Teknik Isolasi
Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya
di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Isolasi
harus diketahui cara-cara menanam dan menumbuhkan mikrobia pada medium biakan
serta syarat-syarat lain untuk pertumbuhannya (Jutono, 1980). Memindahkan
bakteri dari medium lama kedalam medium yang baru diperlukan ketelitian dan
pengsterilan alat-alat yang digunakan, supaya dapat dihindari terjadinya
kontaminasi. Pada pemindahan bakteri dicawan petri setelah agar baru, maka cawan
petri tersebut harus dibalik, hal ini berfungsi untuk menghindari adanya
tetesan air yang mungkin melekat pada dinding tutup cawan petri (Dwijoseputro,
1987).
Mikrobia yang hidup di alam terdapat sebagai populasi
campuran dari bebagai jenis mikrobia yang berbeda prinsip dari isolasi mikrobia
dalam memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya dari lingkungannya
dialam dan ditumbuhkan dalam medium buatan. Pertumbuhan mikroba dapat dilakukan
dalam medium padat, karena dalam medium padat sel-sel mikroba akan terbentuk
suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutejo dkk, 1991).
a.
Beberapa teknik isolasi mikrobia
1) Teknik penanaman dari suspensi
Teknik penanaman ini merupakan lanjutan dari
pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran
mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal)
diambil beberapa tabung pengenceran terakhir.
2) Spread plate (agar tabur ulas)
Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan
suspensi bakteri di permukaan agar, agar diperoleh kultur murni. Prosedur
kerjanya adalah suspensi cairan diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet
kemudian teteskan diatas permukaan agar yang telah memadat. Trigalski kemudian
dibakar diatas bunsen dan didinginkan beberapa detik. Kemudian suspensi
diratakan dengan menggosokannya pada permukaan agar , penyebaran akan lebih
efektif bila cawan ikut diputar.
3) Pour plate (agar tuang)
Teknik ini
memerlukan agar yang belum padat dan dituang bersama suspensi bakteri ke dalam
cawan petri dan dihomogenkan lalu dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebabkan
sel-sel bakteri tidak hanya terdapat pada permukaan agar saja tapi juga di
dalam atau dasar agar sehingga bisa diketahui sel yang dapat tumbuh dipermukaan
agar yang kaya O2 dan di dalam agar yang tidak banyak begitu
banyak mengandung O2. Prosedur kerjanya adalah petridish, tabung
pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair disiapkan.
Kemudian 1 ml suspensi bakteri diteteskan secara aseptis ke dalam cawan kosong· Lalu
medium yang masih cair dituang ke dalam petridish lalu petridish di putar
membentuk angka 8 agar suspensi bakteri dan media homogen, kemudian diinkubasi.
Pada spread plate
diteteskannya bakteri sebanyak 0,1 ml dan pada pour plate diteteskan
sebanyak 1 ml karena spread plate bertujuan untuk menumbuhkan
dipermukaanya saja, sedangkan pour plate membutuhkan ruang
yang lebih luas untuk penyebarannya sehingga diberikan lebih banyak dari
pada spread plate.
4) Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak)
Bertujuan untuk
mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam
medium baru.
5) Goresan Sinambung
Prosedur
kerjanya adalah inokulum loop (ose) disentuhkan pada koloni bakteri dan gores
secara kontinyu sampai setengah permukaan agar. Lalu petridish diputar 180o
dan dilanjutkan goresan sampai habis. Goresan sinambung umumnya digunakan bukan
untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau
medium baru.
6) Goresan T
Prosedur
kerjanya adalah petridish dibagi menjadi 3 bagian menggunakan spidol dan daerah
tersebut diinokulasi dengan streak zig-zag. Ose dipanaskan dan didinginkan,
lalu distreak zig-zag pada daerah berikutnya.
7) Goresan Kuadran (Streak quadrant)
Hampir sama
dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda yaitu dibagi empat. Daerah
1 merupakan goresan awal sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma.
Goresan selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga
jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.
b.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan isolasi
1)
Sifat setiap jenis mikroba yang akan
diisolasi.
2)
Tempat hidup atau asal mikroba tersebut.
3)
Medium pertumbuhan yang sesuai.
4)
Cara menginkubasi mikroba.
5)
Cara menginokulasi mikroba.
6)
Cara menguji bahwa mikroba yang diisolasi
telah berupa kultur murni dan sesuai dengan yang dimaksud.
7)
Cara memelihara agar mikroba yang telah
diisolasi tetap merupakan kultur murni.
c. Metode Isolasi mikroba
Menurut hadioetomo (1993), ada metode yang dilakukan untuk memperoleh biakan
murni yaitu:
1) Metode cawan gores
Metode ini mempunyai dua keuntungan, yanti menghemat
bahan dan waktu. metode cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan
akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan.
2) Metode cawan tuang
Cara lain untuk memperoleh koloni murni dari populasi
campuran mikroorganisme adalah dengan mengencerkan specimen dalam medium agar
yang telah dicairkan dan didinginkan (±500C) yang kemudian
dicawankan. Karena konsentrasi sel-sel mikroba di dalam specimen pada umumnya
tidak diketahui sebelumnya, maka pengenceran perku dilakukan beberapa tahap
sehingga sekurang-kurangnya satu diantara cawan tersebut mengandung koloni
terpisah diatas permukaan ataupun di dalam agar. Metode ini memboroskan bahan dan
waktu namun tidak memerlukan keterampilan yang tinggi.
3) Teknik
sebar (spread plate)
Teknik isolasi mikroba dengan cara menyebarkan mikroba
pada permukaan media yang akan digunakan.
3) Teknik pengenceran (dilution
method)
Suatu sampel dari suatu suspense yang berupa campuran
bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri. Dari
hasil pengenceran ini kemudian diambil kira-kira 1 mL untuk diencerkan lebih
lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 mL untuk disebarkan
pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan beberapa
koloni yang akan tumbuh dalam medium tersebut, akan tetapi mungkin juga kita
hanya akan memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini dapat kita
jadikan piaraan murni. Jika kita belum yakin bahwa koloni tunggal yang kita
peroleh tersebut merupakan koloni yang murni, maka kita dapat mengulang
pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel.
5) Teknik
micromanipulator
Mengambil satu bakteri dengan mikropipet yang
ditempatkan dalam micromanipulator, kemudian ditempatkan dalam
micromanipulator, kemudian dipempatkan dalam medium encer untuk dibiakkan.
Proses pemisahan/pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena
semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme,
memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme
saja. Teknik tersebut dikenal dengan isolasi mikroba.
1)
Isolasi pada agar cawan
Prinsip pada metode isolasi pada agar cawan adalah
mengnecerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat
dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada
cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat
beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu: metode gores
kuadran, dan metode agar cawan tuang. Metode gores kuadran, merupakan metode
yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan isolasi mikroorganisme, dimana
setiap koloni berasal dari satu sel. Metode agar tuang berbeda dengan metode
gores kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan
didinginkan (500C) yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu
dilakukan sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang
terpisah diatas permukaan/di dalam cawan.
2)
Isolasi pada medium cair
Metode isolasi pada medium cair dilakukan bila
mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan (medium padat), tetapi hanya
dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu dilakukan pengenceran
dengan beberapa serial pengenceran. Semakin tinggi pegenceran peluang untuk
mendapatkan satu sel semakin besar.
3)
Isolasi sel tunggal
Metode isolasi sel tunggal dilakukan untuk mengisolasi
sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode
agar cawan/medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan
perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan
menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun micromanipulator, yang
dilakukan secara aseptis.
e. Prosedur
Alat dan bahan
- Alat:
- Jarum inokulasi
- Pembakar
Bunsen/spritus
- Orbital
shaker
- Tabung
reaksi
- Cawan
petri
- Incubator
- Pemanas
air
- Pipet
volume 1 mL
- Spreader
Bahan:
- Media NB
steril
- Biakan
bakteri
- Media
nutrient agar miring
- Media NA
steril
- Kapas
Cara kerja dalam praktek
mengisolasi mikroba
a. Isolasi ke media cair
1.
Memegang jarum inokulasi dan tabung berisi biakan
bakteri
2.
Memanaskan jarum inokulasi
3.
Memasukkan jarum inokulasi ke dalam tabung bakteri
4.
Jarum diangkat, memanaskan mulut tabung dekat api
5.
Tabung ditutup dengan kapas
6.
Mengambil media NB dengan tangan kiri dan buka
7.
Memanaskan mulut labu media
8.
Memasukkan ujung jarum inokulasi
9.
Mengangkat jarum
10. Memanaskan mulut labu dan menutupnya
11. Kultur diinkubasi pada temperature tertentu sambil
digoyang dalam orbital shaker.
b. Isolasi ke media padat
b.1. Agar miring
1. Secara steril gesekkan jarum inokulasi ke biakan
bakteri di atas permukaan agar miring ke dalam tabung reaksi pertama dengan
cara zigzag.
2.
Tabung kedua merupakan tabung control.
3.
Kedua tabung diinkubasi pada temperature 370C
selama 48 jam.
4.
Baakteri berkembang biak dan berkoloni.
b.2. Agar dalam cawan petri
1. Memanaskan tabung-tabung berisi agar dalam pemanas 1000C
hingga agarnya mencair.
2.
Membuka bungkusan cawan petri dan tempatkkan di atas
meja.
3.
Mengambil satu tabung berisi media agar, dan dinginkan
sampai suhunya ± 550C.
4.
Membuka tutup tabung dlam keadaan miring dan panaskan
mulut tabung dalam nyala api.
5.
Membuka tutup cawan petri dan masukkan agar dalam
cawan.
6.
Memaskan mulut cawan petri.
7.
Menutup cawan petri.
8.
Mendiamkannya hingga media agar beku.
b.2.1.Isolasi dengan teknik geser
1.
Memijarkan jarum inokulasi
2.
Membasahi jarum inokulasi dengan suspense bakteri
3.
Menggeser bagian jarum yang telah dibasahkan pada
permukaan media agar dalam cawan petri dengan membuat sejumlah garis lurus yang
sejajar.
4.
Memutar cawan 900C.
5.
Menggeser jarum dimulai dari ujung garis geseran
terakhir dan geserkan kembali membentuk garis lurus sejajar.
6.
Memutar kembali berlawanan arah jarum jam, ulangi 1
atau 2x.
7.
Menutup cawan petri dan membakar mulutnya.
8.
Menyimpannya pada temperature inkubasi yang
ditentukan.
b2.2. Isolasi menggunakan teknik tuang/pour plate dengan pengenceran
sampel.
1.
Memberi label pada 3 tabung akuades steril
masing-masing 10-1, 10-2, dan 10-3.
2.
Memberi label pada cawan petri masing-masing 10-1,
10-2, dan 10-3.
3.
Memanaskan media NA beku hingga mencair.
4.
Mendingikannya sampai kira-kira 550C.
5.
Mengambil 1 mL suspense bakteri lalu masukkan dalam
tabung akuades 10-1.
6.
Mengambil 1 mL dari tabung 10-1 dan
masukkan dalam tabung 10-2.
7.
Mengambil 1 mL dari tabung 10-2 dan
masukkan dalam tabung 10-3.
8.
Mengambil 1 mL sampel dan masukkan dalam cawan petri.
9.
Memasukkan media NA yang temperaturnya ±550C
dan tunggu hingga mengeras.
10. Memasukkannya dalam incubator dalam posisi terbalik.
11. Mengamati koloni yang timbul.
b.2.3. Isolasi dengan teknik sebar
1.
Mengambil 1 Ml suspense bakteri.
2.
Memasukkannya dalam cawan petri berisi media NA.
3.
Memanaskan spreader.
4.
Menunggu hingga agak dingin.
5.
Meratakan suspense bakteri diatas permukaan media agar
dengan spreader. Menginkubasi kultur pada temperature yang sesuai.
1. Teknik
Inokulasi
a. Metode Inokulasi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi
biakan murni mikroorganisme yaitu :
1)
Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari
sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang
diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni
yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan
petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan
terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni.
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat
bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis.
Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi
tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng
medium pembiakan.
2) Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar
nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok
dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat
digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran
bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni
koloni yang terpisah-pisah.
3) Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara
pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme
sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni,
1997).
4) Metode
tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau
menusukan ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian
dimasukkan ke dalam media (Winarni, 1997).
b. Macam-Macam Media
Ada beberapa macam media yang digunakan untuk inokulasi yaitu :
1. Mixed culture :
berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme.
2. Plate culture: media padat dalam petridish.
3. Slant culture : media padat dalam tabung reaksi.
4. Stap culture : media padat dalam tabung reaksi, tetapi penanamannya dengan
cara penusukan.
5. Liquid culture : media cair dalam tabung reaksi.
6. Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya dikocok.
Populasi mikroba di alam sekitar
kita besar lagi kompleks. Beratus-ratus spesies pelbagai mikroba biasanya
menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan,
dan kulit. Mereka terdapat dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Sebagai
contoh, sekali bersin dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme.
Alam sekitar kita, udara, tanah,
dan air juga dihuni kumpulan mikroorganisme. Penelitian yang layak mengenai
mikroorganisme dalam berbagai habitat ini memerlukan teknik untuk
memisah-misahkan populasi campuran yang rumit ini, atau biakan campuran menjadi
spesies-spesies yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni terdiri dari
suatu populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk.(1;85)
Isolasi adalah merupakan cara
memisahkan mikroorganisme tertentu dari lingkungan, sehingga dapat diperoleh
biakan yang sifatnya murni, sehingga biakan tersebut disebut kultur murni. (2;28).
Pekerjaan memindahkan mikroba
dari medium lama ke medium yang baru harus dilaksanakan secara teliti. Terlebih
dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang sangkut paut dengan medium
dan pekerjaan inokulasi (penanaman) itu benar-benar steril, hal ini untuk
menghindarkan kontaminasi, yakni masuknya mikroorgasnisme yang tidak kita
inginkan.
c. Langkah pada pekerjaan inokulasi dan isolasi mikroba
1) Menyiapkan
ruangan
Ruang tempat inokulasi harus bersih, dan bebas angin.
Dinding ruang yang basah menyebabkan butir-butir debu menempel. Pada waktu
mengadakan inokulasi, baik sekali bila meja tempat inokulasi didasari dengan
kain basah. Pekerjaan inokulasi dapat dilakukan di dalam suatu kotak berkaca
(enkas).
2) Pemindahan
dengan Kawat Inokulasi
Ujung kawat inokulasi sebaiknya dari platina atau dari
nikrom; ujung kawat boleh lurus, boleh juga berupa kolongan yang berdiameter
1-3 mm. Lebih dahulu ujung kawat ini dipijarkan, sedang sisanya sampai tangkai
cukup dilewatkan nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat itu
disentuhkan suatu koloni. Mulut tabung tempat pemiaraan itu juga dipanasi
setelah sumbatnya diambil. Setelah pengambilan inokulum (sampel bakteri)
selesai, mulut tabung dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung
kawat yang membawakan inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada
suatu kaca benda, kalau tujuannya memang akan membuat suatu sediaan.
3) Pemindahan
dengan Pipet
Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air
minum atau penyelidikan susu. Untuk itu diambillah 1 ml sampel untuk diencerkan
dengan 99 ml air murni yang disterilkan. Dalam pengenceran ini tergantung dari
keadaan air atau susu yang diselidiki. Kemudian diambil 1 ml dari enceran ini
untuk dicampur-adukkan dengan medium agar-agar yang masih dalam keadaan cair.
Lalu agar-agar yang masih encer dituangkan di cawan petri. Setelah agar-agar
membeku, maka cawan petri yang berisi piaraan baru itu disimpan dalam tempat
yang aman, misalnya dalam inkubator.
4) Teknik biakan murni (Cara Menyendirikan
Biakan Murni)
Di alam bebas tidak ada mikroba
yang hidup tersendiri terlepas dari spesies yang lain. Seringkali mikroba
patogen kedapatan secara bersama-sama dengan mikroba saproba (saprobakteri).
Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu
biakan murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemaran dari
luar. Medium untuk membiakkan mikroba haruslah steril sebelum digunakan.
Pencemaran (kontaminasi) dari luar terutama berasal dari udara yang mengandung
banyak mikroorganisme. (3;64-65)
d. Teknik biakan murni untuk suatu spesies
1) Cara
Pengenceran
Caranya adalah dengan mengencerkan suatu suspensi yang
berupa campuran bermacam-macam spesies kemudian diencerkan dalam suatu tabung
tersendiri. Dari pengenceran ini kemudian diambil 1 ml untuk diencerkan lagi,
diambil lagi untuk disebarkan pada suatu medium padat. Kemungkinan besar kita
akan mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin
juga kita memperoleh satu koloni saja. Dalam hal demikian, kita telah
memperoleh satu koloni murni, dan selanjutnua spesies ini dapat kita jadikan
piaraan murni (biakan murni).
8)
Cara
Penuangan
Caranya adalah dengan mengambil sedikit sampel
campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel itu kemudian disebarkan
dalam satu medium dari kaldu dan gelatin encer. Setelah medium mengental, maka
selang beberapa jam kemudian nampaklah koloni yang masing-masing dapat dianggap
murni.
9)
Cara
Penggesekan / Penggoresan
Cara ini lebih menguntungkan bila ditinjau dari sudut
ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan yang diperoleh dari latihan.
Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Tetapi
kelemahan cara ini adalah bakteri-bakteri anaerob tidak dapat tumbuh.
Ada beberapa teknik penggesekkan, yakni :
o Goresan
T
§ Lempengan
dibagi menjadi 3 bagian dengan huruf T pada bagian luar dasar cawan Petri
§ Inokulasikan
daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung
§ Panaskan
ose dan biarkan dingin kembali. Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan
teruskan goresan di daerah II
§ Pijarkan
kembali ose, Prosedur di atas diulangi untuk daerah III
o Goresan kuadran
Teknik ini sama
dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi 4.
o Goresan radian
§ Goresan
dimulai dari bagian pinggir lempengan
§ Pijarkan
sengkelir dan dinginkan kembali
§ Putar lempengan agar 900 dan
buat goresan terputus dimulai dari bagian pinggir lempengan
§ Putar lempengan agar 900 dan
buat goresan terputus di atas goresan sebelumnya
§ Pijarkan
ose
o Goresan sinambung
§ Ambil
satu mata ose suspensi dan goreskan setengah permukaan lempengan agar
§ Jangan
pijarkan ose,putar lempengan 1800 ,gunakan sisi mata ose yang
sama dan gores pada sisa permukaan lempengan agar
4) Cara
penyebaran
Pengenceran sampel seperti pada cara penuangan.,Dengan
memipet sebanyak 0,1 ml cairan dari botol pengencer dan biarkan cairan mengalir
ke atas permukaan agar.Cairan sampel disebarkan dengan penyebar yang terbuat
dari gelkas. Pada teknik ini sterilisasi penyebar dilakukan dengan mencelupkan
alkohol terbakar habis. Penyebar didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk
menyebarkan cairan sampel pada permukaan agar.Penyebaran cairan
contoh(sampel)dilakukan dengan memutar agar lempengan tersebut.
5) Cara
pengucilan satu sel(sinle cell isolation)
Cara ini dengan menggunakan suatu
alat yang dapat memungut satu bakteri dari sekian banyak bakteri,dengan tanpa
ikutnya bakteri yang lain.,Alat semacam ini tidak mudah untuk
menggunakannya.Alat iu berupa mikropipet yang ditempatkan pada suatu
mikromanipulator.(3;65-69)
Flora mikroba di lingkungan mana
saja pada umumnya terdapat dalam populasi campuran. Boleh dikatakan amat jarang
mikroba dijumpai sebagai satu spesies tunggal di alam. Untuk mencirikan dan
mengidentifikasi suatu spesies tersebut harus dapat dipisahkan dari organisme
lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan
murni. Sesungguhnya ada beberapa metode untuk memperoleh biakan murni dari
suatu biakan campuran. Dua diantaranya yang paling sering digunakan yaitu:
Metode cawan gores dan Metode cawan tuang (4;62-69)
Suspensi mikrobmikroba digoreskan
pada agar lempengan, agar miring atau media cair. Sifat biakan dari suatu
mikroorganisme tergantung pada penampilannya pada berbagai media. Ciri berikut
ini digunakan untuk mengevaluasi biakan:
§ Agar
Miring
Sifat pertumbuhan pada agar miring terlihat sebagai
tidak ada, sedikit, atau subur. Pengamatan pembentukan warna koloni.
Mikroba yang tumbuh dengan subur diatas permukaan suatu media akan telihat
lebih buram dibanding dengan pertumbuhan yang tidak subur.
§ Media
Cair
Sifat pertumbuhan pada bagian permukaan, dibawah
permukaan dan dasar tabung dapt terlihat dengan jelas. Pada beberapa mikreoba
terlihat pembentukan partikelyang tebal pada lapisan pemukaan. Dibawah lapisan
permukaan dapat terlihat pertumbuhan yang keruh,bergranula, atau flokulen,
sedangkan pada bagian dasar kadangkala terlihat sedimenberupa granula kental
atau terdiri dari partikel besar.
§ Agar
lempengan
Koloni yang tumbuh diatas lempeng perlu diperhatikan
warna, sifat tembus cahaya, pinggiran, sifat permukaan dan bentuknya. (5;78-79)
Kunci pokok dalam mempelajari identifikasi
mikroorganisme termasuk bakteri adalah adanya kultur murni hasil isolasi
mikroorganisme, sehingga identifikasi dapat berhasil dengan baik, apabila
diperoleh isolat yang telah murni. Kultur murni adalah suatu koloni yang
berasal dari satu sel mikroorganisme atau bakteri. Kebanyakan identifikasi
sangat tergantung dari raksi-reaksi positif atau negatif yang spesifik yang
disebabkan oleh suatu kultur murni. Adanya pencemaran mikroorganisme lain, akan
menyebabkan hasil uji dapat positif atau negatif palsu. Sehingga dalam
mikrobiologi klinik akan memperoleh hasil diagnosa salah atau palsu. (6;322)
Begitu pentingnya kultur murni dalam identifikasi
mikroorganisme (bakteri), maka cara-cara untuk memperoleh kultur menjadi sangat
fundamental bagi bidang mikrobiologi. Cara termudah untuk memperoleh kultur
murni adalah dengan cara penanaman dalam plat agar secara goresan atau dengan
taburan. Sel inokulum akan tersebar diatas media agar sedemikian rupa, sehingga
koloni yang tumbuh merupakan koloni yang berasal dari satu sel. Koloni-koloni
tersebut selanjutnya digoreskan kembali pada medium agar yang lainnya untuk
mengecek kemurniannya. (6;323)
Cara lain untuk mempermudah mengenal kultur murni
adalah dengan menggunakan media differensial. Suatu reaksi dengan medium
memungkinkan differensiasi antara dua atau lebih mikroorganisme. Mikroorganisme
yang diinginkan mungkin tidak terbedakan, tetapi kemungkinan-kemungkinan akan
memperkecil kelompok yang dicari. (6;325)
Bacillus Subtilis diasosiasikan dengan keracunan
makanan dan bermacam infeksi, seperti septicemia, Panophthalmitis, Pneumonia,
infeksi luka dan seritonitis. Koloni bacillus subtilis adalah besar dan
biasanya berpigmen kuning atau merah jambu sampai oranye atau coklat.
Bacillus merupakan sel berbentuk batang dengan ukuran
0,3-2,2 µm x 1,27-7,0 µm. sebagian besar motif flagellum khas lateral membentuk
endospora; tidak lebih dari satu dalam satu sel sporangium. Gram positif. Metabolism dengan
respirasi sejati-Fermentasi sejati atau kedua-duanya yaitu respirasi dan
fermentasi. Aerobik sejati atau anaerobic fakultatif. Umum dijumpai dalam
tanah.
3. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroba:
a)
Suplai nutrisi
Mikroba sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan
suplai nutrisi sebagai sumber energy dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar
tersebut adalah: karbon, nitrogen, hydrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi,
dan seju,lah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan sumber-sumber
nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba hingga pada kahirnya dapat
menyebabkan kematian. Kondisi tidak bersih dan higienis pada lingkungan adalah
kondisi yang menyediakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba sehingga
mikroba dapat tumbuh berkembang di lingkungan seperti ini. Oleh karena itu
prinsip daripada menciptakan lingkungan bersih dan higienis adalah
meminimalisir sumber nutrisi bagi mikroba agar pertumbuhannya terkendali.
b)
Suhu atau temperature
Suhu merupakan salah satu faktor penting di dalam
mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Suhu dapat mempengaruhi mikroba dalam
dua cara yang berlawanan:
1.
Apabila suhunaik maka kecepatan metabolism naik dan
pertumbuhan dipercepat. Sebaliknya apabila suhu turun, maka kecepatan
metabolism akan menurun dan pertumbuhan diperlambat.
2.
Apabila suhu naik atau turun secara drastic, tingkat pertumbuhan
akan terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan rusak sehingga sel-sel
menjadi mati.
Berdasarkan hal diatas, maka suhu yang berkaitan
dengan pertumbuhan mikroorganisme digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1.
Suhu minimum yaitu suhu yang apabila berada di
bawahnya maka pertumbuhan terhenti.
2.
Suhu optimum yaitu suhu dimana pertumbuhan berlangsung
paling cepat dan optimum disebut juga suhu inkubasi.
3.
Suhu maksimum yaitu suhu yang apabila berada di
atasnya maka pertumbuhannya tidak terjadi.
c) Keasaman atau kebasaan (pH)
Setiap organisme memiliki pH masing-masing dan
memiliki pH optimum yang berbeda-beda. Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh
pada kisaran pH 8 dan nilai pH di luar kisaran 2 sampai 10 biasanya bersifat
merusak.
d) Ketersediaan oksigen
Mikroorganisme memeilki karakteristik sendiri-sendiri
di dalam kebutuhannya akan oksigen. Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya
kontaminasi medium adalah:
1. Sterilisasi medium yang kurang sempurna.
2. Medium memenuhi semua kebutuhan nutrient.
3. Proses prkatikum yang tidak aseptis.
4. Lingkungan laboratorium yang kurang steril.
DAFTAR
PUSTAKA
http://monruw.wordpress.com/2011/06/18/isolasi-bakteri/
http://marinemicrobiologyfpikunpad.files.wordpress.com/2012/04/3_mikrolaut_modul_3_ta2012.pdf
https://docs.google.com/document/d/1w9d22PNPNyy2DXr7098VMCU04M_WI8jPCy_h99IFiTk/edit?pli=1
http://www.achmadghoni.com/2012/05/isolasi-dan-inokulasi-bakteri.html
http://triandasurbakti.wordpress.com/2011/01/05/inokulasi-mikroba-mikrobiologi/http://rizqanjb.blogspot.com/2012/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://marinemicrobiologyfpikunpad.files.wordpress.com/2012/04/3_mikrolaut_modul_3_ta2012.pdf
https://docs.google.com/document/d/1w9d22PNPNyy2DXr7098VMCU04M_WI8jPCy_h99IFiTk/edit?pli=1
http://www.achmadghoni.com/2012/05/isolasi-dan-inokulasi-bakteri.html
http://triandasurbakti.wordpress.com/2011/01/05/inokulasi-mikroba-mikrobiologi/http://rizqanjb.blogspot.com/2012/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://monruw.wordpress.com/2011/06/18/isolasi-bakteri/
http://marinemicrobiologyfpikunpad.files.wordpress.com/2012/04/3_mikrolaut_modul_3_ta2012.pdf
https://docs.google.com/document/d/1w9d22PNPNyy2DXr7098VMCU04M_WI8jPCy_h99IFiTk/edit?pli=1
http://www.achmadghoni.com/2012/05/isolasi-dan-inokulasi-bakteri.html
http://triandasurbakti.wordpress.com/2011/01/05/inokulasi-mikroba-mikrobiologi/ http://rizqanjb.blogspot.com/2012/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://marinemicrobiologyfpikunpad.files.wordpress.com/2012/04/3_mikrolaut_modul_3_ta2012.pdf
https://docs.google.com/document/d/1w9d22PNPNyy2DXr7098VMCU04M_WI8jPCy_h99IFiTk/edit?pli=1
http://www.achmadghoni.com/2012/05/isolasi-dan-inokulasi-bakteri.html
http://triandasurbakti.wordpress.com/2011/01/05/inokulasi-mikroba-mikrobiologi/ http://rizqanjb.blogspot.com/2012/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar