LAPORAN
ANALISIS
INSTRUMEN
SEL
VOLTA
Nama:
Aura Siti Rahmawati
Kelas:
XI Analis 6
Kelompok:
15
Laboratorium
Instrumen
SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 BANDUNG
2016-2017
1. Tanggal
Praktikum: 03 Februari 2017
2. Judul
Praktikum : Sel Volta
3. Tujuan
Praktikum : Siswa dapat menentukan potensial sel dari sel
volta yang terdiri dari
kombinasi berbagai elektroda
4. Teori
Dasar :
Zn
Zn2+ (1M) ‖‖ Cu2+ (1M) Cu
Pada
sel volta katoda merupakan kutub positif dan terjai reduksi, sedangkan anoda
merupakan kutub negatif dan terjadi reaksi oksidasi.
Apabila
kedua logam (elektroda) tersebut dihubungkan dengan kawat, akan terjadi arus
listrik. Arus listrik ini dapat terjadi karena antara lempeng (logam) Zn dan Cu
terdapat beda potensial listrik yang disebut potensial sel. Potensial sel dapat
diukur dengan voltmeter.
Elektrokimia
adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia. Elemen yang
digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan dengan banyaknya
elektron yang dimiliki. Elektrokimia secara umum terbagi dalam dua kelompok,
yaitu sel galvani dan sel elektrolisis.Suatu sel elektrokimia terdiri dari dua
elektroda, yang disebut katoda dan anoda, dalam larutan elektrolit. Pada
elektroda katoda terjadi reaksi reduksi. Sedangkan reaksi oksidasi terjadi pada
anoda. Sel elektrokimia dapat dibagi menjadi
1.
Sel Volta / Sel Galvani merubah energi kimia menjadi listrik
Contoh
: batere (sel kering) dan accu
2.
Sel Elektrolisis à merubah energi listrik menjadi energi kimicom
Contoh
: penyepuhan, pemurnian logam
Dalam
sel volta, reasi redoks spontan digunakan sebagai sumber arus listrik. Sel
elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis,
listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks yang tidak spontan.
Sel
elektrolisis terdiri dari sebuah wadah, elektroda, elektrolit, dan sumber arus
searah. Elektron memasuki kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan
menyerap elektron dari katoda dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi lain
akan melepas elektron di anoda dan mengalami oksidasi. Jadi sama seperti pada
sel volta, reaksi di katoda adalah reduksi, dan reaksi di anoda adalah
oksidasi. Akan tetapi muatan elektrodanya berbeda. Pada sel volta, katoda
bermuatan positif, dan anoda bermuatan negatif. Pada sel elektrolisis, katoda
bermuatan negatif dan anoda bermuatan positif. Deret volta diurutkan
berdasarkan urutan potensial reduksi semakin ke kiri, semakin kecil sehingga
sifat pereduksi semakin kuat (logam semakin reaktif atau semakin mudah
meengalami oksidasi).
Potensial
elektroda standar suatu elektroda adalah daya gerak listrik yang timbul karena
pelepasan elektron dari reaksi reduksi. Karena itu, potensial elektroda standar
sering juga disebut potensial reduksi standar. Potensial ini relatif karena
dibandingkan dengan elektroda hidrogen sebagai standar. Nilai potensial
elektroda standar dinyatakan dalam satuan Volt (V). Untuk elektroda hidrogen,
E0 nya adalah 0,00V.
-
Bila Eo > 0 Ã cenderung mengalami reduksi (bersifat oksidator)
-
Bila Eo < 0 Ã cenderung mengalami oksidasi (bersifat reduktor)
Potensial
standar sel adalah nilai daya gerak listrik sel yang besarnya sama dengan
selisih potensial reduksi standar elektroda yang mengalami reduksi dengan
potensial reduksi standar elektroda yang mengalami oksidasi.
Eosel
= Eoreduksi - Eooksidasi
5.
Alat dan Bahan :
Alat:
- Gelas kimia
-
Voltmeter
-
Kabel/jepit buaya
-
Tabung U
Bahan:
- Agar
-
KCl
-
Elektroda Zn, Cu, Pb, Fe, karbon
-
Lar. Tembaga sulfat 0,1 M
-
Lar. Seng sulfat 0,1 M
-
Lar. Magnesium sulfat 0,1 M
-
Lar. Timbal asetat 0,1 M
-
Lar. Besi(ll) sulfat 0,1 M
-
Lar KI (ll) 0,1 M
-
Lar KBr 0,1 M
6.
Prosedur dan pengamatan:
No
|
Prosedur
|
Data
Pengamatan
|
1
|
Susunlah alat
|
|
2
|
Masukkan 50 ml larutan ZnSO4
kedalam gelas kimia, kemudian celupkan sepotong lempeng seng
|
ZnSO4 : larutan bening
Timbal(ll) asetat: bening, larutan
MgSO4 : larutan, bening
KI: bening, larutan
|
3
|
Masukkan 50 ml larutan CuSO4 kedalam gelas kimia, kemudian celupkan
sepotong lempeng tembaga
|
CuSO4 : biru, larutan
Br2 : bening, larutan
FeSO4 :bening, larutan
|
4
|
Hubungkan kedua larutan dengan
jembatan garam
|
|
5
|
Hubungkan kedua lempeng logam
menggunakan voltmeter. Catat !
|
Karbon: hitam, padatan
Cu: emas, padatan
Zn: emas, padatan
Fe: abu, padatan
Pb: padatan
|
6
|
Lakukan langkah 1-5
|
7.
Persamaan reaksi dan perhitungan:
a. Persamaan
reaksi:
b. Perhitungan:
A
Cu2+
Cu
|
B
Zn2+
Zn
|
C
Mg2+ Mg
|
D
Pb2+
Pb
|
E
Fe2+
Fe
|
F
KI I-
|
G
CBr2
Br
|
|
Cu2+
Cu
|
-0,18 V
|
-0,29V
|
-0,09 V
|
-0,11 V
|
1V
|
0,46 V
|
|
Zn2+
Zn
|
0,17 V
|
-0,10 V
|
0,10 V
|
0,09 V
|
1 V
|
1,35 V
|
|
Mg2+ Mg
|
0,30 V
|
0,10 V
|
0,15 V
|
-0,18 V
|
1,4 V
|
1 V
|
|
Pb2+
Pb
|
0,10 V
|
-0,10 V
|
-0,22 V
|
-0,01 V
|
0,74 V
|
0,24 V
|
|
Fe2+
Fe
|
0,11 V
|
-0,90 V
|
0,19 V
|
0,01 V
|
0,08 V
|
0 V
|
|
KI I-
|
0
|
-0,5 V
|
-0,12 V
|
0 V
|
-0,09 V
|
0 V
|
|
CBr2
Br
|
-0,5 V
|
-1,5 V
|
-0,74 V
|
-0,5 V
|
0 V
|
0,25 V
|
8.
Pembahasan:
Oleh karena dalam sel volta terjadi reaksi
redoks. Sehingga dibutuhkan jembatan garam untuk menyeimbangkan ion-ion yang
ada di dalam larutan. Zn dalam larutan ZnSO 4 (Zn2+ dan SO4 2- ) semakin
terlihat menipis karena teroksidasi. (massa logam Zn berkurang karena terlarut
sebagai ion)
Zn
à Zn 2+ + 2e .
sehingga,
ion Zn2+ semakin bertambah dalam larutan dan menyebabkan larutan bermuatan
positif (Zn2+ bertambah). Sedangkan, 2e hasil oksidasi akan mengalir ke larutan
CuSO 4 melalui kawat penghantar.
Cu
dalam larutan CuSO 4 (Cu 2+ dan SO4 2- ) semakin terlihat menebal karena ada
reaksi reduksi yang menyebabkan logam Cu mengendap. (Massa logam Cu bertambah)
Cu
2+ + 2e à Cu
sehingga
ion Cu 2+ semakin berkurang dalam larutan dan menyebabkan larutan bermuatan negatif
(SO4 2- lebih banyak).
Maka
dari itu, dibutuhkan jembatan garam (NaCl sebagai larutan elektrolit inert)
yang mengandung ion-ion positif dan ion-ion negatif karena berfungsi
menetralkan muatan positif dan negatif dalam larutan elektrolit. Na+ akan menetralkan
kelebihan ion SO4 2- dalam larutan CuSO 4 . Cl - akan menetralkan kelebihan ion
dalam larutan ZnSO 4 .
Berdasarkan
penjelasan diatas telah diketahui bahwa jembatan garam mengambil peranan
penting dalam sel volta. Yang bilamana kedua elektroda dihubungkan dengan
sebuah kawat yang nantinya akan terjadi energi listrik (menghasilkan energi
listrik), Jembatan garam juga berfungsi menjaga kenetralan listrik dari kedua
larutan tersebut. Jembatan garam menyebabkan elekton mengalir secara terus
menerus melalui kawat. Sehingga, jika jembatan garam tidak ada, maka tidak
dapat menghasilkan energy listrik, karena terhambatnya electron yang mengalir
melalui kawat.
Sel
Volta (sel galvani) memanfaatkan reaksi spontan (∆G < 0) untuk membangkitkan
energi listrik, selisih energi reaktan (tinggi) dengan produk (rendah) diubah
menjadi energi listrik. Sistem reaksi melakukan kerja terhadap lingkungan
Kedua
tipe sel menggunakan elektroda, yaitu zat yang menghantarkan listrik antara sel
dan lingkungan dan dicelupkan dalam elektrolit (campuran ion) yang terlibat
dalam reaksi atau yang membawa muatan.
Pemilihan
larutan elektrolit karena larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik yang
disebabkan adanya proses ionisasi. Sehingga, apabila larutan elektrolit diganti
larutan larutan non elektrolit, maka tidak terjadi redoks pada sel volta dan
juga tidak dapat menghasilkan arus listrik karena larutan non elektrolit tidak
dapat menghantarkan arus listrik karena zat terlarutnya di dalam pelarut tidak
dapat menghasilkan ion-ion (tidak mengion). Sehingga tidak dapat membawa
muatan.
Selain
dari tanda E0 sel ,keberlangsungan suatu reaksi dapat diperkirakan dengan
menggunakan deret Volta :
K
Ba Ca Na Mg Al Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb (H) Cu
Hg Ag Pt Au
Pada
deret Volta, dari kiri ke kanan makin mudah mengalami reaksi reduksi atau dari kanan
ke kiri makin mudah mengalami reaksi oksidasi. Logam-logam di sebelah kiri atom
H memiliki harga E° negatif. Adapun logam-logam di sebelah kanan atom H
memiliki harga E° positif.
9.
Kesimpulan:
Sel
volta merupakan suatu sel elektrokimia yang mengubah zat kimia menjadi energi
listrik.
Katode(+)
tempat terjadinya reduksi sedangkan pada anode(-) tempat terjadinya oksidasi.
Reaksi
redoks dapat berlangsung spontan jika potensial sel lebih dari nol.
Pada
voltmeter reaksi sel yang dapat berlangsung akan menunjukkan skala positif
(bergerak ke kanan). Jika reaksi tersebut di balik, skala akan bergerak ke kiri
dan tidak dapat terbaca. Besarnya skala dapat ditentukan menggunakan reaksi
yang dapat berlangsung dengan membalik tanda (+) menjadi (-).
Membandingkan
data dalam buku dan percobaan adalah hampir sama, tetapi ada selisih
dikarenakan adanya variabel.
10.
Daftar Pustaka:
https://ekaputri12.wordpress.com/2012/12/19/laporan-kimia-sel-volta/
http://myradardanger.blogspot.com/2013/09/laporan-kimia-sel-volta.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar