UJI
KUALITAS AIR DAN MAKANAN
Pengujian
Zat Anti Mikroba Pada Makanan Awetan
Nama
: Aura Siti Rahmawati
Kelas
: X-Analis 1
Pembimbing
: Dra. Hj. Ani Syafaatin
Laboratorium
Mikrobiologi
SMK
NEGERI 7 BANDUNG
2015-2016
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi
Maha Panyayang, dengan ini kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Sejarah Indonesia yang berjudul “Uji Kualitas Air dan Makanan”
Adapun makalah Mikrobiologi tentang " Uji Kualitas
Air dan Makanan " ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan dari banyak pihak, sehingga dapat memperlancar proses pembuatan
makalah ini. Oleh sebab itu, kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada Ibu Guru yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah Mikrobiologi ini.
Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah Mikrobiologi tentang " Uji
Kualitas Air dan Makanan" ini dapat
diambil manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca. Selain itu,
kritik dan saran dari ibu guru kami tunggu untuk perbaikan makalah ini
nantinya.
Bandung,
1 Mei 2016
Aura
Siti Rahmawati
Daftar
Isi
Kata Pengantar
i
Daftar
Isi
ii
A.
Pendahuluan
1
B.
Uji Salmonella
2
C.
Uji Shigella
5
D.
Uji
Staphylococcus Aureus
7
E.
Uji
Clostridium.....................................................................................................................10
F.
Pengujian Zat Anti Mikroba Pada Makanan
Awetan..........................................................15
G.
Daftar
Pustaka....................................................................................................................21
A.
Pendahuluan
Pangan
adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan
lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan
makanan atau minuman. (UU RI no 7 Tahun 1996)
Saat ini
aneka jenis makanan yang berkembang semakin beragam, begitu juga dengan
biskuit. Saat ini banyak biskuit yang beredar di pasaran dengan berbagai bentuk
dan rasa yang bermacam-macam. Namun tidak semua biskuit yang beredar dipasaran
memenuhi standar SNI yang ditetapkan sehingga berbahaya
bagi kesehatan konsumen. Hal ini dapat terjadi karena biskuit telah
terkontaminasi oleh cemaran fisik, kimia, maupun mikroba (Hartoko, 2007).
Dalam
bidang pangan banyak mikroorganisme yang mempunyai peranan, baik peranan
positif (memberikan keuntungan) atau peranan negatif (menimbulkan kerugian).
Peranan mikroorganisme dalam bidang pangan diklasifikasikan menjadi beberapa
bagian (Budiyanto, 2002).
Beberapa mikroorganisme menggunakan makanan yang sama
dengan yang kita makan sehingga, untuk sebagian besar, pengawet makanan
melibatkan pembinasaan mikroorganisme yang terdapat pada makanan atau
pencegahannya agar tidak tumbuh (Volk, 1990).
Selain harus
bergizi dan menarik, pangan juga harus bebas dari bahan-bahan berbahaya yang
dapat berupa cemaran kimia, mikroba dan bahan lainnya. Mikroba dapat mencemari
pangan melalui air, debu, udara, tanah, alat-alat pengolah (selama proses
produksi atau penyiapan) juga sekresi dari usus manusia atau hewan. Penyakit
akibat pangan (food borne diseases) yang terjadi segera setelah mengkonsumsi
pangan, umumnya disebut dengan keracunan. Pangan dapat menjadi beracun karena
telah terkontaminasi oleh bakteri patogen yang kemudian dapat tumbuh dan
berkembang biak selama penyimpanan, sehingga mampu memproduksi toksin yang
dapat membahayakan manusia. Selain itu, ada juga makanan yang secara alami
sudah bersifat racun seperti beberapa jamur/tumbuhan dan hewan. Umumnya bakteri
yang terkait dengan keracunan makanan
diantaranya adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, Listeria monocytogenes,
Yersinia enterocolityca, Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens,
Clostridium botulinum, Bacillus cereus, Vibrio cholerae. Vibrio
parahaemolyticus, E.coli enteropatogenik dan Enterobacter sakazaki (Sudian
2008)
Berbagai
penyakit atau infeksi yang berbeda-beda mungkin terjadi karena memakan makanan
yang terkontaminasi dengan organisme patogen. Infeksi makanan terjadi
karena memakan makanan yang mengandung organisme hidup yang mampu sembuh atau
bersporulasi dalam usus yang menimbulkan penyakit (Volk, 1990).
Pengujian mutu suatu bahan pangan diperlukan berbagai
uji yang mencakup uji fisik, uji kimia, uji mikrobiologi, dan uji organoleptik.
Uji mikrobiologi merupakan salah satu uji yang penting, karena selain dapat
menduga daya tahan simpan suatu makanan, juga dapat digunakan sebagai indikator
sanitasi makanan atau indikator keamanan makanan. Pengujian mikrobiologi
diantaranya meliputi uji kualitatif untuk menetukan mutu dan daya
tahan suatu makanan, uji kuantitatif bakteri patogen untuk menentukan tingkat
keamanannya, dan uji bakteri indikator untuk mengetahui tingkat sanitasi
makanan tersebut (Fardiaz, 1993)
B. Uji
Salmonella
Salmonella merupakan kuman berbentuk
batang, tidak berspora, dan pada pewarnaan gram bersifat gram negative.
Mempunyai ukuran 1-3.5µm x 0.5-0.8µm. salmonella dapat tumbuh cepat pada media
yang sederhana tetapi mereka hamper tidak pernah memfermentasikan laktosa atau
sukrosa. Salmonella biasanya akan memberikan sifat positif dengan mengeluarkan
bau gas H2S dan adanya gelembung pada tabung reaksi. Dan salmonella
tahan dalam air yang membeku pada periode yang lama, dan salmonella pun tahan
terhadap bahan kimia tertentu.
Salmonella yang merupakan bakteri
gram negatif, dapat menyebabkan penyakit demam tifoid, yaitu penyakit infeksi
yang disebabkan oleh salmonella typhi atau salmonella paratyphi. Yang mempunyai
tanda – tanda khas berupa perjalanan yang cepat yang berlangsung lebih kurang 3
minggu disertai demam, toksemia, gejala – gejala perut, pembesaran limpa dan
erupsi kulit. Dan penyakit tifus (Typhus Abdominalis) adalah infeksi
penyakit akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam
lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. Selain itu Salmonella
mungkin paling dikenal sebagai penyebab keracunan makanan bakteri.
Salmonella banyak ditemui pada
makanan-makanan yang tidak dibuat atau diproduksi secara higiens, oleh karena
itu sebaiknya kita menghindari ataupun mengurangi makanan yang kurang higienis.
Bakteri
Salmonella ditemukan
pertama kali oleh Theobald Smith pada 1885 saat meneliti penyakit pencernaan
pada babi. Dengan menggunakan mikroskop, Smith menemukan sekelompok bakteri
berbentuk batang yang menyebabkan kematian hewan ternak tersebut.
Nama Salmonella sendiri baru diberikan
oleh Daniel Edward Salmon, rekan Smith yang melakukan penelitian
lebih lanjut terhadap jenis bakteri tersebut. Salmon menyimpulkan bahwa bakteri
salmonella termasuk dalam genus bakteri enterobakteria gram-negatif, berbentuk
batang, bisa bergerak bebas dan menghasilkan hidrogen sulfida, serta menjadi
penyebab timbulnya penyakit salmonellosis.
Salmonella merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan
panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih.
Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa
dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa.
Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella
resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium
tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform
dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja.
Salmonella digolongkan ke dalam bakteri gram negatif sebab
salmonella adalah jenis bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil
ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna
ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara gram negatif tidak.
Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal ditambahkan
setelah metal ungu, yang membuat semua gram negative menjadi berwarna
merah/merah muda. Pengujian ini berfungsi mengelompokkan kedua jenis bakteri
ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka. Banyak species bakteri
gram negative bersifat patogen ( penyebab penyakit) yang berarti mereka
berbahaya bagi organisme inang. Sifat patogen ini berkaitan dengan komponen
tertentu pada dinding sel gram negative terutama lapisan lipopolisakarida atau
dikenal sebagai endotoksin.
Salmonellosis
Bakteri Salmonella berkembang pada saluran
pencernaan binatang
seperti babi, sapi, dan ayam. Bakteri tersebut kemudian menyebar
melalui makanan hingga menginfeksi manusia. Tak
jauh beda dengan binatang, saat menginfeksi manusia, Salmonella bersarang di
saluran pencernaan, mulai dari lambung hingga usus halus. Umumnya, bakteri
Salmonella menimbulkan salmonellosis berupa penyakit tifus atau paratifus.
Seseorang yang terinfeksi bakteri Salmonella, akan
menunjukkan gejala berupa diare, kram perut, demam dan sakit kepala, mual, bahkan muntah-muntah. Suhu
tubuh pun tidak stabil dan cenderung tinggi. Dari masa inkubasi hingga
munculnya gejala pertama memakan waktu antara 8-72 jam. Salmonellosis pada
manusia cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Sangat fatal jika
menyerang bayi, balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia.
Suhu Hangat
Bakteri Salmonella berkembang baik pada suhu hangat. Karena itu, infeksi salmonella
lebih banyak terjadi pada musim panas. Biasanya, bakteri masuk ke dalam tubuh
manusia melalui media makanan
yang tidak dipanaskan dengan benar, misalnya: daging, ayam, telur, atau susu. Atau, bisa juga melewati makanan
mentah yang telah terkontaminasi bakteri.
Perkembangan bakteri Salmonella terbilang sangat cepat dan menakjubkan, setiap selnya mampu
membelah diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat dan pada media tumbuh
yang mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel bakteri
bisa berkembang menjadi 90.000 hanya dalam waktu 6 jam.
Membahayakan Nyawa
Salmonellosis terutama tifus dan paratifus yang menyerang manusia bisa membahayakan nyawa. Walaupun bakteri tersebut bisa
dihambat perkembangannya oleh asam lambung, tapi dalam kondisi tubuh seseorang
tidak dalam keadaan vit, atau terlalu lelah, asam lambung tidak mampu mengatasi
perkembangan bakteri tersebut.
Seseorang yang terkena salmonellosis biasanya mengeluarkan
banyak cairan karena diare dan muntah-muntah. Di sisi lain, nafsu makan dan
minum pun menurun drastis karena sensasi rasa mual. Kekurangan cairan yang berlebihan inilah yang
menjadi salah satu penyebab kematian.
Selain itu, Salmonella dengan mudah bisa berkembang dan
menular kepada orang lain. Sebab, bakteri tersebut terdapat pula pada sisa
kotoran, urine, dan muntahan penderita yang
dengan cepat bisa mengontaminasi air, udara, dan makanan di sekitarnya. Karena
itu, perlu kehati-hatian dan perhatian khusus agar jangan sampai bakteri
berkembang dan menulari orang lain. Caranya dengan menjaga kebersihan dan
hati-hati dalam mengonsumsi makanan.
Salmonella pada Telur
Salmonella berkembang pada saluran pencernaan ternak, tidak terkecuali pada ayam dan
telur. Ayam yang terinfeksi bakteri Salmonella bisa menyebarkan penyakit
tersebut lewat daging, telur, baik kulit maupun isinya. Karena itu, hendaknya
kita berhati-hati mengonsumsi telur sebab media inilah yang paling
banyak menularkan penyakit.
Saat ini, banyak makanan yang dikonsumsi mengandung telur
mentah atau setengah matang. Cara mengonsumsi makanan semacam ini sangat rawan
terpapar bakteri tersebut. Karena itu, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi
telur dalam kondisi matang dan melalui proses pemanasan yang baik agar
bakteri Salmonella di dalamnya mati.
Sebenarnya, secara alami, cangkang telur memiliki lapisan
yang melindungi isi telur dari paparan bakteri Salmonella. Namun, lapisan
tersebut hanya bertahan sekitar 10 hari. Belum lagi kalau lapisan pada
bagian luar cangkang tersebut rusak karena air atau cairan lain. Bakteri
Salmonella bisa menembus masuk ke dalam isi telur dan berkembang di dalamnya.
Mencegah Penularan
Untuk mencegah penularan Salmonella, sebaiknya jangan
mengonsumsi telur dalam keadaan mentah atau setengah matang. Panaskan terlebih
dahulu makanan yang hendak dikonsumsi dengan benar. Perlu diketahui bahwa bakteri Salmonella tidak mati hanya dengan
disimpan di dalam lemari pendingin, sebab bakteri tersebut
mampu bertahan di suhu dingin.
Mungkin Anda menyimpan daging atau telur di dalam lemari
pendingin, dan memanaskannya sebelum dikonsumsi. Tapi hendaknya diperhatikan,
segera buang bungkus daging dan telur tersebut begitu Anda mengeluarkannya dari
lemari pendingin. Jangan sampai bakteri yang melekat di atas benda-benda
tersebut kembali mengontaminasi daging atau telur yang sudah Anda panaskan.
Gunakan pisau potong yang berbeda untuk memotong daging
mentah dan daging matang yang hendak dikonsumsi. Kontaminasi silang semacam ini
sering terjadi, yaitu pisau yang digunakan untuk memotong daging mentah
terkontaminasi bakteri, lalu digunakan untuk memotong daging matang yang hendak
dikonsumsi. Akibatnya, Salmonella menempel pada daging matang tersebut dan kita
makan.
Selain itu, gunakan selalu alat-alat yang bersih dan steril. Cuci
barang-barang tersebut sebelum Anda menggunakannya. Kalau perlu, rebuslah dulu
dalam suhu mendidih agar bakteri benar-benar mati.
Patogenitas
Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (foodborne
diseases). Pada umumnya, serotipe Salmonella menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang
disebabkan oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah memakan
makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala lainnya adalah demam, sakit
kepala, mual dan muntah-muntah. Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S.
typhi, S. typhimurium, dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan
penyakit demam tifus (Typhoid fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang
disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi. Gejala demam tifus meliputi demam,
mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya
menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal
kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal
ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi
Salmonella dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan
yang dikonsumsi.
Media tumbuh
Untuk menumbuhkan Salmonella dapat digunakan berbagai macam media, salah satunya adalah media Hektoen
Enteric Agar
(HEA). Media lain yang dapat digunakan adalah SS agar, bismuth sulfite agar,
brilliant green agar, dan xylose-lisine-deoxycholate (XLD) agar. HEA merupakan
media selektif-diferensial. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna untuk menghambat pertumbuhan
bakteri gram positif dan beberapa gram negatif, sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella. Media
ini digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri
Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi laktosa yang paling tinggi. Salmonella tidak dapat
memfermentasi laktosa, sehingga asam yang dihasilkan hanya sedikit karena hanya
berasal dari fermentasi glukosa saja. Hal ini menyebabkan koloni Salmonella akan berwarna hijau-kebiruan karena asam yang dihasilkannya
bereaksi dengan indikator yang ada pada media HEA, yaitu fuksin asam dan bromtimol blue.
C. Uji Shigella
Penyebab penyakit
ada 2 macam :
1.
Disebabkan oleh parasit (amuba) disebut dysenteriae amuba
2.
Disebabkan oleh basil (bakteri) disebut dysentri basiler.
Hidup di
saluran pencernaan manusia atau hewan primata, dan beberapa spesies menyebabkan
sakit.
KLASIFIKASI
Ordo
: Eubacteriales
Famili
: Enterobacteriaceae
Genus
: Shigella
Spesies
: Shigella dysenteriae
Shigella boydii
Shigella flexneri
Shigella sonnei
MORFOLOGI
1.
Ciri-ciri khas organisma
a. Bentuk
batang ukuran 0,5 -0,7 um x 2-3 um ramping Gram negatip
b. Tidak
berkapsul
c. Umumnya
tidak bergerak
d. Tidak
membentuk spora
2.
Biakan
a. Aerob atau
fakultatif anaerob
b. Koloni
tampak konvex, bulat, transparan dengan pinggiran yang utuh
c. Ukuran 2-3
mm, tidak bewarna karena tidak meragi laktosa
d. Media
isolasi : Mac conkey, Salmonella-Shigella agar
e. Media
penyubur : Selenit
f. Uji biokimia
3.
Tes serologi
PEMBAGIAN SHIGELLA BERDASARKAN SIFAT BIOKIMIA DAN ANTIGEN
1.
Golongan A (Shigella dysenteriae )
Ditemukan oleh
Tn Shiga ( 1889 & 1901 ) , Tn Kruse (1900) dan Tn Schmitzii
( 1927 ).
Disebut juga Sh Shigae. Tidak meragi manitol. Berdasarkan antigen spesifiknya
dibedakan menjadi 19 type.
Gejala berat
karena dipengaruhi oleh endo dan eksotoksin yang bersifat neurotoksis, maka
diertai dengan suhu badan yang tinggi. Endotoksisn merangsang mukosa usus untuk
mengeluarkan cairan melalui rongga usus dalam jumlah besar sehingga menyebabkan
diare jarang terjadi dehidrasi. Eksotoksin bersifat kuat (poten ) dan
bertanggung jawab terhadap beratnya penyakit serta keadaan toksis penderita.
2.
Golongan B ( Shigella flexneri )
Berdasarkan antigen spesifik terdapat 6 type yang penting :
a. Sh. New castle memfermentasikan KH membentuk asam dan gas ( Gol
Shigella lain hanya membentuk asam )
b. Satu-satunya yang mempunyai fimbria (flagel)
c. Gejala yang
ditimbulkan lebih ringan dibandingkan gol A
3. Golongan C ( Shigella boydi )
Yang termasuk golongan ini ada 16 type . Penyakit yang
ditimbulkan lebih ringan
dari gol A tetapi lebih berat dari gol B
4. Golongan D (Shigella sonnei )
Sindrome yang
ditimbulkan lebih ringan dari gol lainnya hanya ada 1 type. Termostabil (550C
1 jam yang lainnya mati ). Kuman ini mempunyai 2 macam koloni yang R dan S
antigennya berbeda, fermentasi KH lambat (18-24 jam )
PATOGENESIS
Infeksi
peroral, bakteri masuk lambung melalui makanan dan minuman
Masuk kedalam usus halus kemudian colon disini ditangkap epitel kemudian
Berkembang
biak dan menyebabkan sel epitel hancur kemudian menyebar ke
Lamina propria,
bereplikasi disini. Akibatnya timbul ulcera-ulcera dan mikro abses mukosa kolon
pada bagian terminal ileum. Terjadi nekrosis, perdarahan dan pembentukan
psedomembran di atas ulcer . Akhirnya terjadi reaksi inflamasi dan trombosis
kapiler.
Berbeda dengan
Salmonella , Shigella tidak menyebar ke tempat lain. Adanya perdarahan kecil
menyebabkan tinja berdarah dan berlendir tetapi tidak terjadi perforasi dan
tidak terjadi peritonitis. Bila sembuh ulkus akan ditutup oleh jaringan granula
dan terjadi jaringan parut. Setelah sembuh secara klinis tinja yang
positip bisa menjadi carrier.
EPIDEMIOLOGI
Penularan melalui 6 F atau carrier. Di negara berkembang atau tropik, endemis
dapat menjadi wabah karena sanitasi yang buruk. Untuk pemberantasan :
1. Pengawasan sanitasi air, makanan,wash
disposal vektor
2.
Pengasingan penderita dan desinfeksi alat-alat
3.
Mencari kasus-kasus subklins
4.
Mencegah carrier state, obati dengan intensif
DIAGNOSIS
1.
Gejala klinik
Masa tunas 1-4
hari, kadang-kadang beberapa jam sampai 8 hari. Tiba-tiba akut sakit perut,
mulas, diare, demam terutama oleh Shigella dysenteriae , tinja
cair
Hanya berisi
lendir dan darah. Defekasi frekwen disertai tenesinus ( spasm, rectal ).
Terjadi dehidrasi, kemudian kegagalan ginjal dengan oliguria asidosis. Sembuh
meskipun ada zat anti tidak proteksi terhadap reinfeksi
2.
Pemeriksaan
laboratorium
Bahan
pemeriksaan : Tinja, rektal swab dll
D. Uji Staphylococcus Aureus
Staphylococcus aureus merupakan
bakteri berbentuk bulat yang terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, tetrad
atau berkelompok seperti buah anggur, jenis tidak bergerak, tidak berspora,
dengan diameter 0.7 – 0.9 um, famili micrococcaceae dan
termasuk gram positif.
Pembentukan kelompok pada
staphylococcus karena pembelahan sel terjadi dalam tiga bidang dan sel - sel
anaknya cenderung untuk tetap berada di dekat sel induknya.
Nama bakteri ini berasal dari bahasa
latin “ Staphele “ yang artinya anggur.
Beberapa spesies memproduksi pigmen
berwarna kuning sampai oranye, misalnya staphylococcus aureus.
50 % penduduk membawa staphylococcus
aureus dalam saluran pernafasan yaitu hidung dan kerongkongan. Daerah
penyebarannya meliputi udara, debu, bahan - bahan pakaian ( pakaian jadi,
tempat tidur dan kerajinan tangan ), lantai, air, sampah dan serangga.
Staphylococcus aureus biasanya masuk
ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsinya, tangan, kontaminasi
dan keracunan pangan oleh staphylococcus aureus dapat juga disebabkan
kontaminasi silang.
Organisme dengan mudah berpindah ke
kulit terutama tangan dan rambut. Staphylococcus juga biasa menginfeksi luka,
bisul dan luka terbuka. Organisme tersebut juga dijumpai pada hewan lembu dan
kambing serta dalam susu segar.
Staphylococcus aureus disebarkan
oleh pengelola pangan, selama pemasakan dan penyimpanannya. Penanganan pangan
dengan tangan yang tidak menggunakan peralatan memadai merupakan cara
penyebaran yang paling umum, terutama jika orang yang menangani pangan
mengalami infeksi atau luka pada tangannya. Batuk dan bersin dekat dengan
pangan dapat menyebabkan kontaminasi. Rambut yang jatuh pada makanan atau
menggantung ( terurai ) dekat dengan makanan juga dapat menimbulkan bahaya.
Sebagian besar pencemar staphylococcus
aureus berasal dari susu murni. Staphylococcus aureus dapat mencemari makanan
dalam penyimpanan bersuhu 40 C sampai 600 Cdalam jangka
waktu yang lama, proses pasteurisasi, pemanasan ultra tinggi dan pemasakan
normal tidak mampu merusak enterotoksin staphylococcus aureus, dikarenakan
relatif stabil dengan panas dan mampu bertahan pada pemanasan suhu air mendidih
100 0 C selama 10 menit.
Sifat –sifat
staphylococcus aureus
Bakteri staphylococcus aureus
mempunyai beberapa sifat yaitu :
1. Pathogen
adalah
menyebabkan penyakit tipe toksin.
2. Memproduksi enterotoksin
Enterotoksin
adalah toksin yang spesifik terhadap sel di dalam sel usus halus
dan
Menimbulkan
gejala keracunan makanan.
Toksinnya dapat
bertahan pada suhu air mendidih 100 0 C selama 10
menit.
Bakter
staphylococcus aureus mudah mati karena panas , pemanasan pada suhu 660
c
selama 10 menit.
3. Memproduksi koagulase
yaitu bersifat
menggumpalkan plasma.
4. Proteolitik, Lipolitik dan
betahemolitik
Proteolitik :
bersifat menguraikan protein menjadi asam amino ( senyawa Nitrogen )
Lipolitik : bersifat menghidrolisis lemak menjadi asam lemak
( penguraian molekul
dengan penambahan
air ).
Betahemolitik :
proses lisis yang sempurna menyebabkan perubahan nyata pada media
( jernih ).
5. Aerob fakultatif
yaitu mampu
tumbuh dalam lingkungan dengan atau tanpa oksigen ( O2 ).
Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus
Pengaruh lingkungan terhadap
pertumbuhan mikroba : panas, konsentrasi ion hydrogen ( pH ), adanya air,
oksigen dan cahaya mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Enzim dapat
mempercepat reaksi kimiawi.
PH (
Derajat keasaman )
Bakteri pathogen toleransi terhadap asam lebih kecil
-
Minimum : 4.0
-
Optimum : 6.0 – 7.0
-
Maksimum : 9.8 - 10
aW (
Water activity ) / kelembaban
Yaitu
banyaknya air dalam pangan yang tersedia untuk digunakan oleh m.o
-
Minimum : 0.86
-
Maksimum : 0.98
Suhu
Suhu / temperature merupakan faktor
fisis yang sangat penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap
pertumbuhan mikroorganisme. Sehingga perubahan temperatur akan berpengaruh
langsung terhadap sistim enzim bakteri. Pada suhu optimum pertumbuhan bakteri
berlangsung dengan cepat. Diluar kisaran suhu optimum, pertumbuhan bakteri
menjadi lambat atau tidak ada pertumbuhan. Suhu juga dapat mempengaruhi
pembentukan pigmen, ini berarti bahwa pigmen hanya dihasilkan bila diinkubasikan
pada suhu tertentu. Bakteri staphylococcus aureus termasuk mesofil, yaitu
mikroorganisme yang tumbuh cepat pada kisaran suhu 200C - 500C.
Kisaran suhu yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus adalah :
-
Minimum : 7 – 11 0 C, suhu
terendah dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.
-
Optimum : 37 0 C, suhu dimana enzim berfungsi
dengan sempurna / mikroorganisme tumbuh sempurna.
-
Maksimum : 48 0 C, suhu
tertinggi dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.
Nutrisi ( Makanan )
Semua
mikroorganisme memerlukan nutrient yang akan menyediakan :
Energi, biasanya diperoleh dari substansi mengandung karbon
Nitrogen untuk sintesis protein
Vitamin dan yang berkaitan dengan faktor pertumbuhan
Mineral
Ada 2 jenis nutrisi dasar , organisme dapat bersifat
heterotrofik dan autotrofik. Organisme heterotrofik mirip dengan hewan, karena
mereka memerlukan substansi organik komplek separti protein dan karbohidrat
untuk makanannya. Beberapa diantaranya dapat mempergunakan substansi dalam
upaya untuk memperoleh makanan yang diperlukan, sedangkan yang lainnya menuntut
lebih spesifik dan hanya tumbuh pada jenis makanan tertentu. Ada yang
mensintesis vitamin seperti bakteri yang terdapat dalam usus dan yang lainnya
harus memiliki vitamin yang mencukupi dari substrat. Keperluan vitamin pada
bakteri dan mikroorganisme tidak sama dengan manusia.
Tanda – tanda dan gejala keracunan Staphylococcus aureus
Keracunan makanan dari Staphylococcus aureus
disebabkan oleh racun yang diproduksi selama pertumbuhan dan perkembangbiakan
mikroorganisme tersebut dalam makanan. Racun yang telah ada di dalam makanan
apabila tertelan dapat mengiritasi permukaan lambung dengan sangat cepat,
antara lain dengan tanda – tanda :
1. Periode
inkubasi : 2 – 6 jam , yaitu waktu antara saat makanan tercemar dimakan dengan
munculnya gejala pertama.
2. Dosis toxic : 1
mg toksin ( 1 ng / g makanan ), yaitu jumlah racun yang dapat menyebabkan
keracunan.
3. Lama sakit : 24
jam , biasanya pasien dapat sembuh dari gejala – gejala keracunan dalam jangka
pendek sekitar 1 – 2 hari.
4. Gejala _gejala
: muntah – muntah berat, kram perut, diare terkadang sampai pingsan.
Pencegahan
atau upaya untuk mengurangi resiko keracunan oleh Staphylococcus aureus
Tindakan yang harus dilakukan oleh
pengelola pangan adalah :
1. Harus
dipelihara standar hygiene yang tinggi bagi setiap orang
2. Pangan yang
mudah menyebabkan keracunan oleh Staphylococcus harus disimpan dalam pendingin.
Analisis Staphylococccus
aureus
Untuk deteksi awal, ditujukan guna
mengetahui adanya Staphylococcus aureus pada bahan baku dan finished good .
Staphylococccus aureus tahan garam dan tumbuh baik pada medium yang mengandung
75 % NaCl serta dapat memfermentasi mannitol.Untuk melakukan analisa
mikrobiologi yang bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri Stsphylococcus
aureus dalam suatu contoh dipergunakan suatu media. Media diramu oleh ahli
mikrobiologi untuk menjaring dan membedakan mikroorganisme. Media yang
digunakan “ media selektif “, adalah media biakan yang mengandung paling
sedikit satu bahan yang menghambat perkembangbiakan mikroorganisme yang tidak
diinginkan dan membolehkan perkembangbiakan mikroorganisme tertentu yang ingin
diisolasi. Bahan yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme
adalah antibiotic.
Pengujian bakteri Stphylococcus
aureus dilakukan dalam 2 tahap, yaitu uji kualitatif dan uji kuantitatif.
Uji
kualitatif dimulai dengan tahap “ enrichment “ pada medium cair selektif
giolitti cantoni kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi dan isolasi
pada medium padat BPA ( Baird parker agar ) . Setelah tahap seleksi dan isolasi
dilanjutkan dengan identifikasi dan typing koagulase. Tahap enrichment pada medium
cair selektif Giolitti cantoni bertujuan untuk memperbanyak sel atau “
enrichment “. Pada tahap ini pada setiap contoh ditambahkan kalium tellurite
yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroba selain Staphylococcus
aureus.
Uji seleksi
dan isolasi pada medium padat selektif BPA yang diberi Egg yolk ( EY )
tellurite enrichment digunakan untuk mendeteksi staphylococcus aureus yang
bersifat koagulase positif di dalam contoh. Medium juga ini mengandung piruvat
dan glisin untuk merangsang pertumbuhan staphylococcus .
Mikroba tidak memiliki ciri anatomi
yang nyata, sehingga identifikasi bakteri didasarkan pada morfologi, sifat
biakan dan sifat biokimia. Pada tahap seleksi menggunakan BPA koloni yang
diduga staphylococcus aureus dapat diseleksi langsung dari cawan Petri berisi
medium selektif yang ditumbuhi koloni yang spesifik staphylococcus aureus.
Uji koagulase dan uji – uji biokimia
terutama ditujukan untuk membedakan staphylococcus yang bersifat pathogen (
Staphylococcus aureus ) dan non pathogen ( Staphylococcus epidermidis ). Uji
koagulase ini kebanyakan staphylococcus yang bersifat koagulase positif akan
menggumpalkan plasma dalam satu jam , apabila dalam satu jam belum menggumpal
dilanjutkan pengamatan setelah 3 jam . Uji dinyatakan positif staphylococcus
aureus meskipun penggumpalan yang terjadi hanya sedikit.
E.
Uji Clostridium
Clostridium adalah kuman berbentuk
anaerob, gram positif pembentuk spora. Banyak merusak protein atau membentuk
toksin, beberapa diantaranya melakukan keduanya. Tempat hidup kuman ini di
tanah tapi dapat hidup pada manusia atau hewan baik luka pada kulit atau di
usus. Kebanyakan saprofit di tanah, rumput, sampah, dsb. Beberapa yang pathogen
misalnya : Clostridium tetani dan Clostridium botulium.
Clostridium tetani adalah kuman
berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 µm. kuman ini berbentuk
spora dan termasuk golongan gram positif, dan hidupnya anaerob. Spora dewasa
mempunyai bagian berbentuk bulat yang letaknya di ujung, tampak seperti penabuh
genderang (drum stick). Kuman
mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula
akan membentuk kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada
pemanasan, yaitu pada suhu 65C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu,
dikenal juga tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti
dalam proses penyakit.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh toksin kuman Clostridium
tetani yang dimanifestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan
diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu Nampak pada otot
masester dan otot rangka.
Sejak jaman Hypocratus Aretus di
Yunani penyakit tetanus sudah dikenal, sedangkan penyebabnya baru diteliti pada
tahun 1884 oleh Tuan Carle dan Rattone. Mereka melakukan penelitian pada
kelinci, kemudian pada tahun 1884 Nalaire melakukan penelitian terhadap tikus
putih, marmot serta kelinci. Rosenbach 1886 dan Kitasato 1889 mlengkapi penelitian
selanjutnya dalam mengindetifikasi penyakit ini.
Clostridium tetani tersebar luas di
dunia. Hidup di tanah, kotoran kuda serta hewan lain. Beberapa tipe tetanus
dapat dibedakan dengan antigen flagel spesifik, semuanya mempunyai antigen O
yang tertutup dan menghasilkan toksin yang sama. Tempat hidup Clostridium
tetani sama dengan tempat hidup Clostridium yang lain yaitu : tanah, tinja
manusia, dan hewan yang tersebar di mana-mana.
Tetanus yang sungguh
sudah dikenal oleh orang-orang yang dimasa lalu, yang dikenal
karena hubungan antara luka-luka dan kekejangan-kekejangan otot fatal. Pada
tahun 1884, Arthur Nicolaier
mengisolasi toksin tetanus yang seperti strychnine dari tetanus yang hidup bebas, bakteri
lahan anaerob.
Etiologi dari
penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun 1884 oleh
Antonio Carle dan Giorgio Rattone, yang mempertunjukkan sifat mengantar tetanus untuk pertama
kali. Mereka mengembangbiakan
tetanus di dalam tubuh kelinci-kelinci dengan menyuntik syaraf mereka di pangkal paha dengan nanah
dari suatu kasus tetanus manusia yang fatal di tahun yang sama tersebut.
Pada tahun 1889, C.tetani terisolasi dari suatu
korban manusia, oleh Kitasato Shibasaburo, yang
kemudiannya menunjukkan bahwa organisme bisa menghasilkan penyakit ketika disuntik
ke dalam tubuh binatang-binatang, dan bahwa toksin bisa dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman
yang spesifik.
Pada tahun 1897, Edmond
Nocard menunjukkan bahwa penolak toksin tetanus membangkitkan kekebalan pasif di dalam tubuh manusia, dan bisa
digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan perawatan. Vaksin lirtoksin tetanus dikembangkan oleh
P.Descombey pada tahun 1924, dan secara luas digunakan untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh
luka-luka pertempuran
selama Perang Dunia II.
Karakteristik Clostridium
tetani
Clostridium tetani adalah bakteri berbentuk batang lurus, langsing,
berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini membentuk
eksotoksin yang disebut tetanospasmin. Kuman ini terdapat di tanah terutama
tanah yang tercemar tinja manusia dan binatang. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif anaerobic
berspora, mengeluarkan eksotoksin. Clostridium
tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin.
Tetanospaminlah yang dapat menyebabkan penyakit tetanus. Perkiraan dosis
mematikan minimal dari kadar toksin (tenospamin) adalah 2,5 nanogram per
kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk 70 kilogram (154lb) manusia.
Clostridium
tetani tidak menghasilkan lipase maupun
lesitinase, tidak memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa
juga tidak menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol
positif.
Spora dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan juga biasanya
terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave pada suhu
249.8°F (121°C) selama 10–15 menit. Juga resisten terhadap phenol dan agen
kimia yang lainnya. Secara ringkas, Morfologi dari Clostridium tetani yaitu, sebagai berikut :
1. Gram positif batang, bentuk vegetative mempunyai ujung
yang bulat.
2. Anaerob
3. Ukuran 2-5 x 0,5 µm
4. Gerak aktif, flagel peritrik, spora terminal
5. Tidak memfermentasikan dextrose, laktosa, sukrosa. Membentuk
gas pada medium Cooked meat
6. Mereduksikan nitrat
7. Gejala tegang pada tikus putih
8. Pada plat darah koloni tampak seperti benang kusut
(hal ini terjadi bila terkontaminasi dengan kuman lain), bila tidak ada
kontaminasi koloninya seperti proteus.
Patogenitas dan Patofisiologi
Clostridium tidak merupakan mikrorganisme yang invasif, kuman ini berada di
daerah luka yang anaerob tempat spora bersarang. Meskipun luka terlihat kecil
tapi penyakitnya berupa toksinia. Spora dan basil menghasilkan toksin di bantu
oleh kerusakan jaringan, garam kalsium, infeksi kuman lain. Toksin dapat sampai
ke susunan saraf pusat dan jaringannya sehingga menyebabkan kejang (tetanus)
dan mungkin juga terjadi penumpukan acetyl cholin.
Tetanus disebabkan neurotoksin
(tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani, dengan
mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh
yang mengalami cedera (periode inkubasi). Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit
penting yang manifestasi klinis utamanya adalah hasil dari pengaruh kekuatan
eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri, botulisme).
Bakteri Clostridium tetani ini
banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah
pertanian. Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang
berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal, tertanamnya benda asing atau
sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser
yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki yang
berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.
Cara penularan
Tetanus terutama ditemukan di daerah tropis dan merupakan penyakit infeksi yang
penting baik dalam prevalensinya maupun angka kematiannya yang masih tinggi .
Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang biasa mendatangkan kematian. Bakteri
ini ditemukan di tanah dan feses manusia dan binatang. Infeksi ini muncul (masa
inkubasi) 3 sampai 14 hari. Di dalam luka yang dalam dan sempit sehingga
terjadi suasana anaerob. Clostridium tetani berkembang biak memproduksi
tetanospasmin suatu neurotoksin yang kuat. Toksin ini akan mencapai system
syaraf pusat melalui syaraf motorik menuju ke bagian anterior spinal cord.
Jenis-jenis luka yang sering menjadi tempat masuknya kuman Clostridium tetani sehingga harus mendapatkan perawatan khusus adalah:
Jenis-jenis luka yang sering menjadi tempat masuknya kuman Clostridium tetani sehingga harus mendapatkan perawatan khusus adalah:
1. Luka-luka tembus pada kulit
atau yang menimbulkan kerusakan luas
2. Luka baker tingkat 2 dan
3
3. Fistula kulit atau pada sinus-sinusnya
4. Luka-luka di bawah kuku
5. Ulkus kulit yang iskemik
6. Luka bekas suntikan
narkoba
7. Bekas irisan umbilicus pada
bayi
8. Endometritis sesudah abortus
septic
9. Abses gigi
10. Mastoiditis kronis
11. Ruptur apendiks
12. Abses dan luka yang mengandung bakteri dari
tinja
Gambaran
Klinik
1) Masa inkubasi 4-5 hari, beberapa minggu
atau beberapa bulan
2) Adanya luka dan anaerob
3) Bakteri tetanus harus berkembang biak dan
membentuk eksotoksin, diperlukan waktu untuk pengikatan jaringan yang sensitive
terhadap toksin.
4) Toksin menjalan ke seluruh badab, bakteri
tetap pada luka asal, toksin sampai susunan saraf ousat dan menyebabkan kejang
pada otot, mulut susah dibuka (toksinnya hanya meyerang susunan saraf) meskipun
penderitanya tetap sadar.
5)
Kematian dapat mencapai 50%, biasanya karena kelumpuhan system saraf
pernafasan.
Clostridium
mengeluarkan eksotoksin, dapat di bentuk secara invitro pada media cair. Toksinnya
sangat termolabil karena itu harus di simpan pada tempat yang gelap dan bersuhu
rendah. Toksinnya sangat ganas sekali dan mematikan. Toksinnya terdiri dari dua
factor :
Tetano
spasmin menyerang sel saraf penderita
Tetanolisin
menghancurkan eritrosit manusia
Secara klinik, penyakit
tetanus dapat dibedakan yaitu :
1. Tetanus
local : jarang terjadi, biasanya terjadi pada orang yang kekebalannya tidak
sempurna atau karena spora yang masuk sedikit. Penyakit ini tidak begitu berat.
2. Tetanus
Neonatorum : terjadi pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir (kurang dari 10
hari), terjadi karena pemotongan tali pusat yang tidak steril. Gejalanya, bayi
tidak mau menyusui, gelisah, tangan mengepal, karena itu sebaiknya dilakukan
pencegahan :
a. Sebelum
kontak
Terhadap
tetanus Neonatorum dengan vaksinasi ibu hamil 2 kali dalam semester II dan III
dengan formotoksoid dan ATS.
Sebagai
dasar pengebalan pada anak-anak mulai umur 3 bulan tiga kali berturut-turut
dengan jarak 4-6 minggu dalam bentuk DPT. Sedangkan, Booster pada umur 2-3
tahun pada saat akan masuk sekolah dan selanjutnya tiap 1-2 tahun dengan
toksoid saja.
b. Setelah
kontak
Terjadi luka
tapi belum timbul gejala, pemberian toksoid dan ATS :
Ditinjau
dari status kekebalan dan sifat luka.
Dilakukantes
hipersensitiviti, bila akan diberi ATS 1000-3000 SI tergantung usia.
Sesudah timbul gejala :
Tanpa
mengindahkan sudah atau belum divaksinasi, eksotoksin harus dinetralisasi
dengan antitoksin dengan dosis 10000-80000 SI tergantung dari : keadaan
penderita, usia penderita dan ada tidaknya komplikasi.
Diagnosis Laboratorium dan Prognosis
Diagnosis tetanus ditegakan
berdasarkan gejala-gejala klinik yang khas. Secara bakteriologi biasanya tidak
diharuskan oleh karena sukar sekali mengisolasi Clostridium tetani dari luka
penderita , yang kerap kali sangat kecil dan sulit dikenal kembali oleh
penderita sekalipun.
Diagnosis tetanus dapat diketahui
dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa :
a) Gejala klinik : Kejang tetanic, trismus, dysphagia,
risus sardonicus (sardonic smile).
b) Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah
dilupakan.
c) Kultur : C. tetani (+).
d) Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.
Diagnosis
tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium yaitu :
1) Bahan pemeriksaan : potongan jaringan, PUS, hapus
luka, kotoran kuda atau hewan lain,bedak (talk).
2) Media : yang di perlukan Thyoglikolat agar, Agar
darah, gula-gula, Tarozi anaerob.
3) Direct preparat : pewarnaan gram, spora, Klien, Saffer
fulton.
4) Hewan percobaan : tikus putih, lakukan penyuntikkan
intra muscular dan amati sampai 7 hari. Tikus akan kejang mulai dari ekor.
Tikus mati karena toksin.
Tetanus memiliki angka kematian
sampai 50%. Kematian biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat
tua dan pemakai obat suntik. Jika gejalanya memburuk dengan segera atau jika
pengobatan tertunda, maka prognosisnya buruk.
Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dilakukan dengan :
1. Immunisasi toksoid
2. Perawatan luka dengan antiseptic
3. Pemberian antibiotic
4. Pemakaian antitoksin ubtuk pencegahan
5. Pembedahan daerah luka
6. Suntikan Booster Pengobatan
1) Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/ 12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C. tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan.
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/ 12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C. tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan.
2) Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar.
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar.
3) Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai
imunisasi dasar terhadap tetanus selesai
4) Antikonvulsan
Penyebab utama kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obat – obatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi. Contohnya :
Penyebab utama kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obat – obatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi. Contohnya :
Diazepam 0,5 – 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM)
Meprobamat 300 – 400 mg/ 4 jam (IM)
Klorpromasin 25 – 75 mg/ 4 jam (IM)
Fenobarbital 50 – 100 mg/ 4 jam (IM)
Pemberian ATS 10000-80000 SI
Fenolbarbital untuk mengurangi kejang.
Penicillin untuk mengurangi/mencegah infeksi lain dan membunuh
Clostridium tetani
Hati hati saat pemberian makanan, jangan sampai makanan masuk ke
saluran pernapasan (dapat menyebabkan pneumonia)
F.
Pengujian Zat Anti Mikroba Pada Makanan Awetan
Antibiotik ialah zat-zat yang
dihasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat dalam jumlah yang sedikitpun
mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain (Dwidjoseputro,
2005).
Menurut Dwidjoseputro (2005),
berdasarkan daya kerjanya, senyawa antibakteri dibagi menjadi dua sifat, yaitu:
1.
Zat yang hanya bersifat menghambat pertumbuhan bakteri tanpa membunuhnya.
Zat yang dapat membunuh bakteri (bakteriosidal).
Kebanyakan antibiotik yang efektif
kerjanya mengganggu sintesis, penyusuhan atau fungsi komponen-komponen
makromolekul sel. Seperti penghambatan pembentukan dinding sel oleh penisilin,
penghambatan sintesis protein oleh kloramfenikol (Irianto, 2006).
Menurut Irianto (2006), diantara
banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas antibiotik in vitro, hal-hal tersebut dibawah ini perlu diperhatikan, karena
sangat mempengaruhi hasil-hasil pengujian, yaitu:
a.
pH lingkungan.
b.
Komponen-komponen medium.
c.
Stabilitas obat.
d.
Takaran inokulum.
e.
Lamanya inkubasi.
f.
Aktifitas metabolisme mikroorganisme.
2.2
Desinfektan dan Antibiotik
Zat yang dapat membunuh bakteri
disebut desinfektan, germisida atau bakterisida. Pada umumnya bakteri yang muda
itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat
encernya konsentrasi, lamanya berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan
faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan temperatur menambah daya
desinfektan, selanjutnya medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu,
plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap
pengaruh desinfektan tertentu (Lutfi, 2004).
Hingga sekarang semakin banyak
zat-zat kimia yang dipakai untuk membunuh atau mengurangi jumlah mikroorganisme
dan penemuan-penemuan baru terus muncul dipasaran. Oleh karena itu, tidak ada
bahan kimia yang ideal atau yang dapat dipergunakan untuk segala macam
keperluan, maka pilihan jatuh pada bahan kimia yang mampu membunuh organisme
yang ada dalam waktu yang tersingkat dan tanpa merusak segala bahan yang
didesinfeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada desinfeksi secara kimia
(Lutfi, 2004):
1.
Rongga yang perlu cukup diantara alat-alat yang di desinfeksi. Sehingga seluruh
permukaan alat tersebut dapat berkontak dengan desinfektan.
2.
Lamanya desinfeksi harus tepat, alat-alat yang di desinfeksi jangan diangkat
sebelum waktunya.
3.
Sebaiknya menyediakan hand lotion
untuk merawat tangan setelah berkontak dengan desinfektan.
Berikut beberapa
contoh desinfektan dan antiseptik (Widjajanti,
1996):
a. Logam-logam Berat
Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat
mempresipitasikan enzim-enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam
berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari
logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba
dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak
kulit, merusak alat-alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal.
b. Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah
timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2-4%), daya
bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan
selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan
permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas
atau khasiat suatu desinfektan.
Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Lisol adalah
desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak
digunakan daripada desinfektan lainnya.
c. Alkohol
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk
sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan
dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel-sel
akan rusak, dan enzim-enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. Etanol murni
kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni, efeknya
menjadi lebih baik. Alkohol 50 -70% banyak dipergunakan sebagian desinfektan.
d . Aldehid
Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan
mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam
65-70% alkohol merupakan cairan pen-steril yang sangat baik apabila alat-alat
direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat
tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. Senyawa lain aldehid, yakni glutaraldehid merupakan solusi
se-efektif formaldehid, terutama bila pH-nya 7,5 atau lebih. Stafilokokus
dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit, Mycobacterium
tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit, sedangkan untuk membunuh spora
diperlukan 3-12 jam. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif
bagi manusia.
e. Yodium
Larutan yodium, baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat
antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum
proses pembedahan.
2.3 Metode
Uji Antimikroba
1. Metoda Difusi
Agar
Metode yang paling
sering digunakan adalah metode difusi agar yang digunakan untuk menentukan
aktivitas antimikroba. Kerjanya dengan mengamati daerah yang bening, yang
mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikroba
pada permukaan media agar. Metoda
difusi ini dibagi atas beberapa cara (Dwidjoseputro, 2005):
a.
Cara Silinder Plat
Cara
ini dengan memakai alat penghadang berupa silinder kawat. Pada permukaan media
pembenihan mikroba dibiakkan secara merata lalu diletakkan pencadang silinder
harus benar-benar melekat pada media, kemudian di inkubasi pada suhu dan waktu
tertentu. Setelah inkubasi, pencadang silinder diangkat dan diukur daerah hambat
pertumbuhan mikroba.
b.
Cara cakram
Cakram kertas yang
berisi antibiotik diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme
yang akan berdifusi pada media agar tersebut.
c.
Cara Cup Plat
Cara
ini juga sama dengan cara cakram, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan
mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi antibiotik yang akan di uji.
2. Metoda Dilusi
Metode ini mengukur MIC (minimum inhibitory concentration atau kadar hambat
minimum, KHM) dan MBC (minimum bactercidal concentration atau kadar
bunuh minimum, KBM). Caranya dengan membuat pengenceran antimikroba pada medium
cair yang ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji antibiotik pada kadar
terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan
sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM selanjutnya dikultur ulang
pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun antibiotik, dan diikubasi
selam 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi
ditetapkan sebagai KBM (Dwidjoseputro, 2005).
3. Metode Bioautografi
Merupakan metode
spesifik untuk mendeteksi bercak pada kromatogram hasil KLT (kromatografi lapis
tipis) yang mempunyai aktivitas antibakteri, antifungi, dan antivirus.
Keuntungan metode ini adalah sifatnya yang efisien untuk mendeteksi senyawa
antimikroba karena letak bercak dapat ditentukan walaupun berada dalam campuran
yang kompleks sehingga memungkinkan untuk mengisolasi senyawa aktif tersebut.
Kerugiannya adalah metode ini tidak dapat digunakan untuk menentukan KHM dan
KBM (Dwidjoseputro, 2005).
Daftar
Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar