Kromium merupakan elemen pertama dalam golongan VIB
di tabel periodik, yang mempunyai nomor atom 24, berat atom 51,99. Banyaknya kromium di kerak bumi adalah
122 ppm. Di tanah berkisar 11 sampai 22 ppm, di sungai itu rata-rata sekitar 1
μg/L dan di sekitar perairan umumnya 100 μg/L. Kromium ditemukan terutama di
bijih besi krom (FeO-Cr2O3). Kromium digunakan sebagai
logam paduan, elektroplating.
Keberadaan Cr(III) terdapat dalam jumlah yang tidak
terlalu banyak pada bebatuan dan tanah dalam bentuk Cr2O3.
Sedangkan keberadaan Cr(VI) secara alami jarang ditemukan di alam. Kehadirannya
dalam bentuk kromat (CrO42-) dan dikromat (Cr2O72-)
dalam lingkungan biasanya disebabkan oleh limbah maupun emisi dari kegiatan
emisi dan rumah tangga. Cr(VI) banyak digunakan dalam industri logam pembuatan
logam Cr, aloi Cr, dan pelapisan logam serta industri kimia sebagai agen pengoksidasi.
Cr(III) terutama sebagai garamnya umumnya digunakan dalam industri tekstil,
industri penyamakan yang menggunakan proses Chrome
Tanning menghasilkan limbah cair yang mengandung krom, industri keramik dan
gelas serta fotografi.
Di perairan alami, kromium trivalen ada seperti Cr3+,
Cr(OH)2+, Cr(OH)2+, dan Cr(OH)4-. Dalam bentuk
kromium heksavalen ada sebagai CrO42- dan sebagai Cr2O72-.
Cr3+ diharapkan terbentuk kompleks yang kuat dengan amina,dan akan
teradsorbsi dengan mineral tanah liat.
Kromium merupakan logam industri yang penting karena
merupakan polutan utama, yang bersifat karsinogenik, mutagenik, dan sangat
beracun. Kromium memiliki dua bentuk oksidatif dalam lingkungan perairan. Yang
pertama ada Cr(VI) yang diketahui sebagai bentuk Cr yang sangat beracun, dan
ada Cr(III) yang tidak beracun bahkan merupakan unsur yang essensial bagi
manusia dan hewan. Kromium heksavalen merupakan pengoksidasi yang kuat dan
sangat mudah larut, sedangkan senyawa kromium trivalen cenderung membentuk
endapan pada pH yang mendekati netral.
Efek toksikologi kromium sangat berbahaya dan cukup
banyak, diantaranya:
A. Bila
kromium terabsorpsi melalui lambung, kulit, atau alveoli paru-paru akan timbul
iritasin dan korosif.
B. Apabila
terhirup (inhalasi) dan menyerap kromium valensi 6 akan menimbulkan iritasi
saluran pernapasan bagian atas, bersin, gangguan hidung, terjadi penyempitan
pembuluh darah, spasme bronchus, asmatik attart dan dapat mengakibatkan
penderita meninggal dunia.
C. Keracunan
kromium valensi 6 diduga merupakan bronkhogenik (penyebab kanker bronkhus).
D. Logam
atau persenyawaan Cr yang masuk ke dalam tubuh akan ikut dalam proses
fisiologis atau metabolisme tubuh.
E. Senyawa-senyawa
ligan (piropospat, metionin, serin, glisin, leusin, lisin, dan prolin) yang
terdapat dalam tubuh dapat mengubah Cr menjadi bentuk yang dapat terdifusi
sehingga dapat masuk ke dalam jaringan.
F. Ion-ion
kromium heksavalen dalam proses metabolisme tubuh akan menghalangi atau mampu
menghambat kerja enzim benzopiren hidroksilase. Akibatnya terjadi perubahan
dalam kemampuan pertumbuhan sel, sehingga sel-sel menjadi tumbuh secara liar dan
tidak terkontrol, yang disebut kanker.
Distribusi senyawa yang mengandung Cr(III) dan
Cr(VI) tergantung pada potensial redoks, pH, adanya senyawa oksidator atau
reduktor, kinetika reaksi redoksnya. Beberapa teknik analisa yang digunakan
untuk menentukan kadar Cr terutama Cr(VI) menggunakan spektrofotometri sinar
tampak umumnya menggunakan reagen organik yang dapat dioksidasi dan pembentukan
ion asosiasi.
Reagen yang paling umum digunakan untuk menentukan
kadar Cr(VI) secara spektrofotometri
sinar tampak yaitu 1,5 difenilkarbazida. reaksi yang dihasilkan dengan
menggunakan 1,5 difenilkarbazida dengan suasana asam menghasilkan warna
lembayung, yang merupakan uji khas terhadap kromium. Sewaktu reaksi, kromat
direduksi menjadi kromium(II), dan terbentuk difenilkarbazon. Hasil-hasil
reaksi ini seterusnya menghasilkan suatu kompleks dengan warna yang khas.
(Vogel. 1979. Hal: 274)
Molybdenum (VI), Vanadium
(V), Merkurium dan Besi dapat mengganggu pada proses pengkompleksan. Jika ada
permanganat, dapat disingkirkan dengan di didihkan dengan sedikit etanol. Jika angka
banding vanadium terhadap kromium tidak melebihi 10 banding 1, dapat diperoleh
hasil yang hampir benar dengan membiarkan larutan itu selama 10 – 15 menit
setelah penambahan reagensia, karena warna vanadium difenilkarbazida cukup
cepat menghilang. Baik vanadium maupun besi dapat diendapkan dalam larutan asam
dengan kuferon dan dengan demikian dipisahkan dari kromium (III).
1.2. Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang
didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma
atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
(Underwood. 2001. Hal: 398)
1)
Daerah jangkauan spektrum
Filter fotometri hanya dapat digunakan untuk
mengukur serapan sinar tampak (400-750 nm). Sedangkan spektrofotometer dapat
mengukur serapan di daerah tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (>750 nm).
2)
Sumber Cahaya/Sinar
Spektrofotometri terdiri dari
beberapa jenis berdasarkan sumber cahaya yang digunakan diantaranya adalah
sebagai berikut:
a)
Spektrofotometri Vis (Visible)
Pada
spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/emergi adalah cahaya
tampak (Visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat
ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380-750 nm.
b)
Spektrofotometri UV (Ultra Violet)
Spektrofotometri
UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang
gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.
Sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata manusia, maka senyawa yang dapat
menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna (Bening
dan transparan).
c)
Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri
ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua
sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible. Kemudahan
metode ini dapat digunakan baik untuk sampel berwarna juga untuk sampel tak
berwarna.
d)
Spektrofotometri IR (Infra Red)
Spektrofotometri
ini berdasar kepada penyerapan panjang gelombang Inframerah. Inframerah pada
spektrofotometri ini adalah inframerah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang
gelombang 2,5-1000 mikrometer. (Wina Widiana. 2016. Hal: 8)
Hukum Lambert Beer (Beer’s law) adalah hubungan linearitas antara absorban dengan
konsentrasi larutan sampel. Konsentrasi dari sampel didalam larutan bisa
ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan
menggunakan hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert-Beer ditulis dengan:
A=
ɛ . b . C
A
= absorban (serapan)
ɛ
= koefisien ekstingsi molar (M-1 cm-1)
b
= tebal kuvet (cm)
C
= konsentrasi (M)
Kromium heksavalen
dihasilkan dari limbah dari kegiatan industri maupun rumah tangga. Kromium
heksavalen memiliki sifat karsinogenik. Di laboratorium terdapat pengujian kromium heksavalen.
Metode
yang digunakan untuk pengujian kromium heksavalen, salah satunya dengan serapan
cahaya atau metode spektrofotometri. Dimana sampel yang telah berbentuk
kompleks karena adanya reaksi antara 1,5
diphenylcarbazid dalam suasana asam dan diukur oleh spektrofotometer pada
gelombang 540 nm.
Pada
pengujian sampel parameter yang akan diuji salah satunya
kromium heksavalen. Fungsi dari pengujian kromium heksavalen pada air tentunya
untuk mengetahui kualitas dari air tersebut, terutama untuk mengetahui berapa
kadar racun yang salah satunya kromium heksavalen dalam sampel tersebut.
Pada pengujian kromium
heksavalen, sampel yang akan di analisa harus dilakukan secara kuantitatif.
Karena untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi yang akan berpengaruh pada
hasil pengukurannya. Batas waktu pengujian Cr6+ hanya 24 jam, karena
Cr6+ tidak stabil dan dikhawatirkan jika lebih dari masa ujinya
berpengaruh pada hasil analisa yang tidak akurat yang diantaranya senyawa yang
akan didapat adalah Cr3+, Cr2+, Cr.
Sampel yang akan di
analisa kromium heksavalennya harus di saring dengan kertas saring yang berpori
0,45μm, karena padatan tersuspensi akan berpengaruh pada absorbansi pengukuran
sampel. Selain padatan tersuspensi, warna sampel juga mempengaruhi nilai absorbansi
pada pengukuran.
Pada pengujian Cr6+,
sampel harus berada pada suasana asam. Karena jika suasana sampelnya basa,
bukan Cr6+ tetapi akan didapat Cr3+. Yang reaksinya:
Cr2O72- + 2OH-
ó 2CrO42-
+ H2O
Oranye Kuning
Juga ketika sampel berada pada suasana
netral bukan Cr6+ yang didapat tetapi Cr dan Cr(III). Maka agar
bersuasana asam ditambahkan H3PO4 pekat yang akan
menstabilkan dan membuatnya bersuasana asam. Jika sampel masih bersuasana basa,
maka dilakukan penambahan H2SO4 0,2 N.
Sebelum diukur di
spektrofotometer, sampel direaksikan dengan 1,5 diphenylcarbazid. Larutan
difenilkarbazid berfungsi sebagai larutan pengkompleks dalam analisis Cr(VI).
1,5 difenilkarbazid dilarutkan dengan aseton karena larut dengan senyawa
organik.
Pada saat direaksikan
5-10 menit akan terbentuk warna ungu. Reaksi dikromat akan direduksi menjadi
Cr(II) dan kemudian terbentuk menjadi difenilkarbazon, hasil reaksi yang
terjadi menghasilkan warna ungu. Reaksinya:
NH-NH-C6H5 N=N-C6H5
1,5
diphenylcarbazide dikromat

N=N-C6H5 N-N-C6H5
Difenilkarbazon
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Azza.
2011. Kromium. http://azzafacihuy.blogspot.co.id/2011/04/kromium
.html?m=1. Diakses pada 25 Desember pukul 11.50.
Day, R.A, dan Underwood A.L, 1986. Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.
Noor, Eka Ratri dkk. 2008. Kromium 1,5 diphenylcarbazida. https://indbongolz.files.wordpress.com/2011/02/difenilkarbazida.pdf.
Malang : Universitas Brawijaya. Diakses pada 25 Desember pukul 11.00.
Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Sanjaya, Ade. 2015. Pengertian spektrofotometri UV-Vis Hukum Lambert-Beer. https://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-spektrofotometri-uv-vis.html?m=1.
Diakses pada tanggal 19 November pukul 10.30.
Vogel. 1979. Buku
Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta : PT.
Kalman Media Pustaka.
Widiana, Wina. 2016. Bahan Ajar Analisis Instrumen. Bandung : SMKN 7 Bandung.
Yahya. 2016. Definisi
Sungai. Error! Hyperlink reference not valid..
Diakses pada tanggal 18 November pukul 20.12.
Zaki, Muhammad. 2013. Analisis Cr(VI) menggunakan difenilkarbazid. https://jekmad.blogspot.co.id/2013/03/analisis-crvi-menggunakan.html?m=1.
Diakses pada 19 November pukul 11.20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar