Selasa, 21 Januari 2020

Uji Kualitas Air dan Makanan


UJI KUALITAS AIR DAN MAKANAN
Pengujian Zat Anti Mikroba Pada Makanan Awetan

Nama : Aura Siti Rahmawati
Kelas : X-Analis 1
Pembimbing : Dra. Hj. Ani Syafaatin



    











Laboratorium Mikrobiologi
SMK NEGERI 7 BANDUNG
2015-2016

KATA PENGANTAR
            Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, dengan ini kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah Indonesia yang berjudul “Uji Kualitas Air dan Makanan”
            Adapun makalah Mikrobiologi tentang " Uji Kualitas Air dan Makanan " ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan dari banyak pihak, sehingga dapat memperlancar proses pembuatan makalah ini. Oleh sebab itu, kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Guru yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah Mikrobiologi  ini.
      Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah Mikrobiologi tentang " Uji Kualitas Air dan  Makanan" ini dapat diambil manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca. Selain itu, kritik dan saran dari ibu guru kami tunggu untuk perbaikan makalah ini nantinya.


Bandung, 1 Mei  2016

Aura Siti Rahmawati









Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
A.      Pendahuluan 1
B.      Uji Salmonella 2
C.      Uji Shigella 5
D.      Uji Staphylococcus Aureus 7
E.       Uji Clostridium.....................................................................................................................10
F.       Pengujian Zat Anti Mikroba Pada Makanan Awetan..........................................................15
G.     Daftar Pustaka....................................................................................................................21
















A.    Pendahuluan
      Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman. (UU RI no 7 Tahun 1996)
      Saat ini aneka jenis makanan yang  berkembang semakin beragam, begitu juga  dengan biskuit. Saat ini banyak biskuit yang beredar di pasaran dengan berbagai bentuk dan rasa yang bermacam-macam. Namun tidak semua biskuit yang beredar dipasaran memenuhi standar  SNI  yang ditetapkan sehingga berbahaya bagi kesehatan konsumen. Hal ini dapat terjadi karena biskuit telah terkontaminasi oleh cemaran fisik, kimia, maupun mikroba (Hartoko, 2007).
      Dalam bidang pangan banyak mikroorganisme yang mempunyai peranan, baik peranan positif (memberikan keuntungan) atau peranan negatif (menimbulkan kerugian). Peranan mikroorganisme dalam bidang pangan diklasifikasikan menjadi beberapa bagian (Budiyanto, 2002).
Beberapa mikroorganisme menggunakan makanan yang sama dengan yang kita makan sehingga, untuk sebagian besar, pengawet makanan melibatkan pembinasaan mikroorganisme yang terdapat pada makanan atau pencegahannya agar tidak tumbuh (Volk, 1990).
      Selain harus bergizi dan menarik, pangan juga harus bebas dari bahan-bahan berbahaya yang dapat berupa cemaran kimia, mikroba dan bahan lainnya. Mikroba dapat mencemari pangan melalui air, debu, udara, tanah, alat-alat pengolah (selama proses produksi atau penyiapan) juga sekresi dari usus manusia atau hewan. Penyakit akibat pangan (food borne diseases) yang terjadi segera setelah mengkonsumsi pangan, umumnya disebut dengan keracunan. Pangan dapat menjadi beracun karena telah terkontaminasi oleh bakteri patogen yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang biak selama penyimpanan, sehingga mampu memproduksi toksin yang dapat membahayakan manusia. Selain itu, ada juga makanan yang secara alami sudah bersifat racun seperti beberapa jamur/tumbuhan dan hewan. Umumnya bakteri yang  terkait dengan keracunan makanan diantaranya adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, Listeria monocytogenes, Yersinia enterocolityca, Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens, Clostridium botulinum, Bacillus cereus, Vibrio cholerae. Vibrio parahaemolyticus, E.coli enteropatogenik dan Enterobacter sakazaki (Sudian 2008)
      Berbagai penyakit atau infeksi yang berbeda-beda mungkin terjadi karena memakan makanan yang terkontaminasi dengan organisme patogen.  Infeksi makanan terjadi karena memakan makanan yang mengandung organisme hidup yang mampu sembuh atau bersporulasi dalam usus yang menimbulkan penyakit (Volk, 1990).
Pengujian mutu suatu bahan pangan diperlukan berbagai uji yang mencakup uji fisik, uji kimia, uji mikrobiologi, dan uji organoleptik. Uji mikrobiologi merupakan salah satu uji yang penting, karena selain dapat menduga daya tahan simpan suatu makanan, juga dapat digunakan sebagai indikator sanitasi makanan atau indikator keamanan makanan. Pengujian mikrobiologi diantaranya meliputi uji kualitatif untuk menetukan mutu  dan daya tahan suatu makanan, uji kuantitatif bakteri patogen untuk menentukan tingkat keamanannya, dan uji bakteri indikator untuk mengetahui tingkat sanitasi makanan tersebut (Fardiaz, 1993)




B.     Uji Salmonella
Salmonella merupakan kuman berbentuk batang, tidak berspora, dan pada pewarnaan gram bersifat gram negative. Mempunyai ukuran 1-3.5µm x 0.5-0.8µm. salmonella dapat tumbuh cepat pada media yang sederhana tetapi mereka hamper tidak pernah memfermentasikan laktosa atau sukrosa. Salmonella biasanya akan memberikan sifat positif dengan mengeluarkan bau gas H2S dan adanya gelembung pada tabung reaksi. Dan salmonella tahan dalam air yang membeku pada periode yang lama, dan salmonella pun tahan terhadap bahan kimia tertentu.
Salmonella yang merupakan bakteri gram negatif, dapat menyebabkan penyakit demam tifoid, yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella typhi atau salmonella paratyphi. Yang mempunyai tanda – tanda khas berupa perjalanan yang cepat yang berlangsung lebih kurang 3 minggu disertai demam, toksemia, gejala – gejala perut, pembesaran limpa dan erupsi kulit. Dan penyakit tifus (Typhus Abdominalis) adalah infeksi penyakit akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. Selain itu Salmonella mungkin paling dikenal sebagai penyebab keracunan makanan bakteri.
Salmonella banyak ditemui pada makanan-makanan yang tidak dibuat atau diproduksi secara higiens, oleh karena itu sebaiknya kita menghindari ataupun mengurangi makanan yang kurang higienis.
Bakteri Salmonella ditemukan pertama kali oleh Theobald Smith pada 1885 saat meneliti penyakit pencernaan pada babi. Dengan menggunakan mikroskop, Smith menemukan sekelompok bakteri berbentuk batang yang menyebabkan kematian hewan ternak tersebut.
Nama Salmonella sendiri baru diberikan oleh Daniel Edward Salmon, rekan Smith yang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap jenis bakteri tersebut. Salmon menyimpulkan bahwa bakteri salmonella termasuk dalam genus bakteri enterobakteria gram-negatif, berbentuk batang, bisa bergerak bebas dan menghasilkan hidrogen sulfida, serta menjadi penyebab timbulnya penyakit salmonellosis.
Salmonella merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih. Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja.
Salmonella digolongkan ke dalam bakteri gram negatif sebab salmonella adalah jenis bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara gram negatif tidak.
Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal ditambahkan setelah metal ungu, yang membuat semua gram negative menjadi berwarna merah/merah muda. Pengujian ini berfungsi mengelompokkan kedua jenis bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka. Banyak species bakteri gram negative bersifat patogen ( penyebab penyakit) yang berarti mereka berbahaya bagi organisme inang. Sifat patogen ini berkaitan dengan komponen tertentu pada dinding sel gram negative terutama lapisan lipopolisakarida atau dikenal sebagai endotoksin.
Salmonellosis
Bakteri Salmonella berkembang pada saluran pencernaan binatang seperti babi, sapi, dan ayam. Bakteri tersebut kemudian menyebar melalui makanan hingga menginfeksi manusia. Tak jauh beda dengan binatang, saat menginfeksi manusia, Salmonella bersarang di saluran pencernaan, mulai dari lambung hingga usus halus. Umumnya, bakteri Salmonella menimbulkan salmonellosis berupa penyakit tifus atau paratifus.
Seseorang yang terinfeksi bakteri Salmonella, akan menunjukkan gejala berupa diare, kram perut, demam dan sakit kepala, mual, bahkan muntah-muntah. Suhu tubuh pun tidak stabil dan cenderung tinggi. Dari masa inkubasi hingga munculnya gejala pertama memakan waktu antara 8-72 jam. Salmonellosis pada manusia cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Sangat fatal jika menyerang bayi, balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia.
Suhu Hangat
Bakteri Salmonella berkembang baik pada suhu hangat. Karena itu, infeksi salmonella lebih banyak terjadi pada musim panas. Biasanya, bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui media makanan yang tidak dipanaskan dengan benar, misalnya: daging, ayam, telur, atau susu. Atau, bisa juga melewati makanan mentah yang telah terkontaminasi bakteri.
Perkembangan bakteri Salmonella terbilang sangat cepat dan menakjubkan, setiap selnya mampu membelah diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat dan pada media tumbuh yang mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel bakteri bisa berkembang menjadi 90.000 hanya dalam waktu 6 jam.
Membahayakan Nyawa
Salmonellosis terutama tifus dan paratifus yang menyerang manusia bisa membahayakan nyawa. Walaupun bakteri tersebut bisa dihambat perkembangannya oleh asam lambung, tapi dalam kondisi tubuh seseorang tidak dalam keadaan vit, atau terlalu lelah, asam lambung tidak mampu mengatasi perkembangan bakteri tersebut.
Seseorang yang terkena salmonellosis biasanya mengeluarkan banyak cairan karena diare dan muntah-muntah. Di sisi lain, nafsu makan dan minum pun menurun drastis karena sensasi rasa mual. Kekurangan cairan yang berlebihan inilah yang menjadi salah satu penyebab kematian.
Selain itu, Salmonella dengan mudah bisa berkembang dan menular kepada orang lain. Sebab, bakteri tersebut terdapat pula pada sisa kotoran, urine, dan muntahan penderita yang dengan cepat bisa mengontaminasi air, udara, dan makanan di sekitarnya. Karena itu, perlu kehati-hatian dan perhatian khusus agar jangan sampai bakteri berkembang dan menulari orang lain. Caranya dengan menjaga kebersihan dan hati-hati dalam mengonsumsi makanan.
Salmonella pada Telur
Salmonella berkembang pada saluran pencernaan ternak, tidak terkecuali pada ayam dan telur. Ayam yang terinfeksi bakteri Salmonella bisa menyebarkan penyakit tersebut lewat daging, telur, baik kulit maupun isinya. Karena itu, hendaknya kita berhati-hati mengonsumsi telur sebab media inilah yang paling banyak menularkan penyakit.
Saat ini, banyak makanan yang dikonsumsi mengandung telur mentah atau setengah matang. Cara mengonsumsi makanan semacam ini sangat rawan terpapar bakteri tersebut. Karena itu, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi telur dalam kondisi matang dan melalui proses pemanasan yang baik agar bakteri Salmonella di dalamnya mati.
Sebenarnya, secara alami, cangkang telur memiliki lapisan yang melindungi isi telur dari paparan bakteri Salmonella. Namun, lapisan tersebut hanya bertahan sekitar 10 hari. Belum lagi kalau lapisan pada bagian luar cangkang tersebut rusak karena air atau cairan lain. Bakteri Salmonella bisa menembus masuk ke dalam isi telur dan berkembang di dalamnya.
Mencegah Penularan
Untuk mencegah penularan Salmonella, sebaiknya jangan mengonsumsi telur dalam keadaan mentah atau setengah matang. Panaskan terlebih dahulu makanan yang hendak dikonsumsi dengan benar. Perlu diketahui bahwa bakteri Salmonella tidak mati hanya dengan disimpan di dalam lemari pendingin, sebab bakteri tersebut mampu bertahan di suhu dingin.
Mungkin Anda menyimpan daging atau telur di dalam lemari pendingin, dan memanaskannya sebelum dikonsumsi. Tapi hendaknya diperhatikan, segera buang bungkus daging dan telur tersebut begitu Anda mengeluarkannya dari lemari pendingin. Jangan sampai bakteri yang melekat di atas benda-benda tersebut kembali mengontaminasi daging atau telur yang sudah Anda panaskan.
Gunakan pisau potong yang berbeda untuk memotong daging mentah dan daging matang yang hendak dikonsumsi. Kontaminasi silang semacam ini sering terjadi, yaitu pisau yang digunakan untuk memotong daging mentah terkontaminasi bakteri, lalu digunakan untuk memotong daging matang yang hendak dikonsumsi. Akibatnya, Salmonella menempel pada daging matang tersebut dan kita makan.
Selain itu, gunakan selalu alat-alat yang bersih dan steril. Cuci barang-barang tersebut sebelum Anda menggunakannya. Kalau perlu, rebuslah dulu dalam suhu mendidih agar bakteri benar-benar mati.
Patogenitas
Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (foodborne diseases). Pada umumnya, serotipe Salmonella menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S. typhi, S. typhimurium, dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi. Gejala demam tifus meliputi demam, mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi Salmonella dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi.
Media tumbuh
Untuk menumbuhkan Salmonella dapat digunakan berbagai macam media, salah satunya adalah media Hektoen Enteric Agar (HEA). Media lain yang dapat digunakan adalah SS agar, bismuth sulfite agar, brilliant green agar, dan xylose-lisine-deoxycholate (XLD) agar. HEA merupakan media selektif-diferensial. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan beberapa gram negatif, sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella. Media ini digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi laktosa yang paling tinggi. Salmonella tidak dapat memfermentasi laktosa, sehingga asam yang dihasilkan hanya sedikit karena hanya berasal dari fermentasi glukosa saja. Hal ini menyebabkan koloni Salmonella akan berwarna hijau-kebiruan karena asam yang dihasilkannya bereaksi dengan indikator yang ada pada media HEA, yaitu fuksin asam dan bromtimol blue.

C.     Uji Shigella
Penyebab penyakit ada 2 macam :
1.      Disebabkan oleh parasit (amuba) disebut dysenteriae amuba
2.      Disebabkan oleh basil (bakteri) disebut dysentri basiler.
Hidup di saluran pencernaan manusia atau hewan primata, dan beberapa spesies menyebabkan sakit.

KLASIFIKASI
Ordo                  : Eubacteriales
Famili                : Enterobacteriaceae
Genus                : Shigella
Spesies              : Shigella dysenteriae
                            Shigella boydii
                            Shigella flexneri
                            Shigella sonnei

MORFOLOGI
1.      Ciri-ciri khas organisma
a. Bentuk batang ukuran 0,5 -0,7 um x 2-3 um ramping Gram negatip
b. Tidak berkapsul
c. Umumnya tidak bergerak
d. Tidak membentuk spora

2.      Biakan
a. Aerob atau fakultatif anaerob
b. Koloni tampak konvex, bulat, transparan dengan pinggiran yang utuh
c. Ukuran 2-3 mm, tidak bewarna karena tidak meragi laktosa
d. Media isolasi : Mac conkey, Salmonella-Shigella agar
e. Media penyubur : Selenit
f. Uji biokimia
3.      Tes serologi

PEMBAGIAN SHIGELLA BERDASARKAN SIFAT BIOKIMIA DAN ANTIGEN
1.      Golongan A (Shigella dysenteriae )
Ditemukan oleh Tn Shiga ( 1889 & 1901 ) , Tn Kruse (1900) dan Tn Schmitzii
 ( 1927 ). Disebut juga Sh Shigae. Tidak meragi manitol. Berdasarkan antigen spesifiknya dibedakan menjadi 19 type.
Gejala berat karena dipengaruhi oleh endo dan eksotoksin yang bersifat neurotoksis, maka diertai dengan suhu badan yang tinggi. Endotoksisn merangsang mukosa usus untuk mengeluarkan cairan melalui rongga usus dalam jumlah besar sehingga menyebabkan diare jarang terjadi dehidrasi. Eksotoksin bersifat kuat (poten ) dan bertanggung jawab terhadap beratnya penyakit serta keadaan toksis penderita.

2.      Golongan B ( Shigella flexneri )
Berdasarkan antigen spesifik terdapat 6 type yang penting :
a. Sh. New castle memfermentasikan KH membentuk asam dan gas ( Gol
    Shigella lain hanya membentuk asam )
b. Satu-satunya yang mempunyai fimbria (flagel)
c. Gejala yang ditimbulkan lebih ringan dibandingkan gol A
          3.   Golongan C (  Shigella boydi )
                Yang termasuk golongan ini ada 16 type . Penyakit yang ditimbulkan lebih ringan
                dari gol A tetapi lebih berat dari gol B
          4.  Golongan D (Shigella sonnei  )
Sindrome yang ditimbulkan lebih ringan dari gol lainnya hanya ada 1 type. Termostabil (550C 1 jam yang lainnya mati ). Kuman ini mempunyai 2 macam koloni yang R dan S antigennya berbeda, fermentasi KH lambat (18-24 jam )

            PATOGENESIS
                        Infeksi peroral, bakteri masuk lambung melalui makanan dan minuman
            Masuk kedalam usus halus kemudian colon disini ditangkap epitel kemudian
 Berkembang biak dan menyebabkan sel epitel hancur kemudian menyebar ke
Lamina propria, bereplikasi disini. Akibatnya timbul ulcera-ulcera dan mikro abses mukosa kolon pada bagian terminal ileum. Terjadi nekrosis, perdarahan dan pembentukan psedomembran di atas ulcer . Akhirnya terjadi reaksi inflamasi dan trombosis kapiler.
Berbeda dengan Salmonella , Shigella tidak menyebar ke tempat lain. Adanya perdarahan kecil menyebabkan tinja berdarah dan berlendir tetapi tidak terjadi perforasi dan tidak terjadi peritonitis. Bila sembuh ulkus akan ditutup oleh jaringan granula dan terjadi jaringan parut.  Setelah sembuh secara klinis tinja yang positip bisa menjadi carrier.

EPIDEMIOLOGI
            Penularan melalui 6 F atau carrier. Di negara berkembang atau tropik, endemis dapat menjadi wabah karena sanitasi yang buruk. Untuk pemberantasan :
1.      Pengawasan sanitasi air, makanan,wash disposal vektor
2.      Pengasingan penderita dan desinfeksi alat-alat
3.      Mencari kasus-kasus subklins
4.      Mencegah carrier state, obati dengan intensif

DIAGNOSIS
1.      Gejala klinik
Masa tunas 1-4 hari, kadang-kadang beberapa jam sampai 8 hari. Tiba-tiba akut sakit perut, mulas, diare, demam terutama oleh Shigella dysenteriae  , tinja cair
Hanya berisi lendir dan darah. Defekasi frekwen disertai tenesinus ( spasm, rectal ). Terjadi dehidrasi, kemudian kegagalan ginjal dengan oliguria asidosis. Sembuh meskipun ada zat anti tidak proteksi terhadap reinfeksi
2.      Pemeriksaan laboratorium
Bahan pemeriksaan : Tinja, rektal swab dll
D.     Uji Staphylococcus Aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk bulat yang terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, tetrad atau berkelompok seperti buah anggur, jenis tidak bergerak, tidak berspora, dengan diameter 0.7 – 0.9 um, famili micrococcaceae dan termasuk gram positif.
Pembentukan kelompok  pada staphylococcus karena pembelahan sel terjadi dalam tiga bidang dan sel - sel anaknya cenderung untuk tetap berada di dekat sel induknya.
Nama bakteri ini berasal dari bahasa latin “ Staphele “ yang artinya anggur.
Beberapa spesies memproduksi pigmen berwarna kuning sampai oranye, misalnya staphylococcus aureus.
50 % penduduk membawa staphylococcus aureus dalam saluran pernafasan yaitu hidung dan kerongkongan. Daerah penyebarannya meliputi udara, debu, bahan - bahan pakaian ( pakaian jadi, tempat tidur dan kerajinan tangan ), lantai, air, sampah dan serangga.
Staphylococcus aureus biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsinya, tangan, kontaminasi dan keracunan pangan oleh staphylococcus aureus dapat juga disebabkan kontaminasi silang.
Organisme dengan mudah berpindah ke kulit terutama tangan dan rambut. Staphylococcus juga biasa menginfeksi luka, bisul dan luka terbuka. Organisme tersebut juga dijumpai pada hewan lembu dan kambing serta dalam susu segar.
Staphylococcus aureus disebarkan oleh pengelola pangan, selama pemasakan dan penyimpanannya. Penanganan pangan dengan tangan yang tidak menggunakan peralatan memadai merupakan cara penyebaran yang paling umum, terutama jika orang yang menangani pangan mengalami infeksi atau luka pada tangannya. Batuk dan bersin dekat dengan pangan dapat menyebabkan kontaminasi. Rambut yang jatuh pada makanan atau menggantung ( terurai ) dekat dengan makanan juga dapat menimbulkan bahaya.
Sebagian besar pencemar staphylococcus aureus berasal dari susu murni. Staphylococcus aureus dapat mencemari makanan dalam penyimpanan bersuhu 40 C sampai 600 Cdalam jangka waktu yang lama, proses pasteurisasi, pemanasan ultra tinggi dan pemasakan normal tidak mampu merusak enterotoksin staphylococcus aureus, dikarenakan relatif stabil dengan panas dan mampu bertahan pada pemanasan suhu air mendidih 100 0 C selama 10 menit.   
Sifat –sifat staphylococcus aureus
Bakteri staphylococcus aureus mempunyai beberapa sifat yaitu :
1. Pathogen
    adalah menyebabkan penyakit tipe toksin.
2. Memproduksi enterotoksin
    Enterotoksin adalah toksin yang spesifik terhadap sel di dalam sel usus halus dan       
    Menimbulkan gejala keracunan makanan.
    Toksinnya dapat bertahan pada suhu air mendidih 100 0 C selama 10 menit.
    Bakter staphylococcus aureus mudah mati karena panas , pemanasan pada suhu 660 c
    selama 10 menit.
3. Memproduksi koagulase
    yaitu bersifat menggumpalkan plasma.
4. Proteolitik, Lipolitik dan betahemolitik
    Proteolitik : bersifat menguraikan protein menjadi asam amino ( senyawa Nitrogen )
    Lipolitik    : bersifat menghidrolisis lemak menjadi asam lemak ( penguraian molekul
    dengan penambahan air ).
    Betahemolitik : proses lisis yang sempurna menyebabkan perubahan nyata pada media  
    ( jernih ).
5. Aerob fakultatif
     yaitu mampu tumbuh dalam lingkungan dengan atau tanpa oksigen ( O2  ).
Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus
Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba : panas, konsentrasi ion hydrogen ( pH ), adanya air, oksigen dan cahaya mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Enzim dapat mempercepat reaksi kimiawi.
  PH ( Derajat keasaman )
      Bakteri pathogen toleransi terhadap asam lebih kecil
-          Minimum   : 4.0
-          Optimum    : 6.0 – 7.0
-          Maksimum : 9.8 - 10
  aW ( Water activity ) / kelembaban
      Yaitu banyaknya air dalam pangan yang tersedia untuk digunakan oleh   m.o
-          Minimum   :  0.86
-          Maksimum :  0.98

  Suhu
Suhu / temperature merupakan faktor fisis yang sangat penting dan mempunyai   pengaruh besar terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Sehingga perubahan temperatur akan berpengaruh langsung terhadap sistim enzim bakteri. Pada suhu optimum pertumbuhan bakteri berlangsung dengan cepat. Diluar kisaran suhu optimum, pertumbuhan bakteri menjadi lambat atau tidak ada pertumbuhan. Suhu juga dapat mempengaruhi pembentukan pigmen, ini berarti bahwa pigmen hanya dihasilkan bila diinkubasikan pada suhu tertentu. Bakteri staphylococcus aureus termasuk mesofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh cepat pada kisaran suhu 200C - 500C.  Kisaran suhu yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri
      Staphylococcus aureus adalah :     
-          Minimum       :  7 – 11 0 C, suhu terendah dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.
-          Optimum    : 37 0 C, suhu dimana enzim berfungsi dengan sempurna / mikroorganisme tumbuh sempurna.
-          Maksimum        : 48 0 C, suhu tertinggi dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.

  Nutrisi ( Makanan )
      Semua mikroorganisme memerlukan nutrient yang akan menyediakan :
  Energi, biasanya diperoleh dari substansi mengandung karbon
  Nitrogen untuk sintesis protein
  Vitamin dan yang berkaitan dengan faktor pertumbuhan
  Mineral
Ada 2 jenis nutrisi dasar , organisme dapat bersifat heterotrofik dan autotrofik. Organisme heterotrofik mirip dengan hewan, karena mereka memerlukan substansi organik komplek separti protein dan karbohidrat untuk makanannya. Beberapa diantaranya dapat mempergunakan substansi dalam upaya untuk memperoleh makanan yang diperlukan, sedangkan yang lainnya menuntut lebih spesifik dan hanya tumbuh pada jenis makanan tertentu. Ada yang mensintesis vitamin seperti bakteri yang terdapat dalam usus dan yang lainnya harus memiliki vitamin yang mencukupi dari substrat. Keperluan vitamin pada bakteri dan mikroorganisme tidak sama dengan manusia.

 Tanda – tanda dan gejala keracunan Staphylococcus aureus

Keracunan makanan dari Staphylococcus aureus disebabkan oleh racun yang diproduksi selama pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme tersebut dalam makanan. Racun yang telah ada di dalam makanan apabila tertelan dapat mengiritasi permukaan lambung dengan sangat cepat, antara lain dengan tanda – tanda :
1.    Periode inkubasi : 2 – 6 jam , yaitu waktu antara saat makanan tercemar dimakan dengan munculnya gejala pertama.
2.    Dosis toxic : 1 mg toksin  ( 1 ng / g makanan ), yaitu jumlah racun yang dapat menyebabkan keracunan.
3.    Lama sakit : 24 jam , biasanya pasien dapat sembuh dari gejala – gejala keracunan dalam jangka pendek sekitar 1 – 2 hari.
4.    Gejala _gejala : muntah – muntah berat, kram perut, diare terkadang sampai pingsan.

Pencegahan atau upaya untuk mengurangi resiko keracunan oleh Staphylococcus aureus

Tindakan yang harus dilakukan oleh pengelola pangan adalah :
1.    Harus dipelihara standar hygiene yang tinggi bagi setiap orang
2.    Pangan yang mudah menyebabkan keracunan oleh Staphylococcus harus disimpan dalam pendingin.

 Analisis Staphylococccus aureus
              Untuk deteksi awal, ditujukan guna mengetahui adanya Staphylococcus aureus pada bahan baku dan finished good . Staphylococccus aureus tahan garam dan tumbuh baik pada medium yang mengandung 75 % NaCl serta dapat memfermentasi mannitol.Untuk melakukan analisa mikrobiologi yang bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri Stsphylococcus aureus dalam suatu contoh dipergunakan suatu media. Media diramu oleh ahli mikrobiologi untuk menjaring dan membedakan mikroorganisme. Media yang digunakan “ media selektif “, adalah media biakan yang mengandung paling sedikit satu bahan yang menghambat perkembangbiakan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan membolehkan perkembangbiakan mikroorganisme tertentu yang ingin diisolasi. Bahan yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme adalah antibiotic.
Pengujian bakteri Stphylococcus aureus dilakukan dalam 2 tahap, yaitu uji kualitatif dan uji kuantitatif.
Uji kualitatif dimulai dengan tahap “ enrichment “ pada medium cair selektif giolitti cantoni  kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi dan isolasi pada medium padat BPA ( Baird parker agar ) . Setelah tahap seleksi dan isolasi dilanjutkan dengan identifikasi dan typing koagulase. Tahap enrichment pada medium cair selektif Giolitti cantoni bertujuan untuk memperbanyak sel atau “ enrichment “. Pada tahap ini pada setiap contoh ditambahkan kalium tellurite yang bertujuan untuk  menghambat pertumbuhan mikroba selain Staphylococcus aureus.
Uji seleksi dan isolasi pada medium padat selektif BPA yang diberi Egg yolk ( EY ) tellurite enrichment digunakan untuk mendeteksi staphylococcus aureus yang bersifat koagulase positif di dalam contoh. Medium juga ini mengandung piruvat dan glisin untuk merangsang pertumbuhan staphylococcus .
Mikroba tidak memiliki ciri anatomi yang nyata, sehingga identifikasi bakteri didasarkan pada morfologi, sifat biakan dan sifat biokimia. Pada tahap seleksi menggunakan BPA koloni yang diduga staphylococcus aureus dapat diseleksi langsung dari cawan Petri berisi medium selektif yang ditumbuhi koloni yang spesifik staphylococcus aureus.
Uji koagulase dan uji – uji biokimia terutama ditujukan untuk membedakan staphylococcus yang bersifat pathogen ( Staphylococcus aureus ) dan non pathogen ( Staphylococcus epidermidis ). Uji koagulase ini kebanyakan staphylococcus yang bersifat koagulase positif akan menggumpalkan plasma dalam satu jam , apabila dalam satu jam belum menggumpal dilanjutkan pengamatan setelah 3 jam . Uji dinyatakan positif staphylococcus aureus meskipun penggumpalan yang terjadi hanya sedikit. 

E.     Uji Clostridium
Clostridium adalah kuman berbentuk anaerob, gram positif pembentuk spora. Banyak merusak protein atau membentuk toksin, beberapa diantaranya melakukan keduanya. Tempat hidup kuman ini di tanah tapi dapat hidup pada manusia atau hewan baik luka pada kulit atau di usus. Kebanyakan saprofit di tanah, rumput, sampah, dsb. Beberapa yang pathogen misalnya : Clostridium tetani dan Clostridium botulium.
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 µm. kuman ini berbentuk spora dan termasuk golongan gram positif, dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian berbentuk bulat yang letaknya di ujung, tampak seperti penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula akan membentuk kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, yaitu pada suhu 65C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu, dikenal juga tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses penyakit.

Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang dimanifestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu Nampak pada otot masester dan otot rangka.
Sejak jaman Hypocratus Aretus di Yunani penyakit tetanus sudah dikenal, sedangkan penyebabnya baru diteliti pada tahun 1884 oleh Tuan Carle dan Rattone. Mereka melakukan penelitian pada kelinci, kemudian pada tahun 1884 Nalaire melakukan penelitian terhadap tikus putih, marmot serta kelinci. Rosenbach 1886 dan Kitasato 1889 mlengkapi penelitian selanjutnya dalam mengindetifikasi penyakit ini.
Clostridium tetani tersebar luas di dunia. Hidup di tanah, kotoran kuda serta hewan lain. Beberapa tipe tetanus dapat dibedakan dengan antigen flagel spesifik, semuanya mempunyai antigen O yang tertutup dan menghasilkan toksin yang sama. Tempat hidup Clostridium tetani sama dengan tempat hidup Clostridium yang lain yaitu : tanah, tinja manusia, dan hewan yang tersebar di mana-mana.

Tetanus yang sungguh sudah dikenal oleh orang-orang yang dimasa lalu, yang dikenal karena hubungan antara luka-luka dan kekejangan-kekejangan otot fatal. Pada tahun 1884, Arthur Nicolaier mengisolasi toksin tetanus yang seperti strychnine dari tetanus yang hidup bebas, bakteri lahan anaerob.
Etiologi dari penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun 1884 oleh Antonio Carle dan Giorgio Rattone, yang mempertunjukkan sifat mengantar tetanus untuk pertama kali. Mereka mengembangbiakan tetanus di dalam tubuh kelinci-kelinci dengan menyuntik syaraf mereka di pangkal paha dengan nanah dari suatu kasus tetanus manusia yang fatal di tahun yang sama tersebut.
Pada tahun 1889, C.tetani  terisolasi dari suatu korban manusia, oleh Kitasato Shibasaburo, yang kemudiannya menunjukkan bahwa organisme bisa menghasilkan penyakit ketika disuntik ke dalam tubuh binatang-binatang, dan bahwa toksin bisa dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman yang spesifik.
Pada tahun 1897, Edmond Nocard menunjukkan bahwa penolak toksin tetanus membangkitkan kekebalan pasif di dalam tubuh manusia, dan bisa digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan perawatan. Vaksin lirtoksin tetanus dikembangkan oleh P.Descombey pada tahun 1924, dan secara luas digunakan untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh luka-luka pertempuran selama Perang Dunia II.

Karakteristik Clostridium tetani
 Clostridium tetani adalah bakteri berbentuk batang lurus, langsing, berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini membentuk eksotoksin yang disebut tetanospasmin. Kuman ini terdapat di tanah terutama tanah yang tercemar tinja manusia dan binatang. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif anaerobic berspora, mengeluarkan eksotoksin. Clostridium tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin. Tetanospaminlah yang dapat menyebabkan penyakit tetanus. Perkiraan dosis mematikan minimal dari kadar toksin (tenospamin) adalah 2,5 nanogram per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk 70 kilogram (154lb) manusia. 
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif. 
Spora dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan juga biasanya terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave pada suhu 249.8°F (121°C) selama 10–15 menit. Juga resisten terhadap phenol dan agen kimia yang lainnya. Secara ringkas, Morfologi dari Clostridium tetani yaitu, sebagai berikut :
1.    Gram positif batang, bentuk vegetative mempunyai ujung yang bulat.
2.    Anaerob
3.    Ukuran 2-5 x 0,5 µm
4.    Gerak aktif, flagel peritrik, spora terminal
5.    Tidak memfermentasikan dextrose, laktosa, sukrosa. Membentuk gas pada medium Cooked meat
6.    Mereduksikan nitrat
     7.    Gejala tegang pada tikus putih
8.    Pada plat darah koloni tampak seperti benang kusut (hal ini terjadi bila terkontaminasi dengan kuman lain), bila tidak ada kontaminasi koloninya seperti proteus.

Patogenitas dan Patofisiologi
            Clostridium tidak merupakan mikrorganisme yang invasif, kuman ini berada di daerah luka yang anaerob tempat spora bersarang. Meskipun luka terlihat kecil tapi penyakitnya berupa toksinia. Spora dan basil menghasilkan toksin di bantu oleh kerusakan jaringan, garam kalsium, infeksi kuman lain. Toksin dapat sampai ke susunan saraf pusat dan jaringannya sehingga menyebabkan kejang (tetanus) dan mungkin juga terjadi penumpukan acetyl cholin.
Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode inkubasi). Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis utamanya adalah hasil dari pengaruh kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri, botulisme).
Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal, tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.
Cara penularan
            Tetanus terutama ditemukan di daerah tropis dan merupakan penyakit infeksi yang penting baik dalam prevalensinya maupun angka kematiannya yang masih tinggi . Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang biasa mendatangkan kematian. Bakteri ini ditemukan di tanah dan feses manusia dan binatang. Infeksi ini muncul (masa inkubasi) 3 sampai 14 hari. Di dalam luka yang dalam dan sempit sehingga terjadi suasana anaerob. Clostridium tetani berkembang biak memproduksi tetanospasmin suatu neurotoksin yang kuat. Toksin ini akan mencapai system syaraf pusat melalui syaraf motorik menuju ke bagian anterior spinal cord.
Jenis-jenis luka yang sering menjadi tempat masuknya kuman Clostridium tetani sehingga harus mendapatkan perawatan khusus adalah: 
1.        Luka-luka tembus pada kulit atau yang menimbulkan kerusakan luas 
2.        Luka baker tingkat 2 dan 3 
3.        Fistula kulit atau pada sinus-sinusnya 
4.        Luka-luka di bawah kuku 
5.        Ulkus kulit yang iskemik 
6.        Luka bekas suntikan narkoba 
7.        Bekas irisan umbilicus pada bayi 
8.        Endometritis sesudah abortus septic 
9.        Abses gigi 
10.     Mastoiditis kronis 
11.     Ruptur apendiks 
12.     Abses dan luka yang mengandung bakteri dari tinja 
Gambaran Klinik
1)      Masa inkubasi 4-5 hari, beberapa minggu atau beberapa bulan
2)      Adanya luka dan anaerob
3)      Bakteri tetanus harus berkembang biak dan membentuk eksotoksin, diperlukan waktu untuk pengikatan jaringan yang sensitive terhadap toksin.
4)      Toksin menjalan ke seluruh badab, bakteri tetap pada luka asal, toksin sampai susunan saraf ousat dan menyebabkan kejang pada otot, mulut susah dibuka (toksinnya hanya meyerang susunan saraf) meskipun penderitanya tetap sadar.
5)      Kematian dapat mencapai 50%, biasanya karena kelumpuhan system saraf pernafasan.
Clostridium mengeluarkan eksotoksin, dapat di bentuk secara invitro pada media cair. Toksinnya sangat termolabil karena itu harus di simpan pada tempat yang gelap dan bersuhu rendah. Toksinnya sangat ganas sekali dan mematikan. Toksinnya terdiri dari dua factor :
  Tetano spasmin menyerang sel saraf penderita
  Tetanolisin menghancurkan eritrosit manusia
Secara klinik, penyakit tetanus dapat dibedakan yaitu :
1.    Tetanus local : jarang terjadi, biasanya terjadi pada orang yang kekebalannya tidak sempurna atau karena spora yang masuk sedikit. Penyakit ini tidak begitu berat.
2.    Tetanus Neonatorum : terjadi pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir (kurang dari 10 hari), terjadi karena pemotongan tali pusat yang tidak steril. Gejalanya, bayi tidak mau menyusui, gelisah, tangan mengepal, karena itu sebaiknya dilakukan pencegahan :
a.    Sebelum kontak
         Terhadap tetanus Neonatorum dengan vaksinasi ibu hamil 2 kali dalam semester II dan III dengan formotoksoid dan ATS.
         Sebagai dasar pengebalan pada anak-anak mulai umur 3 bulan tiga kali berturut-turut dengan jarak 4-6 minggu dalam bentuk DPT. Sedangkan, Booster pada umur 2-3 tahun pada saat akan masuk sekolah dan selanjutnya tiap 1-2 tahun dengan toksoid saja.
b.    Setelah kontak
Terjadi luka tapi belum timbul gejala, pemberian toksoid dan ATS :
         Ditinjau dari status kekebalan dan sifat luka.
         Dilakukantes hipersensitiviti, bila akan diberi ATS 1000-3000 SI tergantung usia.
Sesudah timbul gejala :
         Tanpa mengindahkan sudah atau belum divaksinasi, eksotoksin harus dinetralisasi dengan antitoksin dengan dosis 10000-80000 SI tergantung dari : keadaan penderita, usia penderita dan ada tidaknya komplikasi.

Diagnosis Laboratorium dan Prognosis
Diagnosis tetanus ditegakan berdasarkan gejala-gejala klinik yang khas. Secara bakteriologi biasanya tidak diharuskan oleh karena sukar sekali mengisolasi Clostridium tetani dari luka penderita , yang kerap kali sangat kecil dan sulit dikenal kembali oleh penderita sekalipun. 
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa : 
a)    Gejala klinik : Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus (sardonic smile). 
b)    Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan. 
c)    Kultur : C. tetani (+). 
d)    Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium yaitu :
1)    Bahan pemeriksaan : potongan jaringan, PUS, hapus luka, kotoran kuda atau hewan lain,bedak (talk).
2)    Media : yang di perlukan Thyoglikolat agar, Agar darah, gula-gula, Tarozi anaerob.
3)    Direct preparat : pewarnaan gram, spora, Klien, Saffer fulton.
4)    Hewan percobaan : tikus putih, lakukan penyuntikkan intra muscular dan amati sampai 7 hari. Tikus akan kejang mulai dari ekor. Tikus mati karena toksin.
Tetanus memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua dan pemakai obat suntik. Jika gejalanya memburuk dengan segera atau jika pengobatan tertunda, maka prognosisnya buruk.

Pencegahan dan Pengobatan
     Pencegahan dilakukan dengan :
1.    Immunisasi toksoid
2.    Perawatan luka dengan antiseptic
3.    Pemberian antibiotic
4.    Pemakaian antitoksin ubtuk pencegahan
5.    Pembedahan daerah luka
6.    Suntikan Booster Pengobatan
1)   Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/ 12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10
hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C. tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan. 
2)   Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar. 
3)    Tetanus Toksoid 
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap tetanus selesai 
4)   Antikonvulsan
Penyebab utama kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obat – obatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi. Contohnya : 
  Diazepam 0,5 – 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM) 
  Meprobamat 300 – 400 mg/ 4 jam (IM) 
  Klorpromasin 25 – 75 mg/ 4 jam (IM) 
  Fenobarbital 50 – 100 mg/ 4 jam (IM)
  Pemberian ATS 10000-80000 SI
  Fenolbarbital untuk mengurangi kejang.
  Penicillin untuk mengurangi/mencegah infeksi lain dan membunuh Clostridium tetani
  Hati hati saat pemberian makanan, jangan sampai makanan masuk ke saluran pernapasan (dapat menyebabkan pneumonia)
F.      Pengujian Zat Anti Mikroba Pada Makanan Awetan
Antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat dalam jumlah yang sedikitpun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain (Dwidjoseputro, 2005).
Menurut Dwidjoseputro (2005), berdasarkan daya kerjanya, senyawa antibakteri dibagi menjadi dua sifat, yaitu:
1.         Zat yang hanya bersifat menghambat pertumbuhan bakteri tanpa membunuhnya.
         Zat yang dapat membunuh bakteri (bakteriosidal).
Kebanyakan antibiotik yang efektif kerjanya mengganggu sintesis, penyusuhan atau fungsi komponen-komponen makromolekul sel. Seperti penghambatan pembentukan dinding sel oleh penisilin, penghambatan sintesis protein oleh kloramfenikol (Irianto, 2006).
Menurut Irianto (2006), diantara banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas antibiotik in vitro, hal-hal tersebut dibawah ini perlu diperhatikan, karena sangat mempengaruhi hasil-hasil pengujian, yaitu:
a.         pH lingkungan.
b.         Komponen-komponen medium.
c.         Stabilitas obat.
d.        Takaran inokulum.
e.         Lamanya inkubasi.
f.          Aktifitas metabolisme mikroorganisme.

2.2 Desinfektan dan Antibiotik
Zat yang dapat membunuh bakteri disebut desinfektan, germisida atau bakterisida. Pada umumnya bakteri yang muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan temperatur menambah daya desinfektan, selanjutnya medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu (Lutfi, 2004).
Hingga sekarang semakin banyak zat-zat kimia yang dipakai untuk membunuh atau mengurangi jumlah mikroorganisme dan penemuan-penemuan baru terus muncul dipasaran. Oleh karena itu, tidak ada bahan kimia yang ideal atau yang dapat dipergunakan untuk segala macam keperluan, maka pilihan jatuh pada bahan kimia yang mampu membunuh organisme yang ada dalam waktu yang tersingkat dan tanpa merusak segala bahan yang didesinfeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada desinfeksi secara kimia (Lutfi, 2004):
1.      Rongga yang perlu cukup diantara alat-alat yang di desinfeksi. Sehingga seluruh permukaan alat tersebut dapat berkontak dengan desinfektan.
2.      Lamanya desinfeksi harus tepat, alat-alat yang di desinfeksi jangan diangkat sebelum waktunya.
3.      Sebaiknya menyediakan hand lotion untuk merawat tangan setelah berkontak dengan desinfektan.
Berikut beberapa contoh desinfektan dan antiseptik (Widjajanti, 1996):
a. Logam-logam Berat
Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim-enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat-alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal.

b. Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2-4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu desinfektan.
Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Lisol adalah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan lainnya.

c. Alkohol
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel-sel akan rusak, dan enzim-enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni, efeknya menjadi lebih baik. Alkohol 50 -70% banyak dipergunakan sebagian desinfektan.

d . Aldehid
Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65-70% alkohol merupakan cairan pen-steril yang sangat baik apabila alat-alat direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. Senyawa lain aldehid, yakni glutaraldehid merupakan solusi se-efektif formaldehid, terutama bila pH-nya 7,5 atau lebih. Stafilokokus dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit, Mycobacterium tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit, sedangkan untuk membunuh spora diperlukan 3-12 jam. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif bagi manusia.

e. Yodium
Larutan yodium, baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan.

2.3 Metode Uji Antimikroba
1. Metoda Difusi Agar
Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar yang digunakan untuk menentukan aktivitas antimikroba. Kerjanya dengan mengamati daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar. Metoda difusi ini dibagi atas beberapa cara (Dwidjoseputro, 2005):
a.         Cara Silinder Plat
Cara ini dengan memakai alat penghadang berupa silinder kawat. Pada permukaan media pembenihan mikroba dibiakkan secara merata lalu diletakkan pencadang silinder harus benar-benar melekat pada media, kemudian di inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Setelah inkubasi, pencadang silinder diangkat dan diukur daerah hambat pertumbuhan mikroba.
b.      Cara cakram
Cakram kertas yang berisi antibiotik diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut.
c.       Cara Cup  Plat
Cara ini juga sama dengan cara cakram, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi antibiotik yang akan di uji.
2. Metoda Dilusi
Metode ini mengukur MIC (minimum inhibitory concentration atau kadar hambat minimum, KHM) dan MBC (minimum bactercidal concentration atau kadar bunuh minimum, KBM). Caranya dengan membuat pengenceran antimikroba pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji antibiotik pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun antibiotik, dan diikubasi selam 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkan sebagai KBM (Dwidjoseputro, 2005).

3. Metode Bioautografi
Merupakan metode spesifik untuk mendeteksi bercak pada kromatogram hasil KLT (kromatografi lapis tipis) yang mempunyai aktivitas antibakteri, antifungi, dan antivirus. Keuntungan metode ini adalah sifatnya yang efisien untuk mendeteksi senyawa antimikroba karena letak bercak dapat ditentukan walaupun berada dalam campuran yang kompleks sehingga memungkinkan untuk mengisolasi senyawa aktif tersebut. Kerugiannya adalah metode ini tidak dapat digunakan untuk menentukan KHM dan KBM (Dwidjoseputro, 2005).















Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar