulgen yaitu:
Tetesi preparat dengan Malachite
Green dan biarkan 30-60 detik. Panasi preparat dengan api bunsen selama +
30 detik (sampai timbul uap). Cuci preparat dengan air mengalir. Keringkan
dengan tissue kemudian biarkan pada udara terbuka. Amati di bawah mikroskop.